
Setengah jam Anna menunggu, Alan tak kunjung turun dari lantai atas. Apa saja yang dipersiapkan Alan sampai harus membuang waktu begitu lama? Anna semakin panik. Ia menaiki anak tangga untuk menjemput Alan. Saat ia baru saja sampai di ujung tangga atas, Alan sudah keluar kamar.
Anna terperangah menatap penampilan Alan yang terlihat berbeda dari terakhir kali ia meninggalkannya. Pria itu berpenampilan rapi, wangi, tentu saja baru saja selesai mandi. Mengenakan jas hitam dan dasi warna senada.
Ya ampun, masih sempat Alan mandi dan menukar pakaian, memakai parfum dan menyisir rambut bahkan mengolesi rambut dengan minyak setelah kejadian yang menegangkan itu? sudah sekian lama Anna menunggu di lantai bawah bersama kecemasan yang memebelenggu, namun Alan masih bisa melakukan sederet kehiatan konyol itu?
Dosa nggak ngejitak jidat suami? Oh ya ampun….
Anna malas mendebat dan mempertanyakan kenapa harus pakai acara mandi segala dan semua pekerjaan yang baru saja Alan lakukan, ia diam saja saat Alan menggandengnya kembali menuruni anak tangga.
“Andra, buruan siapin mobil!” titah Alan saat melewati Andra di teras.
“Sudah siap, Mas!” jawab Andra sembari berlari membukakan pintu mobil untuk Anna.
“Panggil Arni, suruh dia ikut!” titah Alan lagi.
“Siap, bos!” Andra berlari ke dalam rumah setelah membukakan pintu untuk Alan.
“Kenapa Arni harus ikut?” tanya Anna.
“Kita akan butuh Arni saat di kantor polisi nanti. Kan dia baby sisternya Azzam. Kamu tenang aja ya, jangan terlalu cemas, Azzam pasti akan kita temukan.” Alan meraih kepala Anna dan mengecup kening istrinya itu, berusaha memberi ketenangan.
Andra kembali bersama Arni. Arni duduk di jok paling belakang. Andra menyetir di bagian kemudi.
“Ndra, sesuai perintahku ya!” ucap Alan dan diangguki oleh Andra.
Sepanjang jalan, Alan menangkupkan wajah Anna ke dadanya. Berbagai macam kata-kata telah Alan ucapkan untuk menenangkan Anna yang sejak tadi terlihat begitu khawatir.
Anna cukup salut pada Alan. Ditengah situasi sepanik itu, Alan terlihat cukup tenang dan bahkan seakan-akan tidak ada kejadian apapun yang menimpa. Dia juga masih bisa menenangkan orang lain.
Andra membuka pintu mobil sesaat setelah mobil berhenti. Anna turun disambut oleh Alan. Pria itu merangkul pundak Anna penuh nuansa sayang.
Sejenak Anna terkesiap melihat tempat yang kini ia pijak.
“Loh, ini bukan kantor polisi, Mas. Ini rumah Papa William.” Anna mengedarkan pandangan heran, kenapa Alan malah membawanya ke rumah Papa William? Bukankah mereka akan mengurus hilangnya Azzam?
“Aku harus kasih tahu papa dulu soal Azzam, baru kita ke kantor polisi.”
Anna ingin membantah ucapan suaminya, kenapa harus mendatangi rumah mertuanya itu hanya untuk sekedar memberitahukan hilangnya Azzam? Apakah Alan tidak bisa memberi tahu melalui telepon saja? Mereka hanya akan membuang waktu dengan kegiatan itu. Namun Anna hanya bisa terdiam saat Alan menggeretnya memasuki rumah.
Sontak mata Anna membelalak melihat keluarga besar Alan yang berkumpul di ruangan luas itu, semuanya berdiri menghadap pintu, seakan-akan sudah tahu kedatangan Anna dan sedang menyambutnya. Semuanya menatap Anna dan Alan dengan sneyum lebar. Sungguh mereka adalah keluarga besar, sampai-sampai saat komplit berkumpul begini, ruangan luas hampir padat. Anna butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa mengenali nama dan wajah mereka.
TBC