Holy Marriage

Holy Marriage
Plis



“Anna!” Alan mengangkat kedua lengannya dan menyentuh pundak istrinya. Dia menjauhkan tubuh istrinya itu dari tubuhnya hingga pandangan mereka berjarak.


Kini, Alan menatap wajah Anna lekat-lekat. Manik matanya bergerak-gerak.


“Ini kan alasanmu menjauhiku, ini kan alasanmu memperlakukanku dengan buruk, dan ini juga alasanmu menyakitiku terus-terusan?” tukas Anna dengan suara gemetar. Air matanya merembes begitu saja, sangat deras. “Kalau itu alasanmu, maka kamu kalah. Kamu nggak berhasil.”


Alan menghela nafas. Dia terlihat tenang saja. Jemarinya sedikit meremas lengan Anna, kemudian mengusap-usapnya pelan. “Sejak kapan kamu tahu soal ini?” tanya Alan dengan lirih.


“Sejak kita pulang dari rumah sakit, dan kamu terbaring di sofa. Sikapmu berbeda. Lalu aku meninggalkanmu ke kamar Azzam. Dan saat aku berniat akan pindah kamar, dari lantai dua, aku melihatmu sedang berjalan sempoyongan dan sepertinya salah tujuan, aku hanya memperhatikan dari jauh sampai akhirnya kamu masuk kamar dan tertidur di kasur,” ucap Anna dengan mata berkaca-kaca.


Alan menatap lekat mata yang sudah berair.


“Apa kamu tahu? Aku menangis saat melihatmu terbaring dan tidak membuka mata saat kupanggil-panggil namamu. Bahkan kamu nggak juga terbangun saat kubangunkan untuk makan malam. Berkali-kali kubangunkan, kamu tetap tidak membuka mata.” Air mata Anna menetes-netes, ia membiarkan saja saat tetesan air mata semakin deras. “Apa kamu merasakan saat aku memelukmu dan menangis memamnggil namamu? Tidak, Mas Alan. Kamu sampai tidak sadarkan diri. Disaat bersamaan, Alta menelepon untuk mengabarkan jadwal meeting kepadamu, namun dia justru mendengar kabar dariku mengenai kondisimu yang tidak kunjung bangun. Saat itulah Alta datang bersama dokter pribadimu, dokter Alfian, juga Dhani asistennya. Mereka memeriksamu dan menunjukkan semuanya kepadaku.”


Anna terekat, tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Alan masih diam.


“Anna!” Alan meraih tubuh Anna dan memeluknya. Dia tidak menyangka jika akhirnya ia justru melihat air mata Anna sederas ini. “Inilah yang tidak aku inginkan saat kamu mengetahui semuanya. Aku tidak ingin melihat air matamu.” Perasaan Alan mengiba dengan kondisi yang ia lihat sekarang. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari pada melihat wanita yang dia cintai itu menangis terluka. Dan sekarang semuanya justru terjadi. Susah payah Alan menyembunyikan semuanya, tapi akhirnya ketahuan juga.


“Dokter bilang, kamu nggak mau dirawat. Katakan, kenapa kamu nggak mau dirawat? Kenapa kamu lebih memilih menjalani semua ini?” geram Anna.


“Suatu saat nanti, ajal itu pasti akan datang. Tidak sekarang, bisa nanti, besok atau lusa. Sama saja. Aku akan menemuinya. Aku tidak ingin menjalani hari-hari terakhirku sebagai orang sakit, aku ingin hidup normal seperti biasa, meski ini tidak normal.”


Anna sesenggukan dan tidak bisa membalas ucapan Alan. Tidak bisa dijelaskan dnegan kata-kata bagaimana sedihnya hatinya saat harus melalui hari-hari terakhir bersama orang yang sangat dia cintai.


“Plis.. jangan katakan apa pun!” bisik Anna.


“Kamu adalah wanita hebat, kamu masih muda dan cantik. Tidak ada yang tidak bisa kamu lalui, semuanya akan mudah bagimu meski tanpa aku. Kamu harus yakin itu.”


“Cukup! Jangan bicara apa pun!” Anna memundurkan tubuh, lalu menutup mulut Alan dengan telapak tangannya.


TBC