Holy Marriage

Holy Marriage
Risau



Baru saja hati Anna bersorak gembira, tapi kegembiraan mendadak lenyap ketika berpapasan dengan Reno di depan kafe. Bukan kehadiran Reno yang membuat Anna mendadak risau, tapi seseorang di sisi Reno, tak lain Cintya. Entah kenapa Anna merasakan sesuatu yang aneh lolos dari dalam hatinya melihat kemunculan Cintya. Gadis itu pasti ingin menemui Alan. Bagaimana bisa Cintya mengetahui keberadaan Alan jika bukan Alan yang memberitahu? Kenapa perasaan Anna kian risau? Apa yang terjadi dengannya?


“Alan, akhirnya kita ketemu juga.” Cintya tersenyum menatap Alan.


Alan mengangkat alis tanpa berekspresi.


Anna terdiam melihat situasi di depan mata. Suaminya ketemuan dengan gadis lain. Jika Alan menatap Anna lekat-lekat, Alan pasti sadar kalau wajah istrinya sedang merengut. Anna hanya bisa terdiam ketika melihat Cintya tertawa lepas bersama Alan. Apa setelah ini Alan akan pergi bersama Cintya?


“Anna, boleh kupinjam Alan sebentar?” tanya Cintya.


Anna tergagap mendengar pertanyaan yang rasanya sangat tajam mengenai jantungnya.


“Boleh.” Anna terpaksa menjawab begitu.


“Makasih, Anna. Aku laper dan ingin makan bareng Alan.”


Anna termenung. Pliiis.. Alan, tolak dong permintaan Cintya. Tolong jangan setujui ajakan Cintya. Anna memohon dalam hati.


“Oke. Kutemenin kamu makan,” jawab Alan membuat Anna merasa semakin sesak.


“Aku juga laper,” sahut Reno tanpa diminta. “Gimana kalau kita makan bareng malem ini? Rame-rame kan enak.”


Alan dan Cintya bertukar pandang.


Belum sempat Alan menjawab, ponsel Reno berdering dan seseorang di seberang sana memberitahukan ada pekerjaan kantor yang urgent dan perlu ditangani. Terpaksa Reno pergi sambil menggerutu.


Sekarang Anna harus kemana? Apakah ia menunggu di mobil? Atau jalan-jalan sendirian saja?


“Anna!”


Anna mendongakkan wajah mendengar suara memanggilnya. Cintya melambaikan tangan ke arahnya.


“Kemarilah! Temani aku makan!” ajak Cintya setengah berteriak.


Akhirnya Cintya sadar sudah melupakan Anna. Tapi kenapa malah Cintya yang mengingat Anna? Kenapa bukan Alan yang memanggilnya? Sepertinya Anna memang harus jujur, bahwa sebenarnya ia benar-benar telah cemburu.


Anna kemudian menggeleng sambil melempar senyum. “Enggak, deh. Kalian pergi aja.” Anna membalikkan badan dan berjalan menjauh. Namun langkahnya terhenti ketika sentuhan hangat melingkar di pergelangan tangannya. Dan itu adalah telapak tangan Cintya.


“Ayolah, aku nggak enak kalau mesti makan berdua sama Alan tanpa kamu.” Cintya tersenyum menatap Anna. “Masak sih aku ngambil Alan darimu dan ngebiarin kamu menyendiri. Jangan biarkan aku keliatan jahat, Anna. Yuk, ikut denganku.”


“Nggak pa-pa, kok. Kalian pergi aja. Aku nggak mau ngeganggu. Lagian, aku udah makan soalnya.”


“Alan juga udah makan bareng kamu tadi, tapi nggak ada salahnya kan kalo kalian nemenin aku. Plis, deh. Jangan tolak aku.” Cintya menarik tangan Anna hingga tubuh Anna tergeret mengikuti Cintya yang berjalan memasuki kafe.


Bagi Anna, tidak salah Cintya bersikap demikian terhadapnya. Setahu Cintya, Anna tidak punya perasaan apapun terhadap Alan, begitu juga sebaliknya, Alan tidak punya rasa cinta terhadap Anna.


TBC