Holy Marriage

Holy Marriage
Satu Kebodohan



Suara dering ponsel membuat tangan Alan langsung merogoh ponsel di saku celananya. Salah seorang anak buahnya menelepon.


“Ya, halo!” Dahi Alan mengernyit mendengar kata-kata anak buahnya. “Kau yakin? Nggak salah lihat?”


Alan kembali memasukkan ponsel ke saku celananya. Kemudian menatap Cintya dan berkata. “Aku pergi.”


Dengan langkah lebar dan setengah berlari, Alan meninggalkan rumah.


Kedatangan Alan yang mendadak dan kepergiannya yang aneh, membuat Cintya dan Rafa bertukar pandang bertanya-tanya.


***


Sepanjang perjalanan, Alan terngiang kata-kata anak buahnya yang memberi informasi bahwa Anna sekarang berada di rumah William. Berkali-kali Alan mengusap wajah kasar. Bagaimana mungkin ia tidak tahu Anna berada di rumah orang tuanya sendiri? Kenapa batinnya tidak peka? Ia tak henti-hentinya mengumpati diri sendiri.


Semakin dekat jarak mobilnya dengan rumah William, jantungnya semakin keras berdetak. Jika ia sampai di rumah nanti, mungkin jantungnya akan meledak. Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah William sekarang. Apakah mungkin Anna mengadu pada William? Jika benar dia mengadu, habislah Alan. Ia pasti akan mendapat masalah baru.


Alan setengah berlari memasuki rumah sesaat setelah ia memarkirkan mobil di halaman. Ruangan depan dihuni oleh Wiliam, Laura dan Stefi yang sontak menoleh ke arahnya begitu ia melewati pintu. Bola matanya sekilas berputar mencari Anna. Tapi yang dicari tidak ada di sana.


Perasaan Alan mulai tidak nyaman saat matanya beradu pandang dengan Wiliam. Sorot mata Papanya tajam, dan Alan sadar bahwa Papanya sedang memendam amarah.


“Pa, Anna mana?” tanya Alan seakan-akan tidak mau tahu dengan emosi yang terpancar di wajah Papanya.


“Alan, bisa-bisanya kamu bertanya dimana istrimu?” Suara William yang datar namun mengguntur membuat Stefi menunduk takut. “Kamu tahu apa yang terjadi dengan Anna?”


“Papa melihatmu menurunkan Anna di jalan dan dia menangis setelah itu.” William geleng-geleng kepala keheranan dengan sikap Putera semata wayangnya yang menurutnya berada di luar garis normal.


Alan mengingat-ingat BMW hitam yang berada di belakang mobilnya saat ia menurunkan Anna. Dan ya ampun, ia baru sadar jika itu adalah mobil Papanya. Ia tidak ngeh karena menurutnya mobil BMW di Jakarta itu banyak. Sialnya, ia kepergok menurunkan Anna di tengah jalan oleh Papanya sendiri. Sekarang ia siap menerima kemungkinan buruk yang mungkin bisa terjadi.


“Kenapa kamu bisa setega itu terhadap wanita yang selama ini kamu inginkan?” William menggertakkan gigi. “Sejak awal pernikahanmu, Papa tidak mengerti dengan sikapmu yang kerap memperlakukan Anna dengan buruk. Sikapmu justru aneh dan membingungkan. Ini sudah kelewatan, Alan. Papa menyesal menikahkanmu dengan Anna. Dia terlalu polos untuk menangisimu.”


“Kedatanganku ke sini untuk menjemput Anna dan aku akan menebus semua kesalahanku. Papa nggak akan pernah ngerti kalau kujelasin.”


“Sebenarnya niatmu menikahi Anna itu untuk apa?”


Alan tidak menjawab. Sulit mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Dan jika ia bicara panjang lebar tentang semua yang ia rasakan, mungkin Papanya tidak akan bisa menangkapnya dengan logika.


“Kalau kau tidak mencintainya, lepaskan dia!”


“Pa, ....”


“Kau mencintainya?” tanya William sebelum Alan melanjutkan kata-katanya.


“Aku mencintainya,” jawab Alan dan Wiliam meneliti cinta yang Alan rasakan melalui tatapan matanya. Alan segera mengalihkan pandangan mendapat tatapan penuh penelitian dari Papanya.


TBC