
“Jadi mau pakai nama yang mana?” tanya Laura memperhatikan dua sejoli yang kini saling bertatapan dan membisu.
“Entar aja dipikirin,” celetuk Clarita. “Sekarang kita makan, yok. Laper.” Clarita berlari menuju dapur.
Disusul yang lainnya yang juga menuju dapur.
“Ayo, kita makan!” ajak nenek pada Anna yang masih bengong duduk di sofa.
“Enggak, Nek. Aku masih kenyang.”
“Lhooo… Bumil harus banyak makan biar sehat. Nanti anemiamu kambuh lagi.”
“Nenek tau aja aku kena penyakit kronis itu.”
“Ya sudah, ayo makan!” Nenek menarik-narik lengan Anna memaksa.
Alan yang melihat Anna malas bergerak, akhirnya angkat bicara. “Nggak usah dipaksain, Nek. Liat deh muka Anna pucet. Dia tuh capek, butuh isitirahat. Biar kuanter ke atas aja untuk istirahat.”
“Nah, berarti istrimu pucet gara-gara kamu tuh.” Si nenek malah nyolot pada Alan.
“Loh, kok aku?”
“Kamu berapa kali senam ranjang sama istrimu? Dia kecapekan jadinya.”
Pertanyaan nenek membuat Alan terbelalak sekaligus mukanya memerah. Si nenek hari gini ngebahas hal begituan? Hadeeh….
“Itu harus dikurangi dalam kondisi istrimu yang lagi hamil begini. Jangan diulangi,” lanjut nenek yang terus merepet hingga ia berjalan menuju dapur.
Alan dan Anna bertukar pandang lalu sama-sama tersenyum. Hanya tinggal mereka berdua saja di ruangan itu. Yang lainnya sudah ke dapur semua.
“Kamu yakin nggak mau ikut makan?” tanya Alan selembut mungkin. Ia berjongkok di hadapan Anna yang duduk di sofa.
Alan menatap wajah lelah istrinya. Tanpa bertanya pada tuannya, ia langsung membopong tubuh Anna dan membawanya menaiki anak tangga. Sontak saja Anna memberontak minta dilepaskan.
“Mas, apa-apaan, sih? Jangan gendong-gendong gini, iiiih… Malu kalau ketauan orang-orang.”
“Nggak ada yang liat.” Alan cuek tanpa memperdulikan mulut Anna yang terus merepet.
“Kalau kamu lakuin ini di rumah kita, nggak pa-pa. Jangan di sini, kalau diliat Mama atau Papa kan malu.”
“Udah, diem aja. Sekarang kita udah hampir di puncak tangga, dari sini ke lantai bawah lumayan loh. jangan gerak-gerak terus, entar kita guling bareng.”
Terpaksa Anna menuruti dan diam. Ia memilih melingkarkan kedua tangannya di leher Alan. Anna selalu kalah jika untuk urusan yang begitu.
Alan membawa Anna memasuki kamar yang sudah berbulan-bulan tidak pernah ditempati. Alan menutup pintu dengan cara mendorongnya dengan kaki hingga menimbulkan suara hentakan keras.
Anna melepas napas lega setelah tubuhnya diletakkan ke atas ranjang.
“Makasih, Mas. Pengertian banget nyuruh aku istirahat.”
“Siapa bilang?” Alan melepas kemejanya dan melempar ke sembarangan arah. Ia melompat naik ke ranjang. “Olah raga,” ucapnya sembari mengerlingkan sebelah mata. Kemudian dengan gesit membuka jilbab Anna. Rambut hitam Anna yang terlepas dari ikat rambut dan kini tergerai membuat mata Alan semakin terlihat menyala.
Astaga. Pantas saja nenek Alan mengingatkan Alan tadi, ternyata Alan memang kelewat mesum.
“Nggak inget pesen nenek tadi, Mas?”
“Hehee….” Alan langsung menenggelamkan wajahnya di perut Anna. “Aku bangga sama kamu, sayang. Ketika aku merasa imanku menjadi lemah dan akhirnya ngelakuin hal-hal yang menyimpang, kamu ada di sisiku untuk mengingatkanku, meluruskanku.”
Anna tersenyum, suaminya bicara begitu serius. Ia mengusap kepala suamianya dengan lembut, membiarkan situasi romantis itu berlangsung cukup lama.
TBC