Holy Marriage

Holy Marriage
Bad Mood



“Tumben Tuan meminta saya untuk menjemput dari kantor? Ada apa? Biasanya, selagi di seputaran kota, Tuan menyetir sendiri?” tanya Andra yang merasa penasaran kenapa bosnya minta jemput malam itu.


Alan tidak menjawab. Dia memejamkan mata, menahan rasa sakit yang begitu dahsyat di kepalanya. Dahinya mengernyit, dia menahan supaya tidak mengerang.


Andra akhirnya membungkam karena sejak tadi pertanyaannya tidak dijawab oleh bosnya. Sepertinya bosnya sedang bad mood. Pun bosnya itu terlihat setengah berbaring di jok belakang dengan mata terpejam.


Mobil sudah sampai di halaman rumah, Alan masih duduk diam dengan mata terpejam menahan rasa sakit yang menyerang. Sungguh sakit sekali kepalanya. Rasanya seperti akan pecah.


Radang selaput otak. Alan ingat saat dokter mengatakan sakit yang dia derita. Biasanya disebabkan oleh infeksi. Kondisinya kitis. Perlu perawatan maksimal karena sudah darurat, stadium empat. Waktu bertahan tidak akan lama lagi. Sepertinya pengobatan pun hanya akan berefek tipis.


Alan sungguh ingat penjelasan dokter. Kenapa sudah sampai separah ini baru ketahuan kalau dia menderita sakit? Lalu pengecekan secara berkala yang dia lakukan dengan dokter sebelumnya itu seperti tidak ada gunanya? Bahkan tidak terdeteksi sedikit pun sakit itu oleh dokter pribadi di keluarga besarnya. Percuma dia membayar mahal dokter hebat lulusan luar negeri yang diacungi jempol dan mendapat banyak penghargaan dari segala pihak jika prestasinya pun nihil.


Alan ingin mengganti dokter keluarganya dengan dokter lain saja, tapi dia takut ayahnya akan mengajukan banyak pertanyaan kepadanya dan akhirnya justru sakitnya itu ketahuan.


Alan tidak menyangka jika ternyata usianya tidak akan lama lagi. Seseorang yang sudah diberitahukan sejak awal kalau umurnya tidak panjang dan hanya akan bertahan beberapa bulan saja, tentu hidupnya pun sudah tidak semangat lagi.


Alan sudah membayangkan akan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa, yang kemudian akan menggiringnya kea lam gelap. Kenapa hidupnya berbalik menjadi sangat menakutkan? Saat ini, Alan sedang berusaha memotivasi diri untuk tetap semangat hidup menjalani sisa umurnya.


“Tuan Alan!”


Alan membuka mata dan menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia mendapati Andra di sisinya, supirnya itu membukakan pintu untuknya.


Alan turun dari mobil dengan gerakan pelan.


“Apa Tuan baik-baik sjaa?” Tanya Andra yang melihat Alan tidak bersemangat seperti biasanya.


Alan menggeleng. “Aku tidak apa-apa.” Ia melangkah menuju ke rumah.


Selama ini, Alan selalu berusaha menunjukkan kondisi tubuhnya yang sehat di hadapan semua orang dengan menyembunyikan ekspresi saat menahan rasa sakit. Tapi, semakin ke sini, dia merasa semakin tidak sanggup menyembunyikannya.


Alan memasuki rumah dan menaiki anak tangga.


“Mas Alan!” panggil Anna, wanita itu duduk di ruangan yang dilintasi oleh Alan. Anna meletakkan majalah yang dia baca.


“Hm,” jawab Alan tanpa menoleh. Dia sedang menahan rasa sakit di kepalanya. Rasanya… sakit sekali. Dia ingin segera merebahkan tubuh.


“Aku sudah memasak bersama Rina tadi, aku menunggumu makan malam. Kita makan bersama, yuk. Tadi sore aku kan udah bilang supaya kamu jangan makan di luar, jadi kita bisa makan bersama malam ini.”


“Tidak. Aku lelah. Aku mau tidur saja.” Alan melanjutkan langkah kakinya.


Anna mendengus. Dia ingat sore tadi menelepon Alan dan meminta supaya Alan tidak makan di luar karena dia sudah memasak untuk Alan. Permintaannya itu disetujui Alan.


Anna mengejar Alan hingga sampai ke kamar. Dia melihat suaminya itu merebahkan tubuh ke kasur dan memejamkan mata.


“Mas Alan, kalau tau kamu Cuma mau tidur begini, harusnya kamu nggak menyetujui permintaanku tadi. Aku kan kecewa jadinya. Kamu sekarang bener-bener nyebelin.” Anna berdiri di sisi kasur dengan kedua tangan menyilang di dada.


Alan terus memejamkan mata tanpa merespon perkataan Anna.


Iya, sayang. Aku sangat mengerti dengan kekecewaanmu. Maaafkan aku. Batin Alan yang bicara.


TBC


.


.


.