Holy Marriage

Holy Marriage
Muka Datar



Alan melangkah maju, Anna pun mundur. Gerakan Alan begitu cepat, hingga saat Anna sudah balik badan hendak kabur, tangan kokoh itu sudah menggenggam tangan Anna.


Sial! Kena gue! Anna deg-degan.


“Masuk!” Alan menarik tangan Anna.


Tentu saja Anna terseret mengikuti tarikan tangan Alan, tenaga Alan jauh lebih kuat dibanding Anna meski gadis itu meronta ingin melepaskan diri.


Ya ampun, Alan mau ngajak dinner apa mau ngajakin berantem sih? Kok, main paksa gini? Anna semakin panik.


Alan jauh lebih panik membayangkan keluarga besarnya yang sudah jamuran menunggu kehadirannya di rumah. Ia terpaksa bertindak demikian.


“Lepasin! Atau aku teriak penculik!” ancam Anna berhasil membuat Alan menoleh dan menatap Anna semakin geram.


“Aku calon suamimu, bukan mau menculikmu.”


“Tapi aku nggak mau ikut kamu. Pokoknya nggak mau! Aku beneran teriak kalau kamu nggak mau lepasin.”


Spontan Alan melepas tangan Anna. Ucapan Anna membuat Alan merasa terancam, nama baik menjadi taruhannya. Image-nya bisa rusak jika Anna benar-benar melakukan ancamannya. Wajah Alan yang putih langsung memerah.


Anna mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah, genggaman tangan Alan terlalu kuat membuat rasa nyeri menjalar di pergelangan tangan mungilnya. Anna menatap Alan yang tengah menatapnya sangat tajam.


Kemudian Anna menunduk, lalu balik badan dan pergi. Sudahlah, Anna ingin pulang saja. Ia berjalan gontai menelusuri trotoar. Angin malam terasa sejuk membelai betisnya, lengan tangannya, juga wajahnya. Kulitnya meremang merasakan hawa dingin yang merayap di sekujur tubuh.


Langkah kaki Anna memelan saat merasakan sesuatu yang janggal, seperti ada yang mengikutinya. Ia mempercepat langkah, namun langkah di belakangnya juga semakin cepat.


Celaka! Bagaimana jika yang menguntitinya sekareang adalah preman jalanan? Bisa berabe jika ia dianu-anuin. Ia lebih cepat lagi melangkah, namun tangan besar sudah duluan meraih pundaknya, membuatnya dengan gesit melayangkan tangan dan menonjok ke sembarang arah. Tepat sasaran, tonjokannya mengenai hidung si penguntit.


“Mas Alan?” jerit Anna setengah kaget melihat lubang hidung Alan mengeluarkan darah.


***


Anna membersihkan darah di hidung Alan dengan sapu tangan, kemudian ia mengompres hidung Alan yang lebam dengan es.


Alan memutar mata dan kini menatap mata bulat Anna, dengan segera Anna mengalihkan pandangan. Mata Alan yang gelap itu tidak baik untuk ditatap, Anna selalu gugup dan deg-degan setiap kali bersitatap dengan mata itu.


Mereka kini duduk di sebuah kursi taman tepi jalan.


“Kenapa kamu ngikutin aku?” lirih Anna.


“Bisa nggak kompresnya yang bener?”


Anna mendongak. Terkejut saat melihat es batu berbalut sapu tangan itu tidak berada pada yang seharusnya. Bukan hidung Alan yang sedang Anna tekan-tekan dengan es batu, melainkan mata kanan Alan.


“Maaf.” Anna mengembalikan posisi es ke tempat semula.


“Aku hanya ingin memintamu kembali ke mobil.”


“Tapi aku nggak mau ikut sama kamu.”


“Lalu kenapa kamu harus ngeloyor pergi?”


“Aku mau pulang.”


“Haruskah pulang sendirian?”


“Aku bisa sendiri.”


“Jangan membuatku merasa sangat buruk di hadapan ayahmu. Di hadapan siapaun, aku nggak mau kelihatan buruk. Anna, aku yang menjemputmu ke rumah, bukan? Lantas, dengan ngebiarin kamu pulang sendirian, apa aku nggak akan dicap sebagai pria nggak bertanggung jawab?”


Anna melipat dahi melihat ekspresi Alan yang datar. Alan tidak berbicara dengan nada marah, tapi mukanya selalu datar. Hampir Anna tidak bisa menebak apa yang Alan rasakan, apakah dia sekarang sedang marah, kesal, sebal, santai, atau galau?


TBC