
Joli menghempaskan lengannya hingga pegangan tangan Anna di kemejanya terlepas. “Jangan pegang-pegang gue!”
“Lo yang udah mesum sama Rafa tapi malah balik nuduh gue yang berbuat kayak gitu. Ambil tuh si Rafa, gue nggak butuh cowok cemen kayak dia.”
“Ngenes banget lo ditinggal pacar.”
Dada Anna semakin sesak mendengar perkataan Joli. Dengan gesit tangannya meraih kerah kemeja Joli dan mencengkeramnya kuat-kuat.
Duez!
Anna menonjok kening Joli. Joli membalas perlakuan Anna dengan melayangkan tamparan, namun hanya mengenai angin karena Anna gesit berkelit. Terjadilah saling tonjok. Keduanya saling dorong hingga tubuh mereka menghentak ke meja-meja yang ada di sekitar. Seketika meja kantin menjadi berantakan.
Anak-anak yang menyaksikan aksi itu malah heboh layaknya sedang menonton tinju.
Tubuh Joli terguling ke lantai setelah sebelumnya kepalanya terantuk sudut meja dan Anna berada di atasnya. Anna memukuli pipi Joli berkali-kali. Tidak puas sampai disitu, Anna meninju hidung Joli hingga keluar darah segar dari lubang hidung yang ditinju.
Di mata Joli, Anna lebih mirip seperti hulk yang sedang ngamuk mengerahkan tenaga untuk menghajar musuh.
Sementara Bik Narti tampak kebingungan melihat perkelahian sengit yang terjadi di kantinnya. Ia berlari kesana-kemari meminta agar ada yang memisahkan, tapi tidak seorang pun yang mau bertindak.
“Biarin aja, Bik. Lagi seru-serunya ini.” Salah seorang cowok berujar menanggapi Bik Narti yang kebingungan.
Perkelahian pun terhenti ketika seorang guru lelaki memasuki kantin.
Anna duduk menghadap Pak Firdaus, Kepala Sekolah. Rambutnya yang biasanya berkilau halus, kini awut-awutan seperti tikus kecemplung got. Seragam putih abu-abunya berantakan. Di sisinya duduk, Joli tampak berpenampilan lebih parah. Rambutnya seperti disulap keribo mendadak, baju di ketiak sampai ke dada sobek, pipinya memerah akibat tamparan, dan hidungnya sedikit membengkak. Joli lebih mirip seperti korban penganiayaan di film animasi. Mengenaskan.
Sebenarnya Anna prihatin melihat Joli yang berkali-kali merintih kesakitan merasakan hidungnya yang nyeri. Tapi ia tidak mau terlihat seperti penjahat jika harus menertawakan lawannya. Entah kenapa Joli yang dulunya teman dekat kini malah berubah menjadi pemfitnah.
Pak Firdaus memberi wejangan dan menunjukkan sedikit kemarahan pada dua murid di hadapannya. Tidak ada yang berani membela diri, sebab Pak Firdaus sudah mengatakan bahwa ia tidak butuh pembelaan apapun dari murid yang terlibat perkelahian. Dua-duanya sama saja, sama-sama memukul dan menghajar.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Joli datang memasuki ruangan, menghadap kepala sekolah. Mereka tampak prihatin melihat kondisi Joli.
Melihat kedatangan kedua orang tua Joli, Anna mendadak cemas. Ia takut jika orang tuanya juga dipanggil ke sekolah untuk mengurus masalah memalukan itu. Mampus! Ia pasti akan mendapat hukuman keras dari sang Ayah.
Kepala sekolah menyuruh Anna dan Joli keluar ruangan. Anna bergegas keluar. seketika jantungnya berdetak kencang saat melihat sosok tampan berdiri di depan pintu. Alan.
Alan mengernyit melihat kondisi Anna yang seperti diterjang badai.
Entah kenapa Anna mendadak canggung dipergoki Alan dalam kondisi mengenaskan seperti sekarang. Sekilas Anna merapikan rambutnya. Sungguh, Anna malu ketahuan berantem di sekolah.
“Aku ke sini untuk menggantikan Ayahmu,” ucap Alan menjawab kebingungan Anna atas kedatangannya ke sana. Alan geleng-geleng kepala, “Aku nggak nyangka kamu sebrutal ini di sekolah.” Alan menjepit hidung Anna dengan jempol dan jari-jarinya kemudian melangkah menuju pintu dan berpapasan dengan Joli.
TBC