Holy Marriage

Holy Marriage
Resah Dan Gelisah



Waktu terus berlalu namun Alan belum juga muncul. Anna mulai gelisah.


Tak ingin gondok pada suami, Anna mencoba untuk bersabar dan memahami. Sembari menunggu di teras, ia membuka aplikasi Al Quran di ponsel dan membacanya dalam hati.


Kembali sepasang bola mata Anna melirik arloji, sudah setengah jam berlalu, Alan belum kembali. Akhirnya Anna memanggil Andra dan minta diantar ke kantor Alan. Ia tidak mungkin menyetir mobil sendiri, karena setelah sampai di kantor nanti, ia akan pindah ke mobil Alan.


“Kok, tegang banget Mbak Cuma mau ke pernikahan Mbak Angel aja?” tanya Andra pada Anna saat mereka sudah di perjalanan. Andra melirik wajah majikan melalui kaca mobil di depan jidatnya. “Takut keinget pas Mas Alan ngucap ya, Mbak? Apa Mas Alan keringetan pas ngucap dulu? Gemeteran gitu?”


Anna menahan tawa, supirnya yang satu itu memang sedikit songong. Bawelnya melebihi emak-emak nawar beli cabe seperempat. Maklumlah, Andra supir baru dan umurnya juga baru dua puluh tiga tahun. Tapi sikap selengekannya justru membuat Anna kerap terhibur.


“Ini bukan tegang, gelisah aja. Mas Alan nggak balik-balik, padahal udah janji mau ke acara ijab qobul, mana acara udah mau mulai lagi,” tutur Anna.


“Awaas… Hati-hati Mbak, udah janji tapi diingkari. Tanda-tanda ehm… itu. Laki-laki kalau udah bohong pasti ada apa-apanya. Ya saya paham bangetlah brengseknya laki-laki itu kayak gimana. Suka penasaran sama yang bukan miliknya. Eh, tapi saya nggak bilang MAs Alan brengsek loh Mbak. Ya gitulah, laki-laki emang resek. Makanya saya nggak mau pacaran sama laki-laki.”


“Hahaa… Ngawur kamu.”


“Hehee… Tapi yang saya bilang itu bener loh, Mbak. Laki-laki kalau udah berbohong pasti dia menyembunyikan sesuatu.”


“Termasuk kamu,” celetuk Anna menanggapi kegilaan supirnya.


“Tunggu tunggu, Ndra!”


Otomatis Andra memperlambat kelajuan mobilnya memenuhi permintaan majikan. Anna terdiam menatap Alan duduk di restoran yang bersebelahan dengan gedung kantor milik Alan. Alan tidak sendirian, Cintya duduk di depannya. Hati Anna terasa ditusuk melihat pemandangan yang bisa ia raih melalui kaca bening, seluruh rutinitas di dalam restoran tertangkap jelas oleh pandangannya.


Katanya ada keperluan di kantor, tapi nyatanya pagi-pagi sekali meninggalkan rumah hanya untuk menemui Cintya? Pikir Anna sesak. Matanya sudah berair, namun ia tidak mau menangis. Belum tentu kejadian yang sebenarnya seburuk yang ia lihat. Mungkin Alan memiliki alasan tersendiri, Alan pasti bisa menjelaskan semuanya. Yang membuat Anna merasa sakit, kenapa Alan harus bersama Cintya, gadis yang begitu menginginkan Alan. Anna berusaha mendamaikan hati dengan beristighfar dan berbaik sangka. Suaminya adalah lelaki baik-baik, tak mungkin berbuat yang tidak-tidak, tak mungkin membohonginya. Meski dalam kenyataan, cinta itu bisa dibagi, tapi Anna menampik kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Mobil menepi ketika Anna memerintahnya.


“Nah, tu kan bener,” celetuk Andra saat sorot matanya menemukan objek pemandangan majikannya.


Anna mengambil ponsel dan menelepon Alan sambil memperhatikan Alan dari kejauhan. Alan tampak meraih ponsel dari saku celananya kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan meja, membuat pandangan Cintya mengikuti arah gerak langkah Alan yang meninggalkannya.


“Halo!” Alan menjawab telepon sambil meninggalkan meja restoran, berjalan menuju ke arah parkiran mobilnya.


“Kamu dimana?” tanya Anna dengan suara yang dibikin setabah mungkin supaya Alan tidak tahu kegalauannya.


TBC