Holy Marriage

Holy Marriage
Sebuah Kepatuhan



Dengan seulas senyum yang masih mengembang, Naga berdiri dan menarik kursi. “Alan, duduklah!”


Alan menampik kursi dengan sekali hempas hingga kursi sedikit terdorong. “Tidak, Naga! Apa-apaan ini?” Alan kesal.


“Maksudmu?” Naga masih memperlihatkan ekspresi bingung.


“Kenapa kau bersamanya?” Alan menunjuk Stefi.


Naga mengernyit menatap ekspresi Alan yang jelas terlihat kesal. “Apa yang membuatmu terlihat kurang menyukai hal semua? Ini kekasihku, apa ada yang salah dengan hal itu?”


“Kekasih?” Alan terkejut bukan main. Nafasnya sampai tersengal akibat emosinya naik. Pandangannya kemudian beralih ke arah Stefi. “Stefi, kau pulanglah sekarang!”


Stefi sedikit mengangkat wajahnya, menatap Alan ragu-ragu.


“Pulang!” titah Alan dengan mendominasi, membuat Stefi patuh dan bergegas menyambar tas di meja lalu melenggang pergi.


“Kau mengenalnya?” Naga seperti orang to*ol menatap kepergian Stefi.


“Stefi adalah adikku. Dia adikku!” geram Alan dengan gigi menggemeletuk.


“Adik? Oh Tidak, Alan. Jangan bercanda.” Naga seperti tidak yakin sekaligus terkejut.


“Jangan main-main, Naga. Sejauh apa hubunganmu dengan adikku, huh?” Alan menatap tajam mata Naga penuh dengan emosi.


“Santai, Alan! Kau tidak perlu sepanik ini.” Naga menyentuh pundak Alan berusaha menenangkan temannya itu.


“Santai? Aku sudah tahu seperti apa dirimu, lalu bagaimana aku bisa santai saat tahu kau mendekati adikku? Jawab aku, sejauh apa hubunganmu dengan adikku?”


“Menurutmu? Apakah kau hanya akan sekedar mengobrol dan makan saja, apakah hanya sebatas itu saja yang kau lakukan saat berduaan dengan seorang wanita? Jawab aku!”


“Alan, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Jangan berpikiran buruk tentangku. Aku tidak seburuk yang kamu lihat. Ingat Alan, kita adalah teman. Kau bisa bicarakan ini baik-baik denganku, bukan dnegan emosi seperti ini.”


Alan benar-benar tidak bisa menhaan emosi. Bagaimana dia bisa menahan emosi disaat dia tahu adiknya berhubungan dengan pria berhidung belang seperti Naga. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Setelah hatinya sedikit lebih tenang, dia pun berkata, “Sudah berapa lama kau mengenal adikku?”


“Tiga bulan.”


Kening Alan terlipat mendengar jawaban Naga. Tiga bulan bukanlah waktu yang singkat. “Aku tidak mau ada hal buruk terjadi dengan Stefi.”


Naga menghela nafas melihat kekesalan Alan. “Stefi adalah gadis yang baik, aku tidak akan mungkin menyakitinya.”


“Ini bukan perkara menyakiti atau tidak, tapi aku hanya minta supaya kau tidak mendekati adikku. Kupikir kau sudah mengerti alasan apa yang mmebuatku mengatakan ini. sudah cukup untukmu empat istri saja. Aku tidak ingin Stefi menjadi yang ke lima.”


“Baiklah, aku tidak akan mendekati adikmu lagi. Aku akan menjauhinya demi dirimu. Kita sudah lama berteman, jangan saling menyalahkan hanya karena masalah ini,” jawab Naga sambil menepuk pelan lengan Alan.


“Aku pegang kata-katamu.” Alan menatap tajam mata Naga. “Kau tidak menyentuh adikku bukan?”


Naga diam saja. Hanya helaan nafas yang terdengar dari mulutnya.


“Jangan katakan kalau kau sudah menyentuhnya, jika itu sempat terjadi maka aku tidak akan pernah memaafkanmu. Camkan itu!” geram Alan kemudian melenggang pergi. Ia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan menuju ke rumah William.


TBC


Siapa yang belum baca ceritaku yang berjudul SALAH NIKAH? Cung! ☝️ Rugiiiiii 😆