Holy Marriage

Holy Marriage
Gadis Lain



Alan menatap jemu lelaki yang tak lain sahabat sekaligus direktur di perusahaan itu. Dia bawel dan kerap membuat rusuh, tapi Alan mengakuinya sebagai orang yang baik dan selalu bisa diandalkan. Reno, teman kuliah yang memiliki pemikiran sejalan. Oleh sebab itu, ketika sudah lulus kuliah pun, Alan rasanya sulit berpisah dari Reno. Sahabatnya itu harus memperoleh jabatan penting di perusahaannya. Hanya satu kekurangan Reno, cara berkomunikasinya yang ceplas-ceplos sulit diubah meski berada di lingkungan kantor. Tapi kebiasaan itu akan menghilang dengan sendirinya ketika dalam situasi penting seperti rapat.


“Anna, kenalin ini Reno. Tapi aku sering panggil dia Kombet.” Alan melirik lelaki di sebelahnya itu.


“Ah, elo. Suka jujur kalo ngomong, nama panggilan jelek kayak gitu jangan dibilang-bilang, dong. Kan malu sama adik ipar.” Reno tersenyum menatap Anna yang juga tengah tersenyum sejak tadi, gigi pun sampai kering.


Reno meletakkan map ke meja Alan, kemudian keluar ruangan setelah berpamitan pada Anna dan mengatakan supaya Anna betah menemani Alan di kantor, seakan-akan kantor itu adalah miliknya.


“Kombet emang suka ngelantur kalo ngomong,” ucap Alan sambil geleng-geleng kepala, sesaat setelah Reno menghilang dari pandangan.


Anna mendekati meja lain yang posisinya berjauhan dari meja tempat Alan bekerja. Meja khusus untuk menerima tamu, kesannya santai. Anna tersenyum menikmati betapa nyaman ruangan itu.


Tidak lama kemudian, seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Anna langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka dan melihat sosok perempuan yang menurut penilaian Anna lebih tepat menjadi seorang model. Cantik, tinggi, glamour dan seksi.


Gadis yang mengenakan rok di atas lutut itu langsung ngeloyor masuk dan mendaratkan ciuman di pipi Alan. Setelahnya, gadis itu merangkul Alan.


“Kenapa nggak ngabarin kalau kamu udah nyampe kantor? Aku nungguin di ruangan Kombet sejak tadi.” Gadis itu kembali memberikan ciuman singkat di pipi Alan.


Alan tampak sedikit kaku menerima perlakuan gadis itu sementara bola matanya mengarah kepada Anna yang terbengong. Bola mata gadis yang menggelayuti Alan itu pun mengikuti arah pandang Alan. Ia buru-buru melepas rangkulan dan menjauh dari Alan.


Anna menarik napas pelan dan mengembuskannya. Ia hanya bisa terdiam. Tidak bisa marah, lebih tepatnya merasa tidak punya hak marah. Alan sudah tahu kalau Anna bersedia menikah dengan Alan atas alasan yang konyol. Dan Anna juga tahu kalau Alan memiliki pacar yang sampai saat ini masih berhubungan. Bahkan Anna sudah mengatakan kesediaannya mendukung hubungan Alan dengan pacarnya itu. Jadi, tidak ada yang salah dengan apa yang ia lihat sekarang.


“Anna, kenalin ini Cintya, gadis yang pernah kuceritain.” Alan memperkenalkan.


Anna berjalan mendekati Cintya yang tersenyum ke arahnya. Mereka berjabatan tangan seraya menyebut nama masing-masing.


“Alan, boleh aku bicara sebentar dengan Anna?” tanya Cintya sangat ramah.


“Mm…” Alan berpikir, ia takut Anna akan melakukan hal yang sama terhadap Cintya seperti yang dilakukannya terhadap Joli di sekolah. Tapi setahu Alan, hati Anna sampai detik ini masih terpaut pada Rafa, tidak ada alasan Anna untuk bertindak brutal terhadap Cintya. Sebab Anna tidak memiliki perasaan apapun terhadap Alan. Tentu Anna tidak cemburu melihat kejadian barusan. Kemudian Alan mengangguk.


“Anna, kita ngomong di luar, yuk. Aku punya tempat yang cocok untuk kita ngobrol,” ajak Cintya dengan senyum ramah.


“Boleh.” Anna mengangguk kemudian menoleh kepada Alan. “Alan, aku pergi dulu.”


Alan mengangguk.


TBC