Holy Marriage

Holy Marriage
Jangan Curiga



Alan menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan diri. Kembali terlintas diingatannya ketika Aldi membopong tubuh Anna. Ia kemudian menggelengkan kepala berusaha melenyapkan bayangan itu. Ia juga ingat di awal pernikahan, Anna mengatakan kalau Anna menikah tidak lain untuk membuat Rafa, lelaki yang dia cintai itu sakit hati. Alan juga ingat perkataan Rafa yang mengatakan kalau Anna masih menyimpan perasaan terhadap Rafa. Apa itu benar?


“Kamu itu satu kampus sama Aldi. Kalian begitu dekat, sampai-sampai ketika kamu pingsan, dialah malaikat yang menyelamatkanmu. Bahkan kamu juga dekat dengan mantanmu, Rafa. Selama itu, aku nggak tau apa yang kamu lakukan pada dua pria itu. Aku nggak tahu siapa yang sekarang ada dalam pikiranmu, RAfa atau Aldi?”


“Kamu nggak percaya sama aku?” Anna kecewa.


Alan berjalan menaiki anak tangga dan memasuki kamar. Ia bergegas mandi. Sementara Anna menyiapkan pakaian untuk Alan. Ia duduk di sisi ranjang menunggu Alan keluar. Ketika pintu kamar mandi terbuka dan Alan menyembul keluar, Anna langsung tegak dan menyerahkan pakaian ganti.


Alan mengenakan pakaian dibantu oleh Anna. Dengan penuh kesabaran, Anna mengancing setiap kancing kemeja Alan hingga rapi. Ia juga memasangkan dasi di dada Alan. Setelah itu, tangannya menyentuh dagu Alan dan mengangkat wajah yang menunduk menatap setiap gerakan tangan Anna itu. Kini mereka bersitatap.


“Aku mencintaimu,” bisik Anna. “Jangan curigai aku.”


Alan melepas napas kasar. Masih jelas terlihat kekesalan di matanya meski ia berusaha menyembunyikannya serapi mungkin. Sekarang, hanya Anna yang mampu membaca ekspresi Alan.


Anna tersentak mendengar kalimat itu. Sejauh itu Alan memikirkan hubungannya dengan Rafa?


“Karena memang kuakui, sejak awal kamu menikah denganku, kamu nggak mau kusentuh,” lanjut Alan. “Kamu masih berharap dia yang mendapatkanmu, bukan? Jika sekarang keadaan sudah berubah, mungkin itu karena tuntutan agama. Karena mungkin kamu sadar, menolak suami adalah dosa. Meminta cerai tanpa alasan yang baik, juga dosa. Aku harus belajar untuk bisa mengenalimu. Dan inilah Anna yang kukenal.”


Anna menelan saliva dengan susah payah, lehernya tercekat. Pemikiran Alan benar-benar tidak sesuai dengan fakta yang ada.


“Mas Alan, aku mencintaimu. Aku Cuma sayang sama kamu. Rafa itu hanya masa lalu. Kalapun aku kadang-kadang ada bersama Rafa, itu karena dia yang menguntitiku terus. Setitik pun aku sama sekali ngak punya rasa sama dia. Dan Aldi, dia dulu tetanggaku. Hanya itu. Kebetulan dia yang ada di dekatku dan ngegendong aku. Cintaku ke kamu utuh dan nggak akan pernah terbagi dengan lelaki mana pun. Kamu suamiku, kamu satu-satunya orang yang berhak atas diriku. Aku kuliah di kampus itu juga atas rekomendasimu, bukan keinginanku.”


TBC