
Sosok wanita yang duduk di meja sekretaris, bangkit berdiri dari kursinya saat Anna melintasi meja tersebut. “Selamat pagi, Mbak! Ada yang bisa saya bantu?”
Anna menghentikan langkah dan menoleh ke sumber suara. Dia menatap wanita yang menurut pandangan orang memiliki raut dan bentuk wajah yang hampir sama dengannya, tak lain Alta.
“Kamu siapa?” tanya Anna yang baru pertama kali melihat wajah itu. “Kok, duduk di meja sekretaris?”
“Iya, benar. Saya sekretaris di sini,” jawab Alta sopan. “Apakah ada yang bisa saya bantu? Mbak menuju ke ruangan Bapak CEO. Apakah mbak ada keperluan dengan beliau? Tunggu, saya cek dulu di buku catatan saya.” Alta membuka buku catatannya. “Sepertinya ANda belum membuat janji dengan Bapak Alan. Maaf, silahkan ANda membuat janji terlebih dahulu untuk bisa bertemu dengan beliau.” Senyuman Alta mengembang lebar.
“Aku Anna Salsabila, istrinya Alan William,” tegas Anna membuat Alta membungkam sesaat.
“Oh… Senang bertemu dengan Anda.” Alta memutari mejanya kemudian menjabat tangan Anna sambil membungkukkan tubuh sebagai rasa hormatnya. “Maklum Nona, saya belum mengenal istri Pak Alan. Sungguh kehormatan besar bagi saya bisa bertemu dnegan Anda.”
Anna mengangguk dengan senyum tipis. “Setahuku sekretarisnya Mas Alan bukan kamu?”
“Benar, Nona. Saya adalah sekretaris baru di sini.”
Anna sekilas memperhatikan Alta, penampilannya menarik, modis dan elegan. Sikapnya juga renyah, ceria, sopan dan energik. Wanita itu juga pandai berbicara. Sangat cocok menjadi sekretaris bos.
“Kenalkan saya Alta, baru beberapa minggu saya menjabat sekretaris di sini. Sungguh merupakan kehormatan besar bagi saya bisa bekerja di sini. O ya, Pak Alan sedang keluar. Nona tidak bisa menemuinya sekarang. Apakah perlu saya telepon beliau untuk menemui Nona di sini sekarang?”
“Nggak perlu. Aku mau tahu scedhule kerja suamiku. Berikan agendanya padaku!”
“Baik, Nona. Ini agendanya.” Alta mengambil buku catatannya dan menyerahkannya kepada Anna.
Anna membaca buku catatan, dia tidak melihat ada jadwal kerja ke luar kota di sana dua hari terakhir ini.
“Saya tidak menyangka jika ternyata istri Pak Alan secantik Anda, sangat beruntung sekali Pak Alan memperistri Nona Anna,” kata Alta dengan nada ramah tamah.
“Apakah sudah cukup ini saja, Nona?” Tanya Alta.
“Ya, sudah. Kalau begitu aku pergi,” kata Anna lagi.
“Apakah Nona tidak ingin meninggalkan pesan?”
“Tidak perlu. Aku bisa menghubungi Mas Alan langsung.”
“Baiklah. Salam kenal dari saya, Alta.” Alta kembali membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
Anna mengangguk sambil melempar senyum. Dia berlalu meninggalkan ruangan. Ternyata benar dugaannya, Alan tidak menjalankan tugas kemana-mana. Lalu kemana Alan bermalam selama dua hari terakhir? Apa yang membuatnya meninggalkan rumah? Ya Tuhan, perasaan Anna semakin dongkol sekali.
Langkah lebar Anna membawanya sampai ke lift privat, tentunya lift khusus yang biasa digunakan oleh keluarga William. Angka demi angka bergerak. Anna sudah tidak sabar melihat angka yang terus berjalan. Dia ingin segera keluar dari sana. Sesampainya di angka dua, pintu lift terbuka.
Kenapa pintu lift terbuka sebelum sampai di lantai satu? Artinya ada sosok lain yang hendak memasuki pintu lift privat tersebut. Tidak ada manusia lain yang memasuki lift tersebut selain keluarga William dan orang-orang sekelas direktur. Lalu siapa sosok yang sekarang berdiri di depan pintu lift tersebut? Tentunya sesosok pria.
Kepala Anna yang menunduk pun menatap sepasang sepatu yang berdiri tepat di depan lift. Sepatu yang asing di matanya. Ya, dia tidak mengenali sepatu tersebut. Artinya pria yang ada di depan lift tersebut bukanlah Alan.
BERSAMBUNG
.
.
.