
“Iya, move on beneran. Trus ketemunya sama malaikat di kuburan,” sewot Arini gedeg.
“Iiih... Arini serem banget, sih.” Anna melempar bantal ke wajah Arini yang langsung ditangkis dengan tangan kanan Arini.
Dering ponsel membuat sorot mata Anna dan Arini menatap ke ponsel Anna. Nomer yang tak terdaftar di kontak menelepon.
Anna mengabaikannya.
“Kok, nggak diangkat? Siapa tau penting.” Arini duduk dan kini berhadapan dengan Anna.
“Males gue.” Anna membanting tubuhnya ke belakang, terayun di atas kasur. Lalu menutup wajahnya dengan bantal. “Nomer nggak jelas.”
Tak lama nomer tersebut kembali menelepon.
Penasaran, Arini menyambar ponsel milik Anna dan menjawabnya.
“Halo, siapa ini?”
“Alan William.”
“Oh my god, gue ngomong sama malaikat tak bersayap.” Jemari Arini mendadak lemas, ponsel di tangannya seperti hendak terlepas. “Ann, ini Alan.”
Anna sontak membuang bantal ke sembarang arah, bantal teronggok di lantai. Ia terduduk dan menatap Arini dengan mata membelalak.
“Kok, diangkat, sih?” bisik Anna supaya suaranya tidak kedengaran Alan di seberang.
“Udah, ngomong aja. Buruan!” Arini menempelkan ponsel ke pipi Anna membuat Anna terpaksa angkat bicara.
“Anna... Anna!” Beberapa kali Alan memanggil-manggil.
“I Iya... Kenapa? Aku di sini,” jawab Anna gugup.
Arini menempelkan telinga ke ponsel, nguping.
“Bisa keluar sebentar malam ini?”
“Ke... keluar? Ta... tapi mau kemana?”
“Ada hal penting.”
“Bilang dulu mau kemana?” Anna tidak mau terjerembab ke acara formal seperti kemarin, ia harus tau terlebih dahulu kemana Alan akan membawanya pergi.
Arini melotot sembari mencubit paha Anna yang terekspos mendengar jawaban Anna yang tidak sesuai menurutnya. “Jawab iya aja ngapa?” bisik Arini.
Anna menggeleng.
“Enggak ada. Ayahku pasti nggak akan ngijinin aku keluar malam.”
“Ayahmu ngijinin, kok.”
“Dari mana kamu tau?”
“Keluarlah sekarang!”
“Tapi aku...”
“Aku di rumahmu.”
Hah? Anna membelalak, lehernya seperti tercekat. Ia hanya bisa melongo saat Alan memutus telepon.
“Serius, Ann? Alan di rumah lo? Berarti dia ada di luar, dong.” Arini heboh bukan main.
Pintu terbuka, pandangan Anna dan Arini menoleh ke arah Angel yang berdiri di pintu.
“Anna, dipanggil Ayah, tuh. Ada tamu mau ketemu kamu,” ucap Angel.
“Wuaaaa....” Arini berdiri sambil memegangi tangan Anna hingga Anna tertarik berdiri. Arini berputar dan melompat-lompat di atas kasur sambil berseru girang.
Yang diajak ketemuan Anna kok yang girang Arini?
“Cepet ya, Ann.” Angel menutup pintu.
Anna melompat turun dari kasur, membuka lemari dan mengenakan celana panjang untuk menutupi celana pendek yang ia kenakan.
“Yang bener aja, Ann? Masak sih lo ketemu Alan pake celana jelek begitu, nggak macho banget.”
“Peduli amat.” Anna melenggang keluar kamar. Anna tidak tertuntut untuk berpenampilan menarik di hadapan Alan. Justru ia akan merasa tertuntut untuk berdandan jika bertemu Rafa.
Langkah Anna memelan saat memasuki ruang tamu dan mendapati Alan yang tengah berbincang dengan Herlambang.
“Pst, temuin dia, gih.” Angel yang melewati Anna, menyenggol lengan adiknya itu sambil mengerlingkan mata. Ia membawa dua gelas kopi panas dan meletakkannya di atas meja yang menjadi pembatas antara Alan dan Herlambang.
“Anna, kemari!” Herlambang melambaikan tangan.
Anna menurut, mendekati ayahnya lalu duduk di sisi pria tengah baya itu.
Arini yang melihat adegan itu dibalik pintu, girang sendiri sambil melompat-lompat.
TBC