Holy Marriage

Holy Marriage
Tidak Peka



“Nggak ada masalah apa-apa,” ketus Anna.


“Trus kenapa kamu sewot gitu?”


“Aku biasa aja. Jangan drama.”


“Anna, aku bukan anak kecil. Aku bisa bedakan kapan kamu marah dan enggak.”


“Udah, deh. Aku lagi males ngomong.” Anna kembali membuang pandangan ke luar jendela.


“Anna Anna... Jangan memendam kemarahan sendirian. Kalau kamu nggak bilang dimana letak kesalahanku, tentu aku nggak akan pernah tahu.”


“Karena kamu nggak peka,” sahut Anna masih menatap ke luar.


“Iya, aku memang nggak peka. Makanya aku tanya ke kamu apa masalahmu?”


Anna diam.


“Apa masalahmu? Kamu cemburu?”


Anna terkesiap. Tebakan Alan membuatnya gugup bukan main. Alan mungkin akan menertawakannya jika ia mengaku cemburu. Alan jelas-jelas sangat mencintai Cintya, bagaimana mungkin Alan akan mengerti dengan kecemburuannya?


“Aku nggak suka dicuekin,” ketus Anna.


“Apa aku dan Cintya tadi sebegitu nggak perduli padamu?”


“Ya. Kalian mengasingkanku.”


“Maaf.”


“Minumanku aja sampai habis, kamu yang meminumnya. Trus apa gunanya aku diajak duduk di sana? Cuma buat nonton kalian bermesraan?”


“Maaf.”


“Aku bahkan sampe kehausan, dan kalian sama sekali nggak perduli padaku.” Anna kini menatap Alan.


“Aku nggak suka kamu selancang tadi bersama Cintya,” ketus Anna dengan sorot mata tajam.


“Lancang? Memangnya apa yang kulakukan pada Cintya?”


“Kamu bahkan nggak sadar udah terlalu jauh bersentuhan dengan gadismu itu.”


“Apa itu masalah bagimu?”


“Kalian begitu dekat. Bahkan tadi Cintya sempat menciummu,” lanjut Anna. “Itu yang kalian lakukan di depan umum. Lalu gimana saat di tempat sepi dan nggak ada orang lain selain kalian berdua? Apakah lebih dari itu?”


“Lalu...”


“Aku adalah istri sahmu di mata hukum maupun di mata agama,” potong Anna. “Selama itu, aku bertanggung jawab atas dirimu. Aku nggak ingin terseret dosa akibat perbuatanmu karena udah ngebiarin suami menyentuh yang haram. Jangan lakukan itu lagi, terlebih di hadapanku!”


Alan mengangkat alis sembari melepas nafas. “Oke, aku mengerti. Doakan aku dan Cintya segera menikah, semoga rintangan diantara kami nggak ada lagi. Sehingga kami nggak membuat dosa.”


Hati Anna nyeri mendengar pernyataan Alan barusan. Dilarang bermesraan dengan wanita lain, Alan malah akan mengusahakan pernikahannya dengan Cintya secepatnya.


Anna tidak salah, ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Alan, terbukti hatinya terbakar cemburu melihat Alan dekat dengan perempuan lain.


Jujur saja, dalam situasi demikian, Anna merasa sangat berdosa karena telah membiarkan suaminya bermain hati dengan perempuan lain, sama saja memberi peluang untuk suaminya berselingkuh, yang dalam ajaran agamanya jelas tidak dibenarkan. Sangat wajar, dan bahkan tidak salah jika ia melarang Alan melanjutkan hubungan dengan Cintya, tapi untuk berkata sampai kesitu, rasanya ia butuh keberanian penuh. Karena pada awalnya, dia jelas-jelas mengijinkan Alan untuk bermain hati dengan gadis itu.


Ya ampun, ternyata Anna sudah salah langkah telah membiarkan Alan berhubungan dengan perempuan lain. Karena ia tidak menyangka jika ternyata kehadiran cinta untuk Alan begitu cepat secepat kilat, merubah kenyataannya tanpa kompromi. Andai saja ia tahu sejak awal kalau ia akan mencintai Alan, tentu ia akan melarang Alan berhubungan dengan Cintya karena sepenuhnya Alan adalah haknya.


Bunyi nyaring klakson berkali-kali menyadarkan Alan sudah membiarkan mobilnya berdiam di tengah jalan, menghalangi mobil lainnya, sementara lampu hijau sudah menyala sejak tadi.


Alan segera melajukan mobil.


***


TBC