Holy Marriage

Holy Marriage
Telah Terkuak



Anna kini berada di kamar tempatnya dulu sering bergurau dengan Alan, tepatnya di rumah William. Ia ingat ucapan Stefi, yang mengatakan bahwa brankas di kamar terisi barang-barang yang menurut Alan sangat berharga. Sama halnya seperti yang Reno ucapkan. Rasa penasaran mengantarkannya sampai di sana.


Anna duduk di depan brankas, menatap nomer-nomer di sana. Sekarang yang ia pikirkan, berapa passwordnya? Ia mengerucutkan bibir memikirkan kira-kira angga berapa yang dipakai Alan untuk dijadikan password. Mulai dari tanggal lahir Alan, tanggal pernikahan, sampai tanggal tercantik ia ketik di sana. Tidak berhasil.


Merasa lelah, Anna menyandarkan punggung di brankas sambil terus berpikir. Sebenarnya ia merasa aneh dengan pekerjaannya yang tolol itu, kenapa sebegitu besar rasa ingin tahunya dengan isi brankas Alan? Dan jawabannya, tentu ia ingin tahu seberapa penting dirinya bagi Alan? Apakah yang dikatakan Wiliam dan Reno benar-benar nyata?


Terakhir, dengan iseng, ia menekan tanggal lahirnya sendiri, dan… berhasil. Brankas terbuka. Itu artinya, Alan menggunakan tanggal kelahiran Anna sebagai password brankas?


Setumpuk kertas dan dokumen penting mengisi brankas. Namun Anna hanya tertarik dengan beberapa foto di sana. Pertama, foto Wiliam dan Laura yang terlihat begitu mesra. Kedua, foto masa kecil Stefi dan Clarita. Ketiga, foto Anna sewaktu masih kecil. Anna mengusap foto masa kecilnya, jelas terlihat ia sedang tertawa riang di ayunan depan rumah lamanya dulu mengenakan baju berwarna pink. Ya benar, foto di walpaper yang pernah Anna lihat di ponsel Alan adalah foto masa kecilnya. Dan yang terakhir, foto Anna yang sedang tidur. Anna tersenyum memandangi fotonya yang terpejam dengan mulut sedikit mangap. Kapan pula Alan mencuri potret fotonya saat tidur? Dasar Alan. Kenapa menyimpan foto istrinya yang jelek begitu? Di belakang foto, tertulis kata I Love Anna, belahan jiwaku.


Tangis Anna pecah seketika menatap foto-foto itu. Jemari halusnya mengusap permukaan foto. Ya Tuhan, Anna telah menyia-nyiakan cinta Alan, membiarkan pria itu terluka demi mempertahankan keegoisannya.


Sekarang Anna tahu, seberapa berharga dirinya di mata Alan. Seberapa besar rasa sayang Alan yang dipendam untuknya. Cinta Alan terhadapnya benar-benar luar biasa, sudah lama dipendam dan kini tumpah ruah. Sayangnya, rasa cinta Alan yang begitu tinggi dipadu dengan egonya yang juga tinggi hingga untuk mengalah dan mengakui kerinduan pun terlalu sulit, untuk mengaku jatuh cinta pun sulit.


Sudah tidak diragukan lagi, berarti benar yang dikatakan Wiliam dan Reno, bahwa Anna sangat berharga di mata Alan. Berarti kata-kata cinta yang Alan ucapkan bukan hanya sekedar halusianasi atau spontanitas semata.


“Mas Alan, kumohon kuatkan dirimu. Jangan tinggalin aku! Ada kehidupan lain dalam diriku yang juga menantimu.” Anna terisak.


***


Anna sujud syukur ketika dokter mengatakan kalau Alan sudah melewati masa kritis. Tak henti Anna berdoa di setiap shalatnya, meminta kesembuhan untuk Alan. Dan Allah kini menjawab doanya.


Tiga hari berlalu. Selama itu Anna setia menunggu Alan ditengah kondisinya yang hamil muda, sering mual dan pusing saat mencium aroma beraneka ragam.


Alan baru saja dipindahkan ke ruang rawat setelah ia siuman. Silih berganti kerabat dan sanak saudara datang menjenguk. Teman-teman kantor Alan juga datang. Sebagian besar Anna tidak mengenali mereka. Betapa bahagianya Anna melihat mereka yang berkunjung.


TBC.