Holy Marriage

Holy Marriage
Hilang s2



Tangis Azzam langsung terhenti begitu ia berada di dalam pelukan papanya. Tangannya mengusap-usap air yang mengalir di tubuh Alan karena pria itu belum sempat mengelap tubuhnya dengan handuk.


“Papa pakai baju dulu, ya sayang!” Alan menurunkan Azzam dan membiarkan bocah itu berpegangan pada kakinya, mencabuti bulu-bulu halus di betisnya. Alan buru-buru mengenakan pakaian dengan susah payah karena Azzam mengganggu gerakan tubuhnya.


Usai menyelesaikan kegiatannya, Alan kembali menggendong Azzam. “Ya udah, kamu selesein tugas kuliahmu sekarang. Kalau udah selesai temui aku di bawah ya. Udah itu aku mau minta jatah sama kamu.”


Anna mencubit pinggang Alan dengan gemas. “NGgak bisa ya tanpa itu semalam aja.”


Alan mengerlingkan sebelah mata kemudian keluar kamar sambil tersenyum.


“Oke, kita main apa sekarang, sayang?” Alan mengajak Azzam bicara sambil menuruni anak tangga.


Alan menyambar kerupuk dari toples di atas meja ruang tamu. Lalu membawa Azzam keluar, menuju ke halaman depan rumah. Ia memangku Azzam di ayunan. Kerupuk diletakkan di sisi tempatnya duduk. Azzam tampak girang saat ayunan mulai bergerak terayun-ayun. Mulut bocah gemil itu mulai ngoceh dan tertawa.


Alan tersenyum bahagia menatap putranya tertawa girang. Ia tidak menyangka jika akhirnya sekarang ia berhasil menjadi seorang ayah. Tanpa sadar matanya berkaca sembari mengecup kening Azzam.


***


Anna menuruni anak tangga, tubuhnya sudah fresh setelah mandi pagi. Gamis biru muda menjadi pilihannya pagi itu. Setelah sebelumnya, ia mencari Azzam di kamar bayi dan tidak menemukannya, ia pun ke lantai bawah mencari Arni, baby sister itu tidak ada di kamarnya. Biasanya Azzam tidak pernah bangun sepagi ini, bocah itu selalu nyenyak tidur dan bangun agak siang.


“Ngeliat Arni, nggak?” tanya Anna pada Rina yang ia temui di dapur sedang mencuci piring.


“Lagi numpang buang air besar di kamar saya, Non,” jawab Rina.


“Loh, kok numpang BAB sampe ke kamarmu segala? Emangnya kenapa sama kamar kecil Arni sendiri?”


“Katanya kerannya rusak, jadi nggak ada air di kamarnya. Mau numpang di kamar Azzam tapi takut baunya bikin kuman. Heheee…”


“Lho lho lhooo… Arni tadi turun ke lantai bawah nggak bawa Azzam kok.”


Anna balik badan hendak mencari keberadaan Arni, namun Arni sudah ada di hadapannya saat ia berbalik.


“Arni, Azzam mana?”


“Di kamarnya, Nya. Tadi masih tidur sewaktu saya tinggal ke bawah.”


Anna terhenyak. “Aku baru aja ngecek ke kamar Azzam dan dia nggak ada. Ayo, kita cek lagi.” Anna menuju ke lantai atas diikuti oleh Arni, keduanya terlihat khawatir.


Anna membuka pintu kamar Azzam. Sama seperti tadi, ia tidak menemukan siapapun di sana. Ranjang kecil milik Azzam kosong, tanpa penghuni.


Arni menghambur mendekati ranjang dan bersikap sedang mencari-cari dengan wajah penuh kecemasan berbaur ketakutan yang luar biasa.


“Serius, Nya. Tadi Azzam masih tidur sewaktu saya tinggal. Nggak biasanya Azzam bangun lebih awal, ini masih jam tidur Azzam. Gimana ini, Nya?” Arni ketakutan.


Muka Anna memucat penuh kekhawatiran.


“Semaleman saya tidur bareng Azzam di kamar ini, kok.” Arni semakin ketakutan melihat muka Anna memerah.


Penghuni rumah besar itu hanyalah Anna, Alan, Arni, Rina, Andra dan tukang kebun. Dan yang selalu menyentuh Azzam hanyalah Arni, Alan dan Anna. Jika ketiga manusia itu tidak memegang Azzam, lalu kemana bocah itu?


TBC