
Anna sangat cemas dengan keadaan kakaknya. Sudah dua hari Angel mengurung diri di kamar. Matanya bengkak karena menangis sepanjang malam. Cintanya yang begitu dalam terhadap Colin membuatnya tak kuasa jika harus berpisah.
Anna selalu mengantar makan ke kamar Angel, takut Kakaknya itu kelaparan, sama seperti bebek-bebek milik Angel yang juga kelaparan. Terpaksa Anna turun tangan mengurus bebek-bebek itu. Dia memberi makan ketika pagi sebelum pergi sekolah, dan kembali menabur makanan bebek ketika pulang sekolah.
Kondisi Angel cukup memprihatinkan, sekeliling matanya hitam akibat kurang tidur. Anna juga sedih melihat makanan yang ia antar ke kamar tidak tersentuh sama sekali. Bisa-bisa Angel meninggalkan dunia jika begini. Pikirnya cemas. Sekarang Angel lebih mirip seperti mayat hidup, wajahnya pucat, bibirnya cokelat, dan tak ada cahaya di matanya.
Alamak, jelek sekali kakaknya itu saat dalam kondisi menangis. Hidungnya pun kembang kempis.
“Kak, jangan sedih mulu, dong. Apa yang Kakak lakukan nggak akan merubah situasi.” Anna mengelus punggung tangan Angel.
Angel mengangkat wajahnya yang sendu. Menatap Anna sayu.
Lagi galau-galaunya, ponsel Anna bergetar menandakan pesan masuk setelah beberapa kali ponselnya berdering. Siapa lagi yang menelepon jika bukan Rafa dan Anna mengabaikannya. Anna mengintip sms masuk dan melihat nama pengirim. Benar dugaannya, dari Rafa.
Rafa
Honey, maafin Rafa
Rafa sayang sama Anna
Rafa
Plis jangan diemin Rafa.
Rafa
Rafa ga tahan didiemin Anna.
Rafa minta maaf. I love u
Anna tersenyum miris membaca setiap pesan. Namun ia juga bangga menerima pesan itu. Artinya Rafa menyesali perbuatannya dan mungkin sedang nungging-nungging kebingungan sekarang.
Ah, bodo amat. Rasain lu, kelojotan, kan? Baru aja didiemin, apa lagi ditinggal nikah. Hehee... Anna membatin.
Pandangan Anna kembali fokus ke wajah Angel.
Angel menggeleng. “Kakak takut, Ann. Kakak takut jujur. Andai kakak ngomong ke dia kalau Kakak akan menikah dengan pria lain, pasti dia akan hancur. Sama hancurnya kayak perasaan Kakak sekarang.”
Air mata Angel kembali deras mengalir.
“Kak, Kakak harus jujur. Cepat atau lambat, Kak Colin harus tau.”
Lama Angel terdiam. Kemudian ia menegakkan punggung yang menyandar di dinding seperti mendapat ide. “Anna, Kakak mau kabur aja dari rumah.”
“Hah? Kabur? Apa Kakak nggak mikir gimana perasaan ayah kalau kakak kabur? Ayah akan terluka dan malu menghadapi kenyataan ini, Kak.”
“Tapi apa Kakak yang harus jadi korban? Kakak juga ingin bahagia.”
Anna bingung harus bagaimana lagi memberi pengertian. Angel memang butuh kebahagiaan, dan ayahnya juga pasti akan menanggung malu andai saja pernikahan yang sudah dirundingkan matang-matang itu gatot alias gagal total. Memang berat menjadi Angel, yang harus mengorbankan cintanya demi baktinya kepada seorang Ayah. Tapi tak cukupkah pengorbanan ayah selama ini hingga keinginannya harus ditolak?
TBC
Jangan lupa klik like dan sumbangin poin untuk mendukung cerita ini biar penulisnya cemunguuut.
Sampai di sini, bisa ditebak gak alur ceritanya kemana? Hee heee
Jangan lupa pula baca karyaku yg lainnya, terus beli novelku yg bakal terbit ya :
My boss is my love
Cahaya cinta dari surga
Kalian de bes deh, luar biasa. tengkyuh loh
Love,
Emma Shu, author yg mencintai readers