Holy Marriage

Holy Marriage
Ganti Baju



“Kamu nggak usah ngerasa bersalah. Kita menjalani semua ini diatas alasan perjodohan, bukan cinta. Kita sama-sama memiliki alasan untuk bisa menerima perjodohan ini. Jika kamu karena alasan mantan, aku juga punya alasan tersendiri, bukan semata-mata menuruti aturan orang tua.”


Anna mengernyit. “Maksudnya?”


Mobil berhenti dan tentu saja Anna tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya karena Alan sibuk melepas sealbelt dan turun. Anna juga ikut turun.


Pandangan Anna menyapu sebuah toko di depan.


“Kita mau ngapain?”


“Ikut aku!” Alan berjalan masuk ke toko dan Anna mengikutinya.


“Eh... Mas Alan, silahkan, Mas. Pesanan yang tadi sudah disiapkan!” seorang pelayan mendatangi Alan dan membungkuk hormat mempersilahkan Alan.


“Ya udah, langsung aja!” titah Alan.


Anna memperhatikan pakaian yang terpajang di manekin, semuanya bagus. Pasti mahal sekali. Ia akan menjadi seperti cinderela jika mengenakan pakaian seindah itu. andai saja...


“Silahkan, Mbak!” seorang wanita berseragam biru mendekati Anna seraya menyerahkan sehelai gaun indah dengan paduan warna merah hitam.


“Buat gue?” Anna membelalak heran.


“Iya, silahkan dicoba, Mbak,” jawab pelayan sopan.


Pandangan Anna menoleh ke arah Alan yang langsung diangguki oleh pria itu.


Anna mengambil gaun yang diserahkan, kemudian ia berjalan mengikuti pelayan yang menunjukkan arah ruang ganti.


Di luar, Alan sebentar-bentar melihat jam di tangannya. Apa yang dilakukan Anna kenapa lama sekali mengganti pakaiannya? Alan mulai gelisah dan mondar-mnadir di depan pintu ruang ganti saat sudah lima belas menit berlalu, Anna belum juga keluar. Alan tidak tahu jika Anna di dalam sedang berputar-putar di depan cermin dan berselpi ria. Di saat bersama Alan nanti, Anna pasti tidak punya kesempatan untuk bisa selpi. Ia langsung mengupload foto barunya ke instagram dengan caption ‘gaya baru’.


Merasa was-was karena mengira Anna pingsan di dalam, Alan langsung membuka pintu dan menarik tirai penghalang.


“Aaaaa!” jerit Anna terkejut melihat sosok di belakangnya melalui cermin. Kedua tangannya menutup dada.


Sontak Alan membuang wajah dan kembali menutup tirai, kini ia berdiri membelakangi tirai hijau yang menjadi pembatas.


“Kok, kamu masuk, sih? Ngggak pake permisi lagi,” protes Anna sembari sibuk melepas gaunnya dengan gerakan terburu-buru.


“Sejak tadi kamu ganti pakaian, sampai sekarang belum selesai juga?” tegas Alan dengan intonasi tinggi. “Apa perlu kubantu?”


“Eits, jangan nyuri kesempatan.”


“Cepat pakai gaunmu, waktuku nggak banyak.”


Duuuh.... repot banget jadi calon istri orang sibuk, dikit-dikit bilang nggak punya waktu. Semua serba diburu-buru. Anna menggerutu dalam hati.


“Eh, kok aku disuruh pakai gaunnya? Bukannya tadi cuma disuruh nyobain doang? Makanya selepas nyobain langsung kulepas lagi. Ukuran gaunnya pas banget kok di badanku. Ini aku mau lepas gaunnya tapi nyangkut.”


“Anna, cepat pakai gaunmu dan kita akan pergi setelah ini, jangan buang waktuku!” Alan mengusap wajah kasar, matanya kembali mengarah ke jam tangan.


“Oh eh, iya iya. Aku pakai lagi, deh.” Anna kembali sibuk mengenakan gaun yang sudah ia pelorotin sampai ke pinggang, lumayan ribet saat memasangnya.


TBC