Holy Marriage

Holy Marriage
Gara Gara Susu



Alan masih duduk di sofa ruang tamu dengan pandangan fokus ke layar laptop. Memang matanya tertuju ke laptop, tapi pikirannya melayang entah kemana hingga pandangannya ke laptop tampak kosong. Dia teringat saat mengucapkan kata-kata tidak menyenangkan untuk Anna, dia teringat saat mengatakan kalau Anna adalah ibu yang tidak benar.


Alan tertunduk, tangannya menopang kening. Helaan nafasnya terdengar berat. Matanya pun terpejam.


Kembali membayang di kepalanya wajah pias Anna saat wanita itu mendengar perkataan buruk dari Alan, ekspresi sedih yang langsung menyemburat ke permukaan wajah cantik itu, serta mata bening yang mendadak berkaca-kaca. Alan membuka kelopak mata, lalu melipat laptop, menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Beberapa kali dia menarik nafas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak setiap kali mengenang paras sedih Anna.


Alan memutuskan naik ke lantai atas. Sudah jam satu dini hari, Nana pasti sudah tertidur. Alan berhenti saat sudah berada di depan pintu kamar. Kembali dia menghela nafas, lalu mondar-mandir. Setelah merasa cukup untuk menata batin, Alan pun menjulurkan tangan untuk menyentuh knop lalu membuka pintu.


Yang pertama menjadi pemandangan Alan adalah punggung Anna, wanita itu tidur dalam posisi membelakangi pintu. Alan masuk, duduk di sisi kasur. Pandangan matanya tertuju ke punggung Anna, kemudian beralih ke pipi wanita itu. Ya, hanya pipi Anna saja yang bisa dijangkau oleh pandangan mata Alan.


Alan menjulurkan tangannya ingin menyentuh lengan Anna, namun gerakannya tertahan dan terhenti di udara.


“Anna!” lirih Alan tanpa ingin membangunkan wanita itu, namun lidahnya mengucapkan nama itu tanpa sadar.


Tak ingin berkhianat dnegan hatinya, Alan pun mendaratkan telapak tangannya ke lengan Anna. Sentuhan itu membuat sudut bibirnya tertarik sedikit. Lalu dia mendekatkan kepalanya dengan wajah Anna.


Cup!


Anna mengecup kening Anna. Beberapa detik bibir Alan mnedarat di kening wanita itu. Sesuatu terasa menyengat di dalam hati saat bibirnya bersentuhan dengan kulit Anna. Lalu Alan memundurkan wajah, menatap intens wajah Anna yang hanya bisa dia lihat bagian kanan saja.


Alan merebahkan tubuh di sisi Anna. “I Love you!” bisiknya sambil memejamkan mata.


***


Anna menarik kursi dan duduk. Meja makan terasa sepi tanpa azzam. Bocah itu masih tertidur pulas dijaga oleh Arni saat tadi Anna mengecek ke kamar sebelah. Lalu Anna pun memutuskan untuk sarapan sendiri saja.


“Sori, Rin. Aku lupa kasih tau kamu kalau pagi ini aku lagi nggak berselera minum susu,” kata Anna dengan nada bicara yang malas. Dia ingat kalau perintah minum susu di pagi hari adalah peraturan dari Alan. Dan entah kenapa Alan menjadi sebal dengan hal itu meski sebenarnya minum susu juga demi kebaikannya. Pokoknya Anna tidak mau mengerjakan apa saja perintah Alan. Kecuali jika perintah itu untuk kepentingan Alan, mungkin Anna akan mengerjakannya mengingat dia tidak ingin menjadi istri durhaka.


“Tapi kan sudah saya buatin susunya, Non. Sayang kalau dibuang. Memangnya siapa yang bakalan minum susu ibu menyusui?” Rina menatap iba pada gelas besar berisi susu tersebut.


Anna mendorong gelas dan menjauhkannya dari posisinya. “aku nggak suka susu sejak awal. Ya sudah, sekali ini nggak apa-apa kamu buang aja. Lain kali nggak usah buat susu lagi.”


“Sayang banget, Non. Tapi ya sudahlah.” Rina menarik gelas dan mengangkatnya.


“Mau dibawa kemana itu?” Suara Alan yang baru saja menyembul memasuki ruangan membuat sejurus pandangan terarah ke pada Alan. Kecuali Anna, wanita itu tidak ingin menggerakkan kepalanya untuk menoleh. Dia sudah tahu siapa yang datang, sehingga dia tidak mau menoleh.


“Saya mau buang. Soalnya Non Anna nggak mau minum susu, Tuan” jawab Rina.


Alan menarik kursi di sisi Anna, dia duduk di sana. Sedikit pun dia tidak menoleh ke arah Anna. Kemudian dengan tegas dia berkata, “Letakkan kembali gelasnya ke meja!”


Rina bingung, manik matanya silih berganti melirik ke wajah Anna dan Alan. Perintah mana yang harus dia patuhi?


TBC


.


.


.