Holy Marriage

Holy Marriage
Berteman Lagi



Kasur dan bantal yang Anna pakai sangat empuk, suhu kamar dingin, suasana kamar juga sangat nyaman. Situasi itu membuat Anna merasa seperti dimanja.


Tiba-tiba Anna merasakan elusan lembut di rambutnya. Ia membuka sedikit kelopak matanya, mengintip siapa yang berani mengelus-elus rambut indahnya. Jantung Anna berdetak keras melihat Alan sudah berbaring di sisinya.


“Apa yang kamu lakukan?” Anna membuka mata.


Alan tersenyum sangat manis.


“Apa aku salah? Kita udah halal.”


Anna diam, gugup. Bahkan tubuhnya mendadak membeku ketika pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. Anna juga merasakan sapuan hangat nafas Alan membelai wajahnya. Anna ingin menjerit saat Alan mendaratkan bibirnya di bibir Anna.


Kenapa Anna tidak bisa berbuat apa-apa? Kenapa tubuhnya seperti es yang membeku dan sulit digerakkan?


Lima menit berlalu dan Anna hanya bisa diam.


“Enggak!” Anna terbangun, terduduk dan memegang bibir. Lalu mengucek mata. Manik matanya berputar menatap sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Ternyata hanya mimpi. Tapi kenapa seperti nyata?


Anna mengusap bibinya yang basah. Syukurlah hanya mimpi. Mungkin karena ia hanya berdua dengan Alan di rumah itu, hingga pikiran aneh yang hinggap di kepalanya mudah sekali terbawa mimpi.


Anna melirik jam. Sudah satu jam ia tertidur. Kasur empuk dan dinginnya ruangan membuatnya tertidur sangat pulas. Ia bangkit berdiri dan merapikan seragam sekolahnya yang berantakan. Posisi tidurnya tadi pasti snagat buruk. Terbukti pakaiannya berantakan. Roknya pun tersingkap. Andai saja Alan masuk dan melihat posisinya tidur, ia pasti malu.


Anna berlari keluar mencari Alan. Ia menelusuri beberapa ruangan dan menemukan Alan tengah menonton televisi. Pria itu duduk santai dengan kaki terlipat sambil menikmati popcorn.


“Kamu di sini?” tanya Anna.


Alan mengangkat wajah menatap Anna yang berdiri di sisinya. Ia mengangguk.


“Kamu nggak istirahat?” Anna duduk di salah satu sofa berlainan dengan sofa yang diduduki Alan.


“Aku ingin kamu menikmati hari kelulusan ini dengan bersantai, melepas penat. Jadi kamu yang seharusnya cukup istirahat.”


Anna tersenyum senang.


Anna mengambil dan mengunyahnya.


Satu jam berlalu, Anna menonton acara televisi yang menyiarkan berita. Mereka duduk di sana tanpa obrolan.


Sebentar-bentar Anna melirik Alan. Ia mulai bosan. Mau sampai kapan mereka duduk diam di sana dan hanya menonton berita?


“Aku bosan,” tutur Anna memberanikan diri.


“Oke, kita keluar.” Alan meletakkan bungkus popcorn lalu bangkit berdiri.


“Kemana?”


“Cari makanan enak,” jawab Alan tanpa menoleh.


Anna menghambur mengikuti Alan.


***


Dua tahun kemudian.


Pagi ini, Alan menyetir mobil dan Anna duduk di sisinya. Anna menyetujui ketika Alan menjemput ke rumah tadi.


Selama kurang lebih dua tahun Anna dan Alan menjalin hubungan jarak jauh, meski sebenarnya jarak tempuh mereka dekat, tapi mereka bagaikan pasangan berpacaran. Setidaknya sebulan sekali Alan menemui Anna, mengajak Anna jalan-jalan atau sekedar makan di luar. Bisa dihitung, jumlah pertemuan mereka dalam dua tahun terakhir kurang lebih dua puluh empat kali.


Selama itu, Anna tak luput dari godaan sang mantan. Rafa masih terus mendekati Anna. Bagaimana tidak? Mereka kuliah di kampus yang sama, tak lain kampus yang direkomendasikan Alan. Anna tidak bisa menolak saat Alan mendaftarkannya di kampus tersebut. Jujur saja kampus itu memang kampus terbaik.


Rafa tidak hanya terus-terusan mendekati Anna saat di kampus, ia bahkan tak bosan nge-chat Anna. Terakhir kali saat Rafa nge-chat, terjadi insiden. Chat tersebut dibuka oleh Angel.


TBC