
Pandangan Alan masih tampak datar. Dia kemudian menghela nafas dan memalingkan pandangan. “Aku sedang ingin beritirahat di rumah. aku lelah bekerja terus.”
“Good. Eh, kamu tadi ngomong apa?” Anna berdiri di hadapan Alan dengan tangan menyilang di dada. “Aku kurang mendengarnya.”
“Besok akan ada acara kantor dan aku tidak akan mengajakmu, aku akan mengajak sekretarisku. Kuharap kamu tidak akan mempermasalahkannya saat papa menanyakan hal ini ke kamu.”
“Apa?” Anna membelalak kaget. Mungkin ekspresi kagetnya itu terlambat. Karena seharusnya sudah sejak tadi dia terkejut seperti itu.
“Aku tidak akan membawamu di acara kantor besok, tapi aku membawa sekretarisku,” ulang Alan yang mengira Anna kurang paham dengan maksud perkataannya.
Plak!
Duezh..!
Alan menyentuh perutnya sesaat setelah mendapat hunjaman keras dari siku Annatidak hanya sekali. Astaga, bagaimana mungkin Alan lupa jika istrinya itu pintar bela diri.
“Apa-apaan ini, Anna?” Alan mengernyit.
“Apa-apaan, hm? Kamu barusan bilang mau membawa wanita lain di acara kantormu. Ya aku tidak terimalah.” Anna memasang muka premannya. Duuh... dosa besar nih udah ninju suami. Batin Anna menaruh iba melihat Alan meringis menahan sakit. Jelas saja hati dan perilakunya bertolak belakang. Saat ini, Anna hanya sedang ingin memberi pelajaran pada Alan dengan sikap dan tingkah lakunya yang berbeda. Tapi dia juga tidak tega jika melihat Alan harus disiksa begini. “Mau lagi?” Anna mengayunkan tinjunya ke udara.
“Stop stop!” Alan mengangkat telapak tangannya ke udara. “Cukup! Jangan lakukan! Itu sakit, Anna.”
“Aku tahu kok kalau ini sakit.” Anna menatap tinjunya sendiri lalu meniup kepalan tinjunya itu dengan mulutnya. “Ini lumayan untuk bikin isi perutmu keluar semua.”
“Anna! Aku bilang jangan lakukan lagi! Aku benar-benar bisa terkapar setelah ini. Turunkan tanganmu, sayang!” bujuk Alan sambil menyentuh kepalan tangan Anna dengan hati-hati, senyumnya ditarik lebar-lebar demi melunturkan kemarahan Anna.
“Oke.” Anna menurunkan kepalan tinjunya.
“Aku nggak salah minum obat. Tapi kamu yang membuatku jadi begini. Lalu... apakah kamu masih mau bertahan dengan keinginanmu itu untuk bisa berduaan dengan sekretaris barumu yang cantik itu ke acara kantormu?”
“Ya, tentu.”
“Apa? Ulangi lagi!” Anna kembali melayangkan kepalan tinjunya ke udara.
“Tidak tidak. Baiklah, aku tidak akan membawa sekretarisku.” Alan cukup merasa terancam dengan sikap Anna. Tinjuan Anna benar-benar lumayan.
“Aku nggak peduli jika kamu nggak membawaku ke acara kantor, tapi aku nggak ingin orang-orang melihatmu membawa wanita lain. Aku sebenarnya juga nggak peduli dengan omongan orang, aku hanya peduli dengan papa, mama dan ayah. Aku nggak mau mereka terluka dengan sikapmu.” Anna merebahkan tubuh ke kasur, membelakangi Alan.
“Baiklah, aku akan membawamu besok ke acara itu.”
“Aku nggak mau. Pergi aja sana sendiri,” kata Anna meski kata-kata di lidahnya bertolak belakang dengan isi hatinya. Dia sungguh ingin berada di acara kantor bersama Alan, dia ingin dilihat oleh banyak orang berjalan sambil menggelayut manja di lengan Alan. Tapi terpaksa dia berkata begitu demi menjaga harga diri, demi memberi pelajaran kepada Alan, juga demi untuk membuat Alan berubah kembali seperti dulu.
Alan melepas nafas. Kemudian pria itu melangkah keluar kamar.
Anna menolehkan kepalanya sedikit untuk mengintip Alan yang berjalan menjauh dan hilang dari pandangan.
Uuugh... Anna sebenarnya kangen sekali dengan pelukan Alan, kangen dengan keromantisan Alan, juga kangen bermanja pada Alan. Tapi bagaimana mungkin dia akan merasakan hal itu di situasi seperti sekarang ini?
TBC
.
..