
Ponsel Anna yang diletakkan di meja bergerak seiring getar dan nada. Anna hanya melirik sebentar dan mengabaikannya.
Arini melongok melihat siapa yang menelepon di ponsel Anna.
“Itu Rafa. Kenapa nggak diangkat?” tanya Arini.
“Ogah. Entar gue bawaannya marah sama dia.”
“Lo lagi ada masalah sama Rafa?” selidik Joli.
Anna mengangguk. “Gue kemarin ngeliat dia boncengan sama cewek.”
“Lo yakin itu Rafa?” tanya Joli dengan mata membelalak.
Anna diam, setengah ragu. Jika mengingat postur tubuh dan jaket yang dikenakan cowok yang dia lihat kemarin, ia yakin itu adalah Rafa. Hanya saja, cowok itu mengendarai motor ninja. Sementara Anna kenal betul motor milik Rafa, motor gede yang sudah dimodifikasi. Dari kejauhan saja sudah tahu kalau itu adalah motor milik Rafa, sebab bentuknya unik.
“Anna suudzon aja, deh. Nggak percayaan banget sama pacar sendiri. Kasian kan Rafanya dicurigain mulu, entar dia di kampus keselek pas makan biji salak,” celetuk Arini berusaha menghibur.
“Justru itu entar gue mau mastiin ke dia soal ini,” jawab Anna. Ia kemudian terdiam mengenang saat masih duduk di bangku kelas sepuluh, dan Rafa seniornya saat itu. Rafa dengan gagah berani mengungkapkan perasaannya di depan banyak orang. Bukan hanya itu saja, Rafa kerap menjemput Anna ke kelas untuk dibawa ke kantin kelas dua belas kemudian mereka makan bersama di sana. Rafa dan Anna menjadi pasangan yang banyak dibicarakan waktu itu.
Setengah hatinya mulai ragu, sepertinya tidak mungkin Rafa selingkuh. Selama ini Rafa terlihat begitu setia dan bahkan rela mengumumkan ke sosial media kalau Rafa sudah tidak jomblo lagi. Dengan status berpacaran dengan Anna di sosial media, tentu saja Rafa sudah mati pajak. Apakah ada cewek yang mau jadian sama Rafa di statusnya yang sudah diketahui banyak orang? Tapi apa mungkin Rafa berpacaran dengan teman gadisnya di kampus? Ah, Anna harus bertemu Rafa dan menanyai soal itu sepulang sekolah nanti.
Sebuah pesan masuk dan Anna langsung membukanya.
Rafa
Kenapa ga diangkat, Honey?
Ini kan jam istirahat.
Anna
Nanti temuin aku
Rafa
Anna tidak lagi memblas. Joli dan Arini memperhatikan Anna yang sibuk sms-an.
“Rafa, ya?” tanya Joli.
“Iya. Dia mau ngejemput gue pulang sekolah nanti.”
“Awas jangan sampe ketauan bokap elo, bokap elo kan ngelarang keras lo pacaran, An. Kalo ketahuan lo jalan sama cowok, bisa dapet ceramah panjang lo. Parahnya, lo dipindahin ke pondok pesantren. Mau? Anak Pak Haji kok pacaran,” ujar Joli mengingatkan.
“Nggak mungkinlah bokap gue tahu. Rafa kan jemputnya ke sekolah.”
“Emangnya setelah itu Rafa nggak nganterin lo pulang ke rumah?”
“Mana mungkin gue ijinin, paling dianya gue suruh berhenti di persimpangan jalan. Lagian kan gue bawa motor snediri. Kita Cuma beriringan doang, nggak boncengan, kok.”
“Anna pacaran sama Rafa juga udah hampir tiga taon, Anna pasti ngerti bangetlah trik pacaran sembunyi-sembunyi. Nggak perlu lo ajarin, Joli,” ucap Arini kemudian menyedot pop ice.
“Iya, gue tau. Ngingetin aja, siapa tau Anna lupa kalo bokapnya ngelarang pacaran. Hehee...” jawab Joli.
“Kemarin hari libur lo kemana, Joli? Nggak seru banget nggak ada lo, nggak rame.” Anna menatap Joli di sisinya. “Kenapa nggak mau ikutan lari pagi bareng gue sama Arini?”
“Gue istirahat aja di rumah, body gue kurang sehat soalnya. Lain kali deh kita lari pagi bertiga, pasti seru.”
Anna mengangguk bersamaan dengan jempol Arini yang teracung.
***
TBC