
Detik berikutnya, Anna merasakan pelukan lengan Alan mengendur. Anna menoleh, melihat Alan yang turun dari ranjang.
“Mau kemana, Mas Alan?” Tanya Anna.
Alan tersenyum dan menjawab, “Ke kamar kecil. Ngapa? Mau ikut?”
Anna tersenyum dan menggeleng. Ia berbaring dalan posisi menelentang. Lama ia menunggu Alan, namun pria itu tak kunjung muncul dari kamar mandi. Apa yang dilakukan oleh laan di kamar mandi? Akhir-akhir ini, Alan sering masuk ke kamar mandi dan lama tak keluar. Entah apa yang dilakukan oleh pria itu.
Anna turun dari ranjang, ia menyibakkan selimut lalu mendekati pintu kamar mandi.
Dengan seulas senyum, Anna memegang handle pintu. Ia ingin tahu apa yang dilakukan oleh Alan berlama-lama di kamar mandi. Bukan hanya kali ini saja Alan sering berdiam lama di kamar mandi saat tengah malam.
Anna menekan handle pintu dan membukanya. Alan yang tengah berdiri menghadap cermin wastafel kamar mandi sontak terkejut dan menoleh. Entah apa yang membuat Alan sebegitu terkejutnya saat melihat Anna muncul. Wajah pria itu bahkan sontak tampak memucat.
Sebuah kertas kecil terjatuh dari tangan Alan. Sepertinya kertas itu terjatuh saat Alan terkejut dan tanpa sengaja terlepas dari pegangan Alan.
“Mas Alan, kamu ngapain di kamar mandi lama banget?”
“Anna, lain kali jangan sembarangan buka pintu kamar mandi di saat aku sedang ada di dalamnya,” ucap Alan dengan nada berbeda.
Nada suara Alan terdengar tidak bersahabat, bahkan wajah pria itu juga tampak menegang. Urat rahangnya yang kokoh tampak mengeras.
Anna heran dengan ucapan Alan itu, bukankah selama ini mereka sering mandi bareng? Anna juga sering menyusul Alan saat Alan berada di akmar mandi. Lantas apa bedanya dnegan kejadian sekarang? Sudahlah, Anna malas membahas masalah itu.
Alan diam saja, ekspresinya amsih menegang.
“Itu kertas apa?” Anna masuk hendak mengambil kertas yang terjatuh di lantai yang kering.
“Jangan sentuh apa pun. Ini bukan apa-apa,” sergah Alan sembari membungkuk dan buru-buru memungut kertas yang terjatuh lalu menyiram kertas itu dengan air keran lalu merobek-robeknya sampai Anna yakin kalau isi kertas itu tidak akan mungkin bisa terbaca karena sudah disiram air bahkan disobek-sobek. Setelah kertas benar-benar hancur, Alan memasukkan kertas tersebut ke dalam tong sampah sudut ruangan.
Anna terpaku melihat sikap Alan yang jauh berbeda. Biasanya, Alan selalu terbuka pada Anna. Segala hal terkecil pun, alan selalu menceritakannya pada Anna. Lalu kenapa sekarang Alan seperti menyembunyikan sesuatu? Kertas itu seperti menyimpan rahasia penting dan Anna tidak boleh tahu.
“Tinggalkan aku sendiri!” ujar Alan masih dengan gurat menegang.
“Baik.” Anna menutup pintu.
Ada apa dengan Alan? Alan yang protektif, Alan yang posesif, Alan yang selalu ingin mepeti Anna, Alan yang selalu terbuka, kini terlihat jauh berbeda hanya dalam hitungan detik setelah tadi memeluk Anna dengan sikapnya yang masih hangat.
Alan nyebelin. Sedih banget diginiin sama Alan.
Anna melangkah mendekati ranjang. Lalu duduk di sisi ranjang. Ia menunggu Alan keluar. Namun hingga menit ke sepuluh, pria itu masih betah berdiam di kamar mandi. Sebenarnya apa yang sedang alan lakukan? Apa yang dia sembunyikan? Apakah kertas yang jatuh tadi adalah nota pembelian berlian untuk seorang wanita makanya Alan sampai sebegitu frustasi menutupinya? Apakah Alan memiliki wanita lain? Ah, kenapa pikiran Anna menjadi seburuk itu?
TBC