
Anna masuk ke mobil setelah selesai menukar pakaiannya. Ia menatap Alan yang sudah menunggu di dalam mobil.
“Jalan, Pak!” titah Alan pada supir.
Anna melempar kantong plastik hitam ke jok belakang.
Sekilas Alan melirik dan bertanya, “Apa itu?”
“Bajuku. Hehee...”
Biar baju jelek begitu, mana mungkin Anna membuangnya. Masih sangat berguna untuk dipakai hari-hari di rumah.
Perasaan Anna kian gundah saat mobil melaju semakin jauh. Telapak tangan Anna mulai dingin, was-was. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang-orang kelas atas. Anna sungguh cemas akan hal buruk yang kemungkinan terjadi nantinya, ia trauma. Sungguh trauma. Anna meragukan keanggunannya di hadapan orang-orang penting, juga takut tidak bisa berinteraksi dengan baik nantinya.
“Mm... Aku... Aku kebelet pipis.” Anna menoleh menampilkan ekspresi memelas.
“Kenapa tadi nggak buang air kecil waktu di toko?”
“Kebeletnya sekarang.”
“Seenggaknya tadi udah kerasa.”
“Aku mau turun.”
“Kita cari SPBU.”
Tak lama mobil menepi memasuki area SPBU. Anna bergegas turun dan berlari ngacir ke toilet. Ia menjepit hidung merasakan aroma dahsyat menyeruak memenuhi rongga pernafasanannya. Kepalanya mendadak pusing. Ia memilih berdiri saja di sana tanpa melakukan apapun. Jujur saja, Anna tidak sedang kebelet. Ia hanya sedang mengulur waktu, tapi kini ia berubah pikiran. Ia bukan hanya sedang mengulur waktu, tapi ia tidak mau ikut dengan Alan. Ia ingin kabur saja.
Sepuluh menit berlalu, Anna masih memikirkan jalan keluar, bagaimana caranya bisa menghindari Alan. Apakah mungkin ia berpura-pura sakit peru saja? Atau... Ah, sudahlah.
Anna tersentak menatap ponselnya yang berdering, Alan menelepon. Mungkin Alan sudah kelamaan menunggu. Tidak wajar jika buang air kecil saja menghabiskan waktu sampai sepuluh menit.
Anna sengaja tidak menjawab telepon. Ia bergegas keluar toilet dan menghampiri Alan yang berdiri nyender di badan mobil.
Alan menatap Anna penuh tanda tanya. Buang air kecil bisa memakan waktu selama itu.
Anna nyengir merasa disindir. “Maaf, aku nggak bisa ikut kamu.”
Alan mengernyit kaget. Sorot mata Alan yang gelap dan tajam membuat Anna memalingkan pandangan karena takut.
“Aku nggak mau diajak ketemu sama orang-orang penting.”
“Keluarga besarku sedang berkumpul di rumah untuk dinner. Mereka ingin berkenalan denganmu, mereka semua menunggumu.”
Jadi gue mau dikenalin sama keluarga besar Alan? Tambah parah lagi. Pikir Anna garuk-garuk kepala.
“Kalau kamu ada acara beginian, kenapa nggak kasih tau aku sejak awal? Kenapa harus mendadak begini?”
“Karena aku tau jadwal keseharianmu. Dan malam minggu adalah waktu luang bagimu.”
“Kalau aku nggak setuju gimana?”
“Nggak ada yang boleh menolakku. Kamu harus ikut!”
Oh Tuhan, Alan begitu diktator. Segitu yakinnya dia kalau gue bakalan menuruti dia. Anna berpikir geram.
“Sejak tadi mereka udah nelepon terus, jangan buang waktuku. Masuk!” Alan membuka pintu mobil.
“Enggak! Aku nggak mau ikut.”
Seruan Anna membuat urat rahang Alan mengeras. Tatapannya semakin horor.
“Jangan bikin aku malu. Mereka udah menunggumu sejak tadi. Dan aku udah bilang kalau kamu dan aku akan datang sebentar lagi. Mereka rela menunda dinner hanya demi kita. Apa alasanku nanti kalau ternyata semuanya batal?”
“Itu urusanmu.”
Jawaban Anna benar-benar membuat Alan tersentak, urat di lehernya menegang. Anna semakin takut. Sepertinya ia tadi salah menjawab, kata-katanya tentu saja membuat Alan kesal.
TBC