
Sungguh, Anna merasa kikuk dan canggung. Apakah itu efek dari jatuh cinta? Masak sih masih harus bersikap sekaku itu sama suami sendiri? Jelas, Anna dan Alan selama ini hanya seperti teman dekat saja, bagaimana mereka bisa leluasa?
“Kenapa dilepas? Terusin aja!” goda Alan membuat Anna nyengir aneh. Lihat, lelaki itu bahkan bersikap tenang dan rileks, tidak sedikitpun terlihat kikuk seperti yang Anna alami.
Yang menjadi pertanyaan Anna sekarang, apakah Alan mampu membaca kegrogian yang ia rasakan? Jangan sampai itu terjadi!
“Enggak.” Hanya itu yang Anna katakan. Padahal sebelumnya ia ingin bicara banyak hal pada Alan. Ia ingin bilang kangen, panggil sayang dan memberikan ciuman pada Alan. Tapi yang sekarang terjadi Anna malah gugup duluan. Ia mendadak jadi malu-malu kucing. Sangat malu mengakui kalau sebenarnya ia menyayangi Alan. Bibirnya gemetar untuk jujur. Anna mencuri pandang pria yang kini masih berdiri gagah di hadapannya,. “Kamu kok bisa muncul mendadak gini?”
“Aku dari kamar kecil tadi. Biasa, panggilan alam.”
“Sejak kapan kamu ada di rumah?”
“Satu jam yang lalu.”
“Kok, nggak ngabarin kalo kamu pulang hari ini?”
“Apa perlu? Kupikir kamu nggak butuh kabar kepulanganku.”
“Nggak gitu juga kali.”
Pandangan Alan menyapu seisi kamar. “Ini semua kamu yang beli?”
“Ya.”
Alan terdiam melihat perbelanjaan Anna yang menumpuk. Ia tidak protes, membiarkan saja ketika Anna menyusun belanjaannya, menata boneka di pajangan, mengganti sprei baru, dan lain sebagainya. Sesekali Anna merapikan jilbabnya ketika dari ekor matanya, ia melihat Alan memperhatikannya. Ujung-ujungnya ia kejungkang jatuh ke lantai saat membenahi sprei gara-gara bola matanya yang terus-terusan melirik kesana-kemari. Alan membantu tubuh Anna bangun dan memastikan apakah Anna baik-baik saja.
Melihat senyum lebar Anna, Alan yakin Anna baik-baik saja.
Sepertinya Anna sudah terkena sindrom aneh yang membuatnya selalu grogi dan ingin tampil cantik di hadapan Alan. Dan ia harus mengompres kening setelah ini.
Malam itu keluarga Alan sedang makan malam bersama. Di meja panjang itu lengkap keluarga William berkumpul menikmati aneka ragam hidangan yang tersaji.
“Bagaimana harimu? Menyenangkan?” tanya William pada Alan.
“Hm.” Alan mengangguk sembari memasukkan sesuap nasi ke mulut. Ia tampak gelisah. Sesekali melirik kantong celananya yang lampunya kedip-kedip pertanda ada yang menelepon. Deringnya tidak terdengar karena memang disilent.
Anna melirik Alan yang sebentar-bentar terlihat memantau ponselnya. Anna yakin yang menghubungi Alan adalah Cintya.
“Ada masalah dengan pekerjaanmu?” lanjut William.
“Semua baik-baik aja. Mm... Aku keluar sebentar.” Alan meletakkan sendok dan garpu ke piring.
“Kak Alan mau kemana? Nasi udah diambil kok mau ditinggalin?” Stefi menunjuk nasi di piring Alan dengan dagunya. Baru dua suap saja Alan menyantapnya.
Sejurus pandangan turtuju pada nasi di piring Alan.
Alan menyesal sudah mengambil nasi ke piringnya. Sebenarnya ia tidak berminat makan bersama keluarga di rumah malam itu. Tapi mengingat William berkali-kali mengajak supaya Alan muncul di meja makan, terpaksa ia menuruti. Tidak ada alasannya menolak, meski sesungguhnya ia telah membuat janji dengan Cintya.
“Mau kemana?” tanya William membuat gerakan tubuh Alan yang sudah berdiri meninggalkan kursi pun terhenti.
“Aku ada urusan sebentar dengan Reno.” Alan mengelap sekeliling bibir dengan tisu.
“Apa nggak bisa ditunda? Jarang-jarang kita bisa kumpul rame-rame makan bersama begini, kan?” tegas William.
“Masih ada waktu banyak di lain hari. Selamat malam.” Alan melenggang. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara rintihan Anna.
TBC