
Andai saja dalam situasi batin yang normal, tentu Anna sudah tertawa ngakak dan meledek Alan yang berpenampilan polos seperti bayi. Sayangnya butuh mood baik untuk bisa tertawa. Karena saat ini Anna sedang menahan rasa nyeri di dada yang kian mendesak.
Alan membuka lemari mencari baju koko dan celana polo.
Cepat-cepat Anna menuju kamar mandi saat perhatian Alan sedang fokus pada isi lemari. Tangis Anna kembali pecah di kamar mandi. Sesekali ia mengusap wajah dengan air supaya lelehan permata bening itu lebur bersama air. Ia benci dengan air matanya. Ia benci dengan ketidak berdayaannya. Dimana letak kekuatannya selama ini? Kini, ia harus terperangkap oleh larangannya sendiri.
"Anna, cepatlah! Kenapa lama sekali di kamar mandi?" teriak Alan. "Aku butuh bantuanmu."
Anna buru-buru mengusap wajahnya lagi dengan air. kemudian ia keluar, tatapannya tertuju pada Alan yang terlihat sibuk mengemas pakaian. Anna menuju ranjang dan duduk di ssna.
“Bantu aku mengemas pakaian ke koper!” pinta Alan kepada Anna yang hanya duduk diam di sisi ranjang.
Alan akan pergi ke luar negeri. Ia berpamitan pada William untuk urusan pekerjaan. Dan kepada Anna, ia berpamitan akan berbulan madu bersama Cintya. Sambil menyelam minum air. Sambil menjalankan tugas, sekalian berbulan madu.
“Kemaslah sendiri. Aku nggak tau baju mana aja yang akan kamu pakai,” ujar Anna menatap kesal pada setumpuk pakaian di koper yang masih terbuka.
“Apapun yang kamu pilih, aku pasti akan pakai.”
“Bukannya mau bulan madu? Beli baju yang baru aja.”
“Pakaianku bahkan masih banyak yang baru. Ayolah, bantu aku.” Alan terlihat frustasi memilih pakaian di lemari.
Anna akhirnya bangkit berdiri dan mengambili beberapa helai pakaian yang menggantung lalu memasukkannya ke koper.
Alan mengernyit menatap pakaian yang Anna pilih. “Kaos semua? Aku juga butuh kemeja.”
“Itu pilihanku. Kamu yang bilang akan pakai apapun baju pilihanku bukan?”
Alan menatap wajah Anna yang terlihat tak seperti biasa, sorot matanya menunjukkan kekesalan, raut mukanya ditekuk, semburat kemerahan memancar di wajahnya.
“Kamu marah? Nggak biasanya kesel begini?” Alan membelakangkan rambut Anna yang menutup separuh pipi ke belakang telinga.
“Enggak. Alasan apa yang ngebuat aku kesel sama kamu?”
“Trus, kenapa sebel gitu?”
“Kamu ikut aku, ya! Antarin aku ke bandara.”
“Untuk apa aku ikut? Untuk nganterin kamu sama Cintya?”
“Akan lebih baik kalau Papa ngeliat kamu nganterin aku ke bandara.”
Anna menatap tajam bola mata cokelat Alan. Betapa kesal terperangkap dalam permainan konyolnya itu.
“Aku hanya akan nganterin kamu sampe ke depan.” Anna melenggang keluar kamar.
Alan menelepon Andra, asisten rumah tangganya supaya membawa koper turun. Ia mengikuti Anna menuruni anak tangga.
Pak Sam, supir Alan sudah menunggu di halaman rumah, tepat di sisi mobil.
Anna menuruni teras diikuti oleh Alan. Sementara Andra sibuk memasukkan koper ke bagasi.
“Hati-hati!” singkat Anna.
“Itu aja?”
Anna mengangguk.
“Alan!” William yang baru keluar, mendekati Alan dan memegang pundak puteranya itu. “Semoga sukses. Papa yakin kamu bisa menjalankan tugas ini dengan baik. Kau sudah sarapan?”
“Sarapan di jalan aja.”
Pandangan William mengarah kepada Anna. “Anna, tolong ingatkan Alan supaya nanti berhenti di jalan dan sarapan. Alan suka menyepelekan urusan perut jika sudah menyangkut urusan kerja. Ya sudah, antarlah Alan ke bandara. Kalian hati-hati.”
Anna terkesiap mendengar ucapan William. Dia tidak berniat akan mengantar Alan. Sepertinya William sudah salah sangka.
Alan tersenyum sembari mengedipkan sebelah mata pada Anna menandakan kemenangan.
TBC