Holy Marriage

Holy Marriage
Menyuapi Si Dia



Mang Ucup mengeluarkan kursi lipat dari dalam kotak gerobak dan mempersilahkan Anna duduk di sana.


“Berapa mangkuk, Neng?”


Anna menoleh ke arah Alan, pria itu berjalan gontai menuju ke gerobak. Anna sampai tidak sadar sudah berlari jauh meninggalkan Alan di belakang hingga pria itu masih terlihat mengayun langkah saat Anna sudah duduk manis.


“Tunggu bentar, Mang.”


“Oke.”


Anna menunggu Alan hingga mendekat. Pria itu berdiri di sisi Anna.


“Sini duduk!” Anna menggeser duduknya, memberi tempat untuk Alan.


Alan menggeleng.


“Kamu mau makan di sini apa dibungkus aja?” tanya Anna.


Sekilas mata Alan menatap gerobak, beralih ke mangkuk-mangkuk yang tersusun, ember berisi air tempat mencuci mangkuk, serta kain lap yang dilipat.


“Aku nggak makan,” tukas Alan.


“Jadi, aku sendiri dong yang makan?”


“Makanlah!”


Anna membuang napas berat. Ia sampai lupa sedang jalan sama siapa sekarang. Alan, pria tajir yang kesehariannya hidup mewah. Makan di tempat yang bersih dan higienis. Bahkan untuk sekedar makan buah apel saja mungkin harus dicuci tiga kali, salah satunya dengan produk pencuci buah merk ternama yang katanya bisa mematikan bakteri. Kenapa Anna harus menawari Alan makan? Anna menelan dengan sulit.


“Ya udah, satu aja mangkuk aja, Mang.”


Mang Ucup segera menyiapkan semangkuk mie ayam pesanan Anna. Hanya sebentar, mie ayam panas sudah siap santap.


Alan diam saja menatap mie yang diatasnya diberi ayam khas yang sudah dibumbui, dengan kuah yang hanya sedikit, ditabur bawang merah dan daun seledri, diberi kecap, saus dan sedikit sambal. Asapnya masih berputar di atas mangkuk.


Anna akhirnya mengaduk mie dengan sendok. Tampilan mie ayam kian menggugah selera setelah diaduk. Kuahnya kental dan menggiurkan. Anna mulai memasukkan mie ke mulutnya. Beberapa kali suap, keningnya mulai eberkeringat. Ia terlihat sangat menikmati mie ayam tersebut.


“Hmm... Nyami, enak banget, Mang. Rasanya nempel banget di mulut, menggoyang lidah.”


Mang Ucup hanya tersenyum.


Anna menatap Alan yang masih setia berdiri. “Ini tu makanan kesukaanku. Rasanya lezat dan... amazing pokoknya. Sekarang Mang Ucup udah jarang lewat depan rumahku, jadi aku jarang beli mie ayam Mang Ucup. Aku belum nemu mie ayam yang lebih lezat dari ini.”


“O ya?” Alan menaikkan alis tak yakin. “Kurasa kamu belum pernah ke restoran Animasi yang ada di mol Ciputra. Klau udah nyicipi di sana, kamu pasti akan mengubah pernyataanmu itu.”


Anna mendengus. Tempat penjelajahan Alan tentu saja di seputaran restoran, dan mie ayam yang melewati lidahnya adalah mia ayam kalangan elit, yang mungkin saja sudah diberi menu tambahan sebagai penarik selera.


“Gimana kamu bisa menilai mie ayam kunjunganmu yang lebih enak kalau kamu nggak ngerasain yang ini? Ini enak banget. Nggak percaya? Cobain!” Anna mengarahkan mangkuk ke depan hidung Alan hingga aroma sedap yang menguar dari mangkuk pun tercium di hidung Alan.


Aromanya benar-benar menggugah selera, Alan sampai mengendus dua kali.


“Ayo, cobain! Setelah ini baru giliranku nyicipi mie ayam yang katamu lebih enak dari ini.”


Alan duduk di sisi Anna. Agak ragu, ia meraih sendok. Lalu melepaskannya lagi.


“Kenapa?” Anna mengernyit.


“Enggak.”


“Enggak apanya? Ya udah, sini biar aku bantuin.” Anna menyendok mie dan menyorongkannya ke mulut Alan.


TBC