Holy Marriage

Holy Marriage
Sekretaris



Alan tampak sibuk membuka-buka lembaran kertas laporan masuk pagi itu. Dahinya mengernyit menatap angka yang tertulis di sana. Kemudian tangan kanannya menjulur ke samping menekan tombol intercom, dia memanggil sekretaris supaya menghadap ke ruangannya. Tak lama pintu ruangan terbuka, seorang gadis menarik kursi dan duduk di depan Alan.


Alan mengangkat wajah menatap sosok yang berdiri di hadapannya, tak lain sosok gadis yang wajahnya seperti kembaran Anna. Alta. Wanita yang mengenakan blazer cokelat itu meletakkan kopi ke meja.


Alan melirik kopi panas yang baru saja diletakkan. “Kau sering mengantarkan kopi untukku, bukankah itu tugas OB?”


“Benar sekali. Saya hanya merasa senang melakukannya. Selama dua tahun saya bekerja di perusahaan yang dikelola Tuan Naga, dan saya sering membuatkan kopi untuk atasan saya. Mungkin kebiasaan itu menjadi tradisi bagi saya. Tuan Naga merekomendasikan perusahaan ini untuk saya bekerja. Dan bagian HRD menanggapi lalu menempatkan saya di bagian ini setelah saya resign dari perusahaan Tuan Naga. Jarak menjadi satu-satunya alasan saya resign dari perusahaan lama setelah saya pindah rumah. Dan bekerja di sini adalah sebuah kehormatan bagi saya. Inilah wujud kepatuhan saya kepada bapak.” Alta berbicara dengan sangta lancar, nadanya yang renyah dan terkesan ceria itu membuat pendengar mudah akrab kepadanya. Bahkan saat baru pertama bekerja di sana, dia sudah mendapatkan banyak teman akibat keramahan dan sikapnya yang loyal terhadap semua orang. Dia juga suka tersenyum kepada siapa pun, serta ramah tamah.


“Whatever. Terserah kau saja. Aku sudah mendengar mengenai loyalitas dan kinerjamu yang bagus di perusahaan lama.” Alan meminum kopi lalu kembali meletakkan kopi ke tatakannya. “Apa scedhule-ku besok?” Tanya Alan datar.


Alta yang sudah siap membawa buku besar catatannya pun segera membukanya. “Biar saya cek dulu, Pak. Mm… Jam delapan Bapak ada meeting dengan direktur Arena Groups, kemudian jam sepuluh rapat kantor, dan jam tiga sore menghadiri undangan di kampus UGM sebagai motivator. Hari ini jadwal Bapak tidak begitu padat, Bapak memiliki banyak waktu luang.”


Alan mengangguk. Dia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, kemudian memejamkan mata sebentar dengan dahi bertaut.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak Alan?” Tanya Alta melihat Alan yang seperti sedang merasa gundah.


Alan membuka mata.


“Sejak tadi saya melihat Bapak seperti terlihat tidak nyaman. Barangkali Bapak bisa sharing kepada saya,” lanjut Alta.


“Tidak. Ya sudah, kau boleh pergi,” kata Alan.


“Maaf sekali lagi Pak, saya melihat sepertinya Bapak ada masalah. Boleh Bapak bicarakan kepada saya, mungkin saya bisa membantu.” Alta mengucapkannya dengan ringan. Tidak ada nada sungkan saat mengucapkannya. Hanya dalam bebrapa minggu saja dia menjabat sebagai sekretaris di sana, dia sudah terlihat leluasa.


“Aku tidak ada-apa.”


“Jika mengenai pekerjaan, saya akan sangat bersedia membantu. Tapi… sepertinya ini masalah privat. Baiklah, saya permisi.” Alta bangkit berdiri.


Pletak!


Hekter terjatuh bersamaan dengan sebuah kertas saat tangan Alta tanpa sengaja menyenggolnya. Alta buru-buru meraih kertas dan hekter yang terjatuh. Dia mengernyit saat sekilas membaca kertas yang baru saja dia pungut.


“Pak, ini ...” Alta menatap kertas di tangannya dan wajah Alan silih berganti.


Alan membeku di tempat.


***