
Pernikahan Stefi dilangsungkan tanpa pesta besar-besaran seperti yang pernah terjadi pada Alan dan Anna. Hanya mengundang para tetangga, kerabat, teman dekat, kolega yang tetap saja ujung-ujungnya rumah megah itu dipenuhi juga oleh para tamu undangan. Awalnya memang hanya mengundang beberapa orang saja, tapi ternyata bukan hanya satu atau dua orang saja yang dianggap penting hingga akhirnya para tamu pun berjubel. Bagi kalangan biasa, pasti menganggap pesta itu cukup ramai. Namun bagi kalangan berada, menganggap sederhana.
Tentu saja pria yang duduk di samping Stefi dan menyebut nama Stefi saat ijab qobul bukanlah Naga, melainkan sosok pria yang entah didapatkan oleh Reno dari mana. Ya, Alan meminta supaya Reno mencarikan sosok pria yang bisa menikahi Stefi. Entah alasan apa yang membuat pria itu bersedia menikahi Stefi, yang jelas Alan sudah menyediakan banyak uang untuk menghadirkan pria itu.
Alan sendiri tidak mengenal siapa pria yang akan menikah dengan adiknya.
Alan tidak menghadiri acara tersebut. Dia lebih memilih untuk pergi ke rumah sakit menemui dokter yang cukup akrab dengannya. Dia meminta diperkenalkan dengan orang yang menderita sakit seperti yang sekarang dia derita. Awalnya dia sempat menemui dokter Alfian, sayangnya tidak ada pasien yang menderita penyakit yang sama seperti yang Alan alami. Jadi terpaksa Alan mencari dokter lain untuk bisa menemui pasien dengan riwayat sakit yang sama dengannya.
Saat itu, Alan ditemani oleh Anna memasuki salah satu kamar rawat inap dimana seorang pria muda terbaring lemah dengan infuse bergelantungan di atasnya. Seorang wanita tampak begitu setia menyuapinya makan. Namun dengan kondisinya yang lemah, pria muda menolak dengan cara menggelengkan kepala. Si wanita pun sibuk membujuk.
Alan dan Anna bertukar pandang sesaat setelah memperhatikan interaksi antara si pria muda dan wanitanya. Mereka pasti adalah sepasang suami istri yang belum lama kawin eh nikah. Terlihat dari sikap si wanitanya yang dipenuhi bumbu-bumbu cinta, serta balasan tatapan mata si lelaki yang aduhai kesemsem. Sayangnya dalam keadaan yang seharusnya sedang bermadu kasih di awal-awal rumah tangga, malah diberi ujian seperti sekarang.
“Selamat pagi!” sapa Alan yang disambut dengantatapan bingung oleh si wanita. Ada orang asing memasuki kamar rawat suaminya.
“Pagi!” Meski dengan bingung, wanita itu membalas sapaan Alan.
Alan mendekati bed. Sekilas menatap pria yang terbaring dan kembali menatap si wanita. “Kenalkan saya Alan. Apakah dia suamimu?” Alan menunjuk pria yang terbaring di bed.
Si wanita mengangguk. Dia terlihat tidak ingin banyak bicara.
“Maaf, kami datang begitu mendadak. Tapi ini demi kebaikan bersama, saling sharing, saling support dan berbagi banyak hal dan pengalaman untuk bisa sama-sama menuju kesembuhan,” sambung Anna dengan seulas senyum lebar. “Dokter tadi merekomendasikan nama Anda. Dan kami kemari. Jika kalian tidak berkenan untuk menjadi bagian dari planning kami, kami tidak memaksa. Dan sekarang juga kami akan pergi.”
Si lelaki yang terbaring, menarik sudut bibirnya dan menganggukkan kepala. Dia kemudian bangkit dan setengah duduk dengan punggung menyender di sandaran bed.
Anna mendekatkan kursi untuk Alan bisa duduk di kursi tersebut. Kemudian ia mendampingi suaminya yang mulai membagikan pengalamannya saat harus menanggung sakit. Demikian juga si pria muda yang juga membagikan pengalamannya. Mereka memiliki ciri-ciri rasa sakit yang berbeda, meski rasa sakit yang diserang adalah sama, kepala. Mereka juga saling support untuk bisa bangkit dari rasa sakit dan melawan penyakit itu.
Melihat lawan bicaranya yang tampak tidak bersemangat, si pria muda justru terlihat mulai antusias dan memberi dukungan meski dia juga butuh dukungan. Sebaliknya, Alan yang sejak awal tidak bersemangat, tetap saja terlihat biasa saja. Motivasi apa pun tidak akan mungkin bisa mengubah keadaan. Hanya saja, dia menghargai ide istrinya sehingga dia bersedia ke sana atas permintaan Anna.
Sayangnya tidak begitu banyak yang bisa Alan dan pria muda itu bicarakan, sebab pria muda itu terlihat lelah dan ingin beristirahat.
Alan dan Anna pun berpamitan pulang. Mereka berkata akan datang kembali di lain waktu.
***
TBC