
Beberapa minggu sebelum para siswa dan siswi kelas dua belas bertempur dalam ujian nasional, mereka dikumpulkan di lapangan basket indoor lima belas menit setelah jam pulang. mereka diberi waktu lima belas menit untuk makan sebelum dikumpulkan di sana.
“Ada apa ya kok kita dikumpulin di sini?” tanya Arini sambil mengipas-ngipaskan buku ke depan wajahnya yang berkeringat. Hawanya hot karena ratusan siswa menyumbat memenuhi setiap sudut ruangan, bikin gerah.
Anna menggeleng.
“Apa mau dihukum rame-rame gara-gara tadi kita nggak ngerjain tugas, ya?” tebak Arini dan Anna tidak menanggapi. “Ann, kok lo kayak orang bingung gitu, sih?”
“Pusing gue, seminggu lagi gue bakalan nikah sama Alan,” bisik Anna dengan raut cemas. Banyak hal yang ia cemaskan setelah pernikahannya nanti. Bagaimana dengan sambutan keluarga Alan? Akankah ada yang garang seperti peran antagonis di sinetron-sinetron? Bagaimana dia akan menyesuaikan diri dengan keluarga barunya nanti? Bagaimana hidupnya saat sudah menyandang Nyonya Alan? Semua itu membuat Anna dihantui kegundahan yang tiada putus.
“Seminggu lagi? Secepat itu? apa nggak bisa ditunda setelah kelulusan gitu?”
“Kan udah gue bilang, rencana pernikahan udah ditentuin jauh-jauh hari. Susah ngegesernya mungkin karena orang tajir kan banyak urusan. Jadwal bakalan kebentur dengan hal-hal penting lainnya kalo nggak diurus semateng mungkin. Awalnya kan bukan gue yang seharusnya jadi calon Nyonya Alan.”
“Iya, sih. Tapi tenang aja. Lo bakalan hidup enak setelah jadi istri si perfect itu. jangan lupain gue, ya. sering-sering tengokin gue dan bawa makanan enak.”
Anna nyengir.
Beberapa orang guru tampak mengatur anak-anak supaya duduk rapi, mencubit yang bandel dan usil, serta tak lupa menjewer yang petakilan.
Tak lama seorang pria muncul setelah guru mempersilahkannya. Tak lain Alan. Baru saja pria itu berdiri mengambil tempat di depan, kasak-kusuk para siswi mulai terdengar. Sibuk membicarakan ketampanan Alan. Sibuk mengarahkan kamera ponsel ke arah Alan berusaha mengambil wajahnya menggunakan kamera canggih yang bila di-zoom tetap menghasilkan gambar yang tidak pecah.
Alan langsung ke topik, tanpa berbasa-basi. Ia tidak mau membuang banyak waktu. Kondisi anak-anak di jam segini tentu butuh istirahat, dan Alan sangat memahami hal itu. Alan mulai bercerita banyak hal, tentang pengalaman-pengalaman yang tentunya menjadi inspirasi bagi yang mendengar. Ia juga memutar sebuah film berdurasi lima belas menit yang menceritakan tentang kehidupannya, yang begitu gigih ketika menginginkan sesuatu hingga hal-hal mustahil pun ia lakukan demi menggapai cita-cita. Tentu saja menggunakan pemeran ilustrasi. Setelah video selesai diputar, Alan membagikan selembar brosur yang menceritakan beberapa pengalaman singkat yang menarik tentangnya saat jatuh bangun menggapai impiannya.
“Oke, kita masuk ke sesi tanya jawab. Any questiion?” tanya Alan.
Seorang cewek angkat tangan.
“Yes, please.”
“Itu tadi yang badannya cungkring, dadanya keliatan rak-raknya, trus berjambul orange itu Mister Alan, ya?”
Sontak terdengar gemuruh tawa menggaung memenuhi ruangan.
Alan tersenyum. Ia juga tidak tahu kenapa pemeran ilustrasi pria setampan dirinya harus dimainkan oleh si cungkring yang ada di video. Reno, asistennya yang mencari pemeran itu. Awalnya ia juga tidak setuju, tapi ya sudahlah. Itu kan hanya sekedar tokoh saja, biar ada sensasi komedi dan yang menonton merasa terhibur dengan penampilan si cungkring yang mukanya lucu bila dipandang.
TBC