
“Jangan bikin aku merasa bersalah untuk kedua kalinya. Turuti aku! Cepat masuk mobil dan jangan buang waktuku!” titah Alan dengan nada berat. “Aku akan lebih berhati-hati, jangan cemas aku akan mencelakakanmu. Kamu akan baik-baik aja bersamaku.”
Anna menghambur memasuki mobil. Lebih baik menurut dari pada ditatap sesangar itu oleh Alan.
Mobil putar haluan, kembali ke rumah.
“Aku bisa sendiri. Nggak perlu kamu antar ke dalam,” tutur Anna saat Alan ikut turun dan mengantar Anna.
“Aku hanya ingin menunjukkan ke orang tuaku bahwa kamu kembali bersamaku. Ayo, cepat. Aku masih ada urusan.” Langkah Alan terhenti saat pandangannya mendapati sebuah mobil terparkir di halaman luas. Ia kenal persis pemilik mobil itu, tak lain Reno. Alan menatap Reno yang berdiri di teras.
“Ada apa kesini? Tumben kamu nggak nelepon aku dulu sebelum menemuiku,” ujar Alan.
Reno melirik Anna. Ekspresi wajahnya sedikit berbeda dari biasanya, terlihat agak kesal. “Bukan aku yang berniat ke rumahmu.”
“Lalu?”
“Sepertinya sekaranglah saatnya Anna tau rahasia besar yang kau simpan, Alan.” Tatapan mata Reno tidak bersahabat.
Mendengar kata-kata itu, raut wajah Alan lantas memerah. Dengan gigi menggemeletuk, ia berkata, “Mbet, jangan cari perkara.”
Alan menarik lengan kombet dan menjauhkannya dari Anna. Mereka tampak bersitegang, entah apa yang mereka bicarakan.
Anna menggigit bibir bawah. Rahasia besar apa yang Alan sembunyikan? Apa maksud perkataan Reno?
Tak lama, Anna melihat Reno berpaling dan menjauhi Alan. Berdiri di ujung teras dengan muka frustasi.
Alan meninggalkan Reno. Berjalan dengan langkah lebar memasuki pintu rumah sembari menggandeng tangan Anna. Tubuh Anna terseret mengikuti Alan sesaat setelah menoleh ke arah Reno yang kebetulan menatapnya. Ekspresi Reno seperti ingin menyampaikan sesuatu namun mulutnya membungkam.
Anna hanya bisa mematung di sisi Alan. Bola matanya bergerak menatap satu per satu wajah-wajah di ruangan itu. Cintya terlihat santai, mengenakan gaun selutut dan tas branded di bahunya. William menampilkan ekspresi tegang bercampur emosi. Laura hanya diam. Sementara Alan semakin terlihat frustasi.
“Wanita ini datang ingin menemuimu, Anna,” tutur William datar.
Anna mengangkat alis. Bukankah urusan Cintya dengan Alan, lalu kenapa dia mengaku ingin menemui Anna?
“Selesaikan urusan kalian,” lanjut William menatap Cintya dengan pandangan kurang suka. Sejak awal ia sudah tahu bahwa Cintya adalah wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Alan. Dan ia berharap hubungan Alan dengan Cintya berakhir setelah ia menikahkan Alan dengan Anna. Tapi ternyata wanita itu justru datang ke rumah dengan penuh keberanian. “Anna, panggil Papa jika ada apa-apa.” William kemudian melenggang pergi diikuti oleh Laura.
Alan mendekati Cintya. Dengan tatapan tajam ia memegang lengan Cintya cukup kuat hingga membuat gadis itu menjerit kecil kesakitan.
“Kamu mengancamku dengan kedatanganmu ke rumah, hm?” suara Alan parau.
“Mengancam?” Cintya tersenyum cemeeh.
“Kenapa mengatasnamakan Anna untuk bisa masuk ke rumah ini?”
“Oh... Apa aku harus menyebut namamu? Nama Anna akan lebih baik kusebut dari pada harus menyebut namamu.”
“Kenapa kau datang ke rumah? Ini justru akan membuat keluargaku curiga,” gertak Alan dengan nada rendah. Wajahnya yang putih memerah. “Nggak bisakah kamu bersabar menungguku sebentar lagi? Jangan salahkan aku jika semuanya akan menjadi kacau akibat perbuatanmu sendiri.”
“Kamu nyalahin aku? Kita udah bikin janji, satu jam lebih aku menunggumu dan kamu masih bilang aku harus bersabar?”
TBC