
Dua jam berkeliling sampai-sampai Alan mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi Anna, tetap saja tidak menemukan Anna. Satu pun anak buahnya belum ada yang melaporkan keberadaan Anna. Sepertinya ia mendapat hukuman atas apa yang sudah ia lakukan terhadap istrinya. Sekarang ia sendiri yang gelisah.
Pikiran buruk langsung menyerangnya, ia takut Anna diculik orang, takut Anna digodain lelaki di jalanan, atau hal-hal buruk lainnya yang mungkin saja bisa terjadi.
Alan menepikan mobil. Ia memijit pangkal kedua alis, kepalanya rasanya mau pecah.
Salah seorang anak buahnya mengirimi nomor sesaat setelah ia meminta nomor ponsel Arini. Bukan hal sulit bagi anak-anak buahnya mendapatkan informasi tentang seseorang. Seingatnya, Arini adalah teman dekat Anna dan kuliah di kampus yang sama dengan Anna. Kemungkinan Anna sedang bersama Arini.
Alan menempelkan ponsel ke telinga dan nada sambung terdengar mengerikan di seberang.
Lagu apa itu? Seperti lagu kematian. Ia geleng-geleng kepala, remaja jaman sekarang memang aneh-aneh. Disaat jutaan remaja gila-gilaan menyukai musik rok, Arini malah menyukai lagu yang mengingatkan dengan kematian.
“Aku suami Anna. Apa Anna bersamamu?” tanya Alan setelah Arini menjawab telepon. “Thanks. Bisa kirimi nomer Joli?”
Alan menekan tombol merah sesaat setelah mendapatkan jawaban dari Arini yang mengatakan kalau Anna tidak sedang bersamanya. Tak lama kemudian nada sms masuk, Alan mendapatkan nomer ponsel Joli dan segera menghubunginya.
“Gue nggak bersama Anna sekarang, udah beberapa hari nggak ketemu dia,” jawab Joli setelah Alan menanyakan keberadaan Anna.
Alan mematikan ponsel dan melemparnya ke dasbor. Napas kasar terdengar keras dari mulutnya. Ia merasa telah melalaikan tanggung jawabnya, tidak bisa menjaga istri, bahkan sekarang tidak tahu dimana keberadaan istrinya.
Suami macam apa dia? Kenapa sekejam itu pada Anna? Kembali terlintas diingatannya ketika ia menurunkan Anna di pinggir jalan. Ya ampun, hatinya ngilu sendiri mengingat semua itu. Penyesalan memang datangnya selalu belakangan. Menyesakkan dan menyebalkan.
Rafa. Tiba-tiba saja nama itu terlintas di pikiran Alan. Apakah mungkin Anna pergi menemui Rafa? Ia berusaha membuang pikiran buruk tentang Rafa, tapi tetap saja nama itu terlintas di otaknya.
Ia kembali melajukan mobil mencari alamat yang baru saja dikirim anak buahnya. Mobilnya berhenti di depan sebuah rumah besar. Beberapa meter sebelum sampai di sana, ia sempat mengingat-ingat lokasi familier yang dilaluinya itu.
Benar saja, ia mengenal alamat yang dituliskan anak buahnya. Tak lain rumah Rafa, tapi sekarang ia malah sampai di rumah Cintya.
Dugaan Alan benar jika ternyata Cintya dan Rafa tinggal serumah. Karena ketika Cintya membukakan pintu untuknya, Rafa tampak asik bermain game dengan posisi berbaring nyaman sambil ngemil.
“Alan? Oh my God, ini kejutan buatku.” Cintya memeluk Alan. Tangan Alan menggantung di udara.
“Ayo, masuklah.” Ia menarik lengan Alan setelah mengusap pipi pria itu melepas rindu. “Makasih kamu dateng ke sini. Aku nggak tau mesti ngomong apa. Aku bahagia sekali. Biar kusuruh Bibik bikinin kopi ginseng untukmu, aku tau kesukaanmu kopi ginseng, kan?” Cintya girang, seakan-akan kedatangan Alan adalah untuk menemuinya.
Alan sepertinya kurang fokus mendengar kata-kata Cintya, isi kepalanya sedang dipenuhi tentang hilangnya Anna. Pandangannya tertuju kepada Rafa.
“Dia Rafa, adikku,” terang Cintya mengikuti arah pandang Alan.
Alan mengangguk.
TBC