
Alan merebahkan tubuhnya ke kasur dengan posisi setengah berbaring. Dia sudah berpenampilan rapi dengan kemeja, celana kelemis, rambut berminyak dan sepatu mengkilap. Kedua kakinya naik ke kasur.
Sementara Anna sibuk memakaikan pakaian Azzam. Si gemil itu bergarak ke sana kemari sehingga Anna kesulitan mengancingkan kemeja bocah itu. Azzam bahkan berteriak-teriak hendak menangis saat Anna memaksakan posisi tubuh Azzam supaya menghadap ke arahnya sehingga ia akan dengan mudah memakaikan kemeja tersebut. Azzam sibuk memainkan mobil-mobilannya.
“Azzam sayang, ini nggak akan selesai kalau kamu gerak-gerak terus. Pakai baju dulu, dong!” Anna berusaha merayu Azzam dengan sabar.
“Ta taatammmanaa..” Entah apa yang dikatakan Azzam, dia aktif bergerak dan mengoceh sambil memainkan mobil-mobilannya.
“Mas Alan, bantuin, dong! Azam payah banget ini disuruh pakai baju. Kalau begini, kapan kelarnya?” Anna menatap Alan yang sedang dalam posisi setengah berbaring di kasur.
“Suruh baby sitter saja,” jawab Alan tanpa menggerakkan badannya dari kasur.
“Baby sitter sedang mandi. Bantu pegangin badan Azzam aja. Biar aku pakaikan bajunya,” pinta Anna dengan nada manja.
Alan masih diam saja, netranya menatap kesibukan Anna dan Azzam yang terjadi dengan luar biasa akibat keaktifan Azzam yang tanpa jeda.
“Mas Alan, ayo bantuin, dong!” Anna mulai sedikit kesal melihat Alan yang hanya diam saja.
Dengan gerakan malas, Alan bangkit bangun dan jongkok. Dia menyentuh tubuh Azzam di kedua sisi ketiak bocah itu.
“Makasih, ya!” ucap Anna karena sudah mendapat bantuan dari Alan. Dia pun mulai memasangkan kancing kemeja Azzam.
Mendapat pegangan oleh Alan, Azzam seperti tidak suka hingga ia menjerit dan meronta minta dilepaskan. Dia melompat-lompat ingin melepaskan diri, terus menggerak-gerakkan tubuhnya.
Plak!
Azzam memukulkan mobil-mobilan yang berukuran sangat besar ke kening Alan. Bukan hanya itu saja penderitaan yang dialami oleh Alan, tangan Azzam dnegan sangat cepat meraih mangkuk berisi sisa es krim yang belum sempat dibawa pergi oleh Anna ke kemeja Alan.
“Ah…!” Dahi alan mengernyit menahan sakit di kening bekas hantaman, dia juga mendesah kesal menatap kemejanya yang menjadi kotor.
“Sudah! Sudah! Ini, pegang Azzam!” Alan menyerahkan tubuh si kecil kepada Anna. Dia bangkit berdiri sambil mengamati kemeja dan celananya yang menjadi kotor dengan tatapan kesal.
“Maaf, Mas alan. Namanya juga anak kecil. Azzam belum tahu apa yang dia lakukan,” ucap Anna melihat kekesalan Alan. “Aku yang salah karena tadi lupa membawa mangkuk berisi sisa es krim milik Azzam ke luar.”
Alan tidak menanggapi. Dia melenggang masuk ke kamar mandi. Pandangan Nona kembali kepada Azzam yang kini ada di pangkuannya. Ia terkejut melihat baju Azzam yang sudah susah payah dipakaikan ke tubuh bocah itu, kini tampak belepotan akibat terkena cipratan es krim.
Anehnya, si kecil malah tertawa dengan kekehan keras saat menatap wajah Anna. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pipi Anna.
Gemas, Anna hanya tersenyum saja meski dia harus kembali melepas pakaian Azzam. Ya, Anna melepas pakaian Azzam dengan terburu-buru supaya tidak ketahuan oleh Alan. Dia takut Alan akan semakin kesal saat mendapati pakaian Azzam menjadi kotor.
Anna menggendong Azzam menuju ke kamar sebelah, tepatnya ke kamar baby sitter.
“Arni, tolong kamu pakaikan baju untuk Azzam. Cari baju yang bagus. Kami mau makan malam di restoran! persiapkan juga semua perlengkapan Azzam untuk bepergian, sapu tangannya, dan semua peralatan untuk Azzam!” titah Anna kepada baby sitter yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono.
“Baik, Nona!” Baby sitter meraih tubuh Azzam.
“Cepetan, ya! Nanti kalau udah selesai, kamu langsung bawa Azzam ke bawah!”
“Baik!”
Anna kembali ke kamar dan mengelap ceceran es krim yang mengenai lantai, lalu meletakkan mangkuk ke meja.
Setelah semuanya beres, Anna mengambil celana dan kemeja untuk Alan. Dia terduduk di sisi ranjang sambil memegangi pakaian itu di pangkuannya, menunggu Alan keluar dari kamar mandi. Tapi sudah lima belas menit berlalu, suaminya itu tak kunjung keluar. Apa lagi yang dilakukan Alan di kamar mandi? Serius, alan kini lebih suka menghabiskan waktu dengan berlama-lama di kamar mandi. Ya ampun.
Anna mengetuk-ngetukkan ujung jari-jarinya karena tak sabar menunggu.
BERSAMBUNG