Holy Marriage

Holy Marriage
Panik



“Alta, apa kamu mengetahui sesuatu tentang mas Alan? Sebelum pergi ke luar negeri, Mas Alan terlihat berbeda dan aku tidak tahu apa alasannya.”


“Jadi..”


Belum selesai Alta bicara, Alan datang dan kini sudah berdiri di ambang pintu, “Anna!” panggilnya membuat sejurus pandangan tertuju ke arahnya.


“Mas Alan?” Anna tersenyum.


“Ayo, pulang! Urusanku sudah selesai,” ajak Alan.


Anna menoleh ke arah Alta, dia tersenyum sambil menyentuh lengan wanita itu. “Lain kali kita mengobrol lagi. Makasih atas waktunya.”


“Sama-sama.” Alta membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.


Anna melenggang menuju ke arah Alan dan merangkul lengan suaminya itu meninggalkan ruangan.


Sebenarnya Anna masih ingin membicarakan banyak hal pada Alta, namun sepertinya waktunya tidak tepat.


Netra Anna melirik Alan yang mengiringi di sisinya. Pria itu terlihat sangat berwibawa dan penuh image saat berada di kantor. Anna gemas sekaligus kagum sekali melihat sikap Alan yang jauh berbeda antara keberadaannya di rumah dan saat di kantor begini.


Saat di kantor, hanya ketegasan dan kewibawaan yang tampil di dalam diri pria itu. Namun saat berada di rumah, Alan dipenuhi dengan kemesraan meski sikapnya yang datar tidak berubah. Hanya saja, beberapa bulan terakhir kemesraan itu hilang entah kemana. Ketidakperdulian Alan yang sempat muncul, kini berangsur memudar.


Anna sedang berusaha mengembalikan Alan yang dulu.


Setibanya di mobil, Anna mendapat telepon dari William.


"Halo, ada apa, papa?" Anna sudah menempelkan ponsel ke telinga.


"Cepat kemari, Anna!" titah William dengan suara dipenuhi kecemasan. Terdengar suara tangis yang mengalahkan speaker masjid di sisi William. Tangisan yang tidak asing bagi Anna, suara Azzam mengamuk.


"Ya Tuhan, Azzam kenapa, Pa?" Anna cemas.


Alan yang sedang menyetir pun menoleh ke arah Anna dengan alis terangkat.


"Ya ampun, Azzam. kenapa bisa sampai begitu? Baiklah, aku akan secepatnya kesitu, pa."


"Papa tunggu. Cepat ya."


Suara William terdengar sangat cemas.


Anna menatap Alan sambil memasukkan ponsel ke dalam tas dengan gerakan terburu- buru. "Azzam terkena pisau. Ayo, kita cepat kembali ke rumah papa."


Alan mengangguk dan mempercepat kelajuan mobilnya.


"Azzam, apa yang terjadi dengannya sampai bisa terkena pisau? Sekarang bagaimana kondisinya." Anna mengoceh sendiri dengan raut gusar.


"Kita akan cepat sampai."


"Azzam nggak mau diobati. Mungkin darahnya mengucur deras, mungkin dia kesakitan, atau mungkin... Bagian apa yang terkena pisau, ah aku nggak sempat menanyakannya ke papa." Anna panik bukan main.


Sekilas Alan melirik wajah panik di sisinya. Sungguh luar biasa kepanikan itu hingga membuat wajah Anna memucat dalam seketika.


"Mas Alan, ini masih jauh lagi. Ya ampun." Anna menyentuh lengan Alan.


Meski lengan Alan dibalut kemeja, namun Alan dapat merasalan betapa dingin telapak tangan yang menyentuhnya itu.


"Anna, tenanglah. Di sana ada mama dan papa, ada banyak orang yang bisa mengatasi. Kamu tidak perlu secemas ini." Alan berusaha menenangkan Anna meski dirinya juga merasakan kepanikan yang serupa.


"Mereka nggak akan mengerti caranya megatasi Azzam. Dan Azzam akan terus terluka sebelum diobati. Aku bahkan nggak tahu separah apa luka Azzam. dan kenapa Azzam bisa sampai memegang pisau?" Kepanikan Anna tak kunjung reda.


"Oke. kita akan sampai sebentar lagi."


TBC