
Azzam masih ada dalam gendongan Anna saat wanita itu turun dari mobil dan melangkah memasuki rumah, mengikuti Alan di depan.
Alan tiba-tiba berhenti saat baru saja membuka pintu. Pria itu menahan langkahnya di sana.
“Mas Alan, buruan dong! Ini aku yang gendong Azzam loh, berat nih. Kok, malah kelamaan di situ,” protes Anna melihat Alan yang tidak menggerakkan langkah. Pria itu baru membuka pintu sebelah dan itu pun ditutupi oleh tubuh besar Alan. Sementara pintu sebelahnya lagi belum sempat dibuka.
Alan masih diam.
“Ya ampun Mas Alan, cepetan!” Anna mendorong punggung Alan dengan tubuh Azzam dalam gendongannya hingga pria itu terdorong maju.
Arni, sang babay sitter yang diperintahkan Anna supaya pulang ke rumah, sudah berada di rumah lebih dulu sebelum majikannya pulang. Dia segera menyambut Azzam dan mengambil tubuh gemuk itu dari gendongan Anna, lalu membawanya ke kamar.
Anna menoleh ke arah Alan, pria itu masih berdiri di tempat semula dengan mata terpejam dan satu tangan berpegangan dengan handle pintu erat-erat. Beberapa butir keringat berjatuhan di pelipis Alan.
Anna mengernyit heran menatap Alan. Apa yang sedang terjadi dengan pria itu?
“Mas Alan!” Anna mendekati Alan.
Alan tidak menjawab. Dahinya mengernyit hebat.
“Mas Alan, kamu kenapa?”
Alan masih diam saja. Dia kembali merasakan denyut di kepala begitu hebatnya. Rasanya sakit, sakit sekali. Bahkan jauh lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Inilah rasa sakit paling hebat yang pernah dia rasakan. Alan ingin mengerang, namun dia menahan sekuat mungkin. Seperti sejak awal, dia tidak ingin terlihat sakit di hadapan Anna. Andai saja tidak ada Anna, maka dia sudah menjatuhkan tubuhnya di lantai dan mengerang sebisanya.
Setelah sekian lama Alan tidak merasakan sakit di kepalanya, sekarang rasa sakit itu kambuh lagi.
“Mas Alan, kenapa nggak menjawabku? Ada apa denganmu?” Anna menyentuh lengan suaminya. Melihat Alan terdiam di pintu dengan mata terpejam dan dahi mengernyit, tentu Anna merasakan kejanggalan.
Anna mundur selangkah. Terkejut atas sikap Alan. Lagi-lagi Alan bersikap kasar kepadanya. Sebenarnya Anna kesal sekali setiap kali mendapat perlakuan begini dari Alan. Dia ingin menyunat Alan sampai habis saja. Tapi kata ayahnya, bersabar itu lebih baik dari apa pun. Dan begini jadinya, dia lebih baik mengalah dnegan keadaan. Sunat untuk Alan batal. Prinsip hidupnya lebih memilih untuk mengikuti ajaran orang tua supaya tidak sesat, yaitu bersabar.
“Aku bertanya baik-baik ini tadi loh, Mas Alan.” Anna masih menatap Alan dengan intens, mengawasi setiap gerakan tubuh pria itu.
“Sudah! Pergi sana! Jangan ganggu aku!” Alan melenggang menuju sofa, melempar tubuhnya di sofa,berbaring dan memejamkan mata.
Bukannya pergi, Anna malah mengikuti Alan menuju sofa. Dia berdiri di sisi sofa dengan tangan menyilang di dada, menatap wajah Alan yang terpejam tak peduli dengan keberadaannya.
“Mas Alan! Kamu udah balik kayak dulu lagi loh, jangan kumat ya nyelenehnya, tiba-tiba berubah tanpa alasan yang jelas,” celetuk Anna.
Alan diam saja. Dia terus menahan rasa sakit di kepalanya. Dia bahkan hampir tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Anna.
“Mas Alan!” Anna memukul lengan Alan kuat.
“Hm,” gumam Alan masih terpejam. Bagaimana mungkin dia akan menanggapi Anna, kepalanya nyeri bukan main. Hanya satu yang ada di pikirannya sekarang, apakah dia akan mati?
“Mas, apa kamu sakit?” Anna membungkukkan tubuh untuk mendekatkan jarak pandang ke wajah Alan. Dahi Alan yang berkerut kuat membuatnya merasa sangat penasaran. Tapi mana mungkin Alan sakit, suhu tubuh pria itu normal, pria itu juga rutin cek kesehatan, memiliki dokter pribadi yang handal dalam mengatasi kesehatan, serta selalu memakan makanan yang bergizi.
Hembusan nafas Anna yang menampar kulit pipinya, membuat Alan sadar kalau Anna mendekatkan wajah ke arahnya.
“Halah!” sergah Alan sambil menghempaskan lengannya ke arah Anna dengan kuat hingga mengenai bahu wanita itu.
Tubuh Anna terdorong mundur dan tersungkur di lantai akibat dorongan Alan yang begitu dahsyatnya. Alamak, bok*ngnya sakit sekali akibat terhantam ke lantai. Nyeri bukan main. Alan benar-benar keterlaluan, sikap anehnya kumat lagi. Jangan-jangan dia kesurupan, apa perlu dibacakan surat yasin?
TBC