Holy Marriage

Holy Marriage
Bersyukur



“Aku merasakan gerakan anak kita.” Tangan Alan menyentuh permukaan perut Anna dan mengikuti arah janin yang bergerak-gerak. Jantung Alan berpacu sangat kencang merasakan gerakan-gerakan dan tendangan kecil itu. Sensasi itu sungguh dahsyat mampu membuatnya merasa menjadi manusia paling bersyukur di dunia ini. Hanya dengan merasakan gerakan janin, Alan merasakan pola pikir dalam dirinya seperti menjadi lebih matang.


Sementara Anna merasakan sensasi hebat setiap kali tendangan itu terjadi di perutnya. Bukan baru kali ini Anna merasakan tendangan dahsyat janinnya, sebelumnya sudah sering. Semakin kandungannya membesar, Anna merasakan tendangan janinnya semakin kuat, berbagai macam gerakan tercipta dalam perutnya. Tonjolan-tonjolan serta tendangan-tendangan janinnya bisa ia rasakan dengan jelas dan nyata. Terkadang Anna sampai menyingkap bajunya demi untuk bisa melihat pergerakan dalam perutnya, entah itu siku tangan, siku kaki, tumit atau apa. yang jelas berbentuk lancip dan menonjol ke permukaan perut, bergerak dari sisi perut sebelah kanan sampai ke sisi kiri, membuat kulit perut Anna menjadi menegang. Sesekali tendangan itu membuat perutnya terasa ngilu.


Jagoan dalam perut Anna benar-benar kelewat aktif. Durasi pergerakannya begitu singkat, terkadang Anna sampai sulit tidur gara-gara isi perutnya yang bergerak-gerak terus.


“Anak kita aktif banget, geraknya ya ampun… kuat banget.” Alan asik bermain dengan perut Anna. Mengusap-usap permukaannya dan mencoba memancing supaya si janin kembali menonjolkan diri ke permukaan perut dengan cara banyak bicara serta mengusap-usapnya tanpa henti. Seolah-olah janin dalam perut Anna mengerti sedang diajak ngobrol. Lucu sekali.


Alan merasa semakin sempurna menjadi laki-laki. Bagaimana tidak? kelahiran anaknya kelak menjadi bukti kalau bibitnya ampuh dan unggul. Sebentar lagi ia akan menjadi sosok ayah. Ia tidak sabar menanti waktu itu tiba.


“Mas, aku haus.”


“Biar kuambilin air minum.” Alan bangkit bangun dengan gerakan cepat.


“Aku nggak minta diambilin, aku bisa ambil sendiri.”


Alan tidak perduli, ia menyerahkan segelas air mineral yang baru saja ia ambil dari dispenser.


Anna meneguk hingga habis.


“Mau lagi?” tanya Alan siap mengambilkan segelas air minum yang baru.


“Enggak.” Melihat sikap Alan yang siaga, Anna semakin yakin kalau perhatian Alan sangat besar untuknya.


“Mau kemana? Biar kuanterin.”


Anna mengerutkan dahi melihat Alan yang mendadak sangat perhatian, dan jauh berbeda dari Alan yang biasanya.


“Nggak usah, Mas. Aku cuma mau ke kamar kecil.”


“Oouh…”


Alan menunggu hingga Anna keluar dari kamar kecil. Ketika Anna selesai dengan kegiatannya dan keluar dari kamar mandi, Alan sudah berdiri di depan pintu layaknya seorang pengawal yang siaga.


“Kamu kayak orang kebingungan gitu? Ada apa?” tanya Anna yang melihat Alan berdiri terpaku di depan pintu kamar mandi.


“Enggak ada apa-apa. Aku cuma nggak sabar pengen jadi ayah.” Gerakan janin yang Alan rasakan tadi membuat Alan merasakan sesuatu yang aneh, mendebarkan dan membahagiakan. Alan lantas berlutut, menyamakan posisi wajahnya dengan perut Anna. Ia menyingkap baju atas Anna yang longgar lalu memasukkan kepala ke dalamnya. “Papa ingin kamu jadi jagoan yang soleh.”


Alan lantas mengecup perut Anna sangat lama.


Sentuhan hangat bibir Alan di perut Anna membuat Anna merasakan sesuatu yang aneh mengaliri darahnya, lebih tepatnya sentuhan yang mengantarkan perasaan sayang.


“Alhamdulillah… Ya Allah,” lirih Alan saat melihat dengan jelas sesuatu yang bergerak di permukaan perut istrinya. Telapak tangannya mengikuti arah pergerakan itu hingga hilang dari permukaan kulit perut.


Tbc