
Yang membuat Anna sedikit risih, kelakuan Vania yang nyosor mencium pipi kiri dan kanan Alan saat baru saja memasuki ruang rawat. Mungkin bagi kalangan orang-orang kantor, hal demikian adalah wajar, tapi tidak bagi Anna. Tak lupa Vania mengucapkan semoga Alan lekas sembuh. Ia datang bersama Reno, mewakili perusahaan. Vania juga minta maaf telah membuat Anna hampir terjatuh saat berada di lokasi pesta, ia mengaku sengaja memasang kaki hingga Anna tersandung, alasan dari sikapnya itu karena ia adalah salah satu penggemar Alan dan tidak menyukai kehadiran Anna. Tapi kini ia sadar, Anna adalah satu-satunya wanita yang berhak mendapatkan Alan karena dia sudah dipilih Alan sebagai istri.
Tidak ada yang Anna ucapkan selain memaafkan Vania. Semua orang pasti melakukan kesalahan, dan dengan Vania mengakui kesalahan, cukup membuat Anna mengakui betapa gadis itu berjiwa besar.
Sepeninggalan mereka, tinggal Anna dan Alan saja yang saling pandang. Anna duduk di sisi bed.
“Anna, kamu menungguiku?” Alan berusaha bangkit duduk dan sedikit merintih saat merasakan nyeri di dada bawahnya.
“Jangan bergerak dulu.” Anna menahan tubuh Alan supaya tetap berbaring.
Alan terdiam merasakan sentuhan hangat tangan Anna di lengannya yang tanpa penghalang. Saat itu dada Alan dalam balutan perban, ia tidak mengenakan baju.
“Aku ingin katakan sesuatu.” Dengan mata berbinar, Anna menatap suaminya yang terlihat kusut.
Alan diam saja, lehernya tercekat, ia takut Anna akan mengulang kalimat yang sama ketika terakhir kali meninggalkannya. Tuntutan cerai. Alan menatap wajah Anna yang terlihat gembira. Bahkan kini di pipi wanitanya itu terlihat semu merah. Seperti orang sedang kasmaran. Bahkan untuk memulai bicara saja, pipi mulus itu terlihat semakin merona.
Anna menelan dengan sulit. Lidahnya terasa kaku dan lehernya tercekat. Padahal sejak tadi ia sudah mengumpulkan kosa kata sebanyak-banyaknya untuk bicara, sudah merencanakan tindakan-tindakan mesra untuk Alan, tapi kenyataannya sekarang ia malah membisu. Ada apa dengannya? Alan yang kini menatapnya lekat itu membuatnya merasa sangat asing pada dirinya sendiri, organ tubuhnya mendadak aneh.
Alan menaikkan alis penuh keragu-raguan.
Ah, ya ampun, Anna semakin grogi. Ia butuh air minum, sepertinya tenggorokannya perlu dialiri air supaya bisa bicara lancar. Ia pun menyambar gelas berisi air putih di atas meja. Sontak, matanya terbelalak saat menyadari gelas sudah berpindah ke tangan Alan. Bukankah ia yang mau minum? Kenapa gelasnya malah dia berikan pada Alan? Betapa sulit mengendalikan perasaan, tingkah lakupun jadi amburadul efek otak tidak sinkron. Gagal fokus jadinya. Anna hanya bisa menelan saliva saat melihat Alan meneguk air minum.
“Aku sayang sama kamu.”
“Uhuk uhuk….!” Sontak Alan langsung terbatuk hingga air minum di mulutnya muncrat sebagian dan ia mengusapnya dengan lengan. Apa ia tidak salah dengar? Kata-kata yang baru saja terdengar, terasa menyejukkan hati. Ia ingin mendengar sekali lagi. Begitu pandangannya kembali ke wajah Anna, istrinya itu tersenyum lebar sembari menatap penuh cinta.
Alan hampir tidak bernapas ketika melewatkan satu tarikan napas hanya demi memandangi wajah cantik istrinya. Tidak sia-sia usahanya selama ini, ia berhasil membuat Anna jatuh cinta. Setelah ini ia harus berterima kasih kepada Tuhan. Ternyata membuat setingan berpacaran dengan perempuan lain adalah hal ampuh untuk membuat istri menyadari seberapa besar perasaan cintanya.
TBC