
“Dok!” panggil Aldi ketika dokter perempuan keluar dari kamar. “Gimana keadaan Anna? Dia baik-baik aja, kan?”
Alan terperanjat menyadari sudah kecolongan sehingga Aldi yang duluan menanyai dokter. Ala menghela nafas, menganggap Aldi benar-benar sudah keterlaluan, sampai-sampai bersikap seakan-akan dirinyalah yang berhak atas Anna. Jika tidak sedang di rumah sakit, tentu Alan sudah membungkus Aldi dan menyerahkannya ke mobil truk sampah.
“Anda keluarganya?” tanya Dokter pada Aldi.
“Ini suaminya, Dok,” sahut Stefi sebelum sempat Rafa menjawab. Tangannya memegangi lengan Alan.
Pandangan dokter terarah ke wajah Alan yang direkomendasikan sebagai suami pasiennya. “Istri Anda mengalami anemia. Harus banyak istirahat, jaga pola makan yang seimbang dan perbanyak konsumsi makanan yang tinggi gizi.”
Alan mengerutkan dahi. Ya kali, ia dianggap sebagai suami yang tidak memenuhi gizi istri. Masak sih pemilik perusahaan besar bisa membuat istri kekurangan gizi? Memalukan. Memangnya apa yang Anna konsumsi selama ini? Jangan-jangan yang dia makan jengkol terus.
“Maksudnya, istri saya kurang gizi, gitu?”
Dokter itu tersenyum. “Nanti saya kasih vitamin. Silakan kalau mau dijenguk.” Dokter itu melenggang pergi.
Alan garuk-garuk kepala. Lalu masuk ke kamar.
“Saya permisi. Jangan segan meminta bantuan jika terjadi apa-apa,” tukas Aldi pada Stefi yang langsung diangguki dan diiringi senyum manis oleh Stefi.
Alan mendekati bed tempat Anna terbaring, meraih tangan Anna dan mengecupnya sebentar. Ia menoleh saat menyadari Rafa sudah berdiri di belakangnya. Si kunyuk itu entah kenapa pula muncul terus di dekat Anna, seperti bayangan yang mengikuti kemana pun Anna pergi.
Rafa tersenyum, sedikitpun tidak terpengaruh dengan sikap dingin Alan. Dengan santainya ia melipat tangan di dada dan berdiri di sudut ruangan tanpa menggubris perkataan Alan.
Jika saja tidak sedang berada di dalam kamar pasien, tentu Alan sudah meratakan wajah Rafa. Tapi sepertinya ia harus banyak-banyak bersabar supaya kemarahannya tertahan. Sikap Rafa benar-benar menguji kesabarannya.
“Keluarlah! Aku suaminya Anna. Aku butuh privasi,” pinta Alan tanpa menatap Rafa yang berdiri di belakangnya.
“Tapi ini rumah sakit. Ini tempat umum. Siapa aja boleh kesini,” jawab Rafa.
“Raf, otak lo udah miring, ya? Anna itu udah punya suami. Bisa nggak lo ngejar cewek yang masih singel? Ngebet banget sih lo sama Anna?” timpal Stefi yang baru saja masuk kamar dnegan nada agak histeris hingga membuat ruangan menjadi berisik. Ia sudah sangat kesal dan muak melihat tingkah laku Rafa yang begitu antusias pada istri orang.
“Oke, gue keluar,” tukas Rafa ketika menatap mata elang Alan yang menoleh ke arahnya. Mata itu begitu tajam dan horor membuatnya seperti terkena setrum. “Gimana gue nggak ngejar-ngejar Anna, dia udah tau luar dalem punya gue, begitu juga sebaliknya, gue tau banget semuanya tentang Anna. Namanya juga mantan. Jadi ya susah gue ngelupainnya.” Rafa melirik Anna yang terbaring di ranjang dengan alis naik, dan tingkah lakunya itu berhasil membuat batin Alan berkecamuk.
Belum sempat Rafa beranjak pergi, mata Anna sudah terbuka dan mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk memulihkan pandangan. Yang pertama menjadi objek pemandangannya adalaha wajah Alan yang begitu dekat dengan wajahnya. Kemudian Stefi, dan terakhir Rafa.
Untuk sesaat Anna mengingat ulang kejadian sebelumnya. Masih jelas membekas di ingatannya terakhir kali ia dalam keaadaan sadar, Rafa dan Stefi sedang adu mulut dan kemudian ia jatuh terkapar di lantai. Ia masih bisa merasakan sentuhan tangan kokoh yang meraih dan membawa tubuhnya. Setelah itu kesadarannya hilang total.
TBC