
Anna yang berniat hendak pergi dan sudah mengenakan pakaian rapi, tali tas di pundak, terperangah melihat Azzam yang menangis tersedu memasuki kamar. Anna merapikan jilbab, mendekati Azzam dan meraih tubuh bocah itu.
"Azzam sayang, ada apa, Nak? kok nangis, sih?" Anna memegangi lengan putranya.
Tidak menjawab, Azzam malah semakin tersedu dan menjatuhkan kepalanya di pundak Anna. Eh, dia nyaman sekali di posisi itu.
"Azzam kenapa nangis? Mukanya jelek banget tuh kalau nangis. Idih, kayak bakpao." Anna mengelus punggung Azzam.
Tiba-tiba tangis Azzam berhenti, namun isakannya masih terdengar, kemudian bocah itu bertanya, "Mama mau kemana?"
Azzam menjauhkan tubuhnya untuk memberi jarak pandang.
"Mama mau keluar sebentar. Kenapa? Azzam mau dibeliin apa?" tanya Anna.
"Gak mau dibeyiin apa apa. Azzam mau ikut." Tangis bocah itu lenyap dan berganti dengan tawa riang sambil melompat-lompatkan tubuhnya yang gemil.
"E eh, nggak boleh ikut. Mama ada perlu loh ini. Azzam sama Teh Arni aja di rumah, nanti teh arninya sendirian di rumah, kasian kan," bujuk Anna.
"Gak boyeh pelgi kayau mama gak cama Azzam," Azzam menarik-narik lengan Anna.
Dering ponsel di tas membuat Anna sekilas mwngabaikan Azzam dan fokus pada benda pipih itu. Dia menjawab telepon masuk yang bersumber dari tim medis.
"Alhamdulillah. Baiklah saya akan segera ke rumah sakit sekarang," ucap Anna menanggapi telepon masuk. Lalu ia memutus sambungan telepon. Pandangannya kini tertuju ke wajah tembem di hadapannya, "Azzam sayang, Azzam ngak bisa ikut mama. Azzam di rumah aja ya. Soalnya mama sekarang mau ke rumah sakit, takutnyabAzzam disuntik Pak dokter kalau ikutan ke rumah sakit. Emangnya Azzam mau disuntik? Cuuuss.. pakai jarum." Anna mendaratkan ujung telunjuknya ke lengan Azzam, sontak bocah itu membayangkan suntik yang pernah dia lihat saat kakeknya sakit dan disuntik dokter.
"Gak mau. Azzam gak mau dicuntik." Azzam menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gerakan cepat sampai pipi tembemnya pun bergoyang bak dangdutan.
"Nah, makanya Azzam di rumah aja, main bola sama Teh Arni. okey, ganteng?" bujuk Anna sambil mengusap pucuk kepala si tembem.
Kepala Azzam mengangguk-angguk cepat.
"Pinter!" Anna mengecup singkat pipi tembem Azzam. Kemudian menggandeng Azzam menuju keluar kamar. Anna mencari keberadaan Arni dan menyerahkan Azzam kepada gadis yang baru saja selesai mandi itu.
Bergegas Azzam menghambur dan memeluk Arni.
"Titip Azzam ya, Ar. Aku mau pergi." Anna melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari Arni. Tujuannya adalah ke rumah sakit. Dia ada janji dengan Arini, dokter yang tempo hari merekomendasikan pertemuan dengan pasien berpenyakit yang sama seperti penyakit yang diderita oleh Alan.
Tidak butuh waktu lama hingga kini Anna sudah sampai di rumah sakit dan duduk berhadapan dengan Arini, dokter yang tak lain adalah teman SMA Anna, teman sejati, sahabat dan orang yang paling dekat dengan Anna. Tentu saja sahabatnya itu bersedia membantu mengingat solidaritas pertemanan. Harga persahabatan lebih mahal dari materi.
Dokter mengangguk. Kemudian kembali menjelaskan dengan gamblang apa saja yang telah terjadi dengan Alan, kenapa kepalanya diserang rasa sakit.
Anna menelan saliva dengan sulit. Sudah sejak keterangan pasien penderita radang selaput otak kemarin yang mengaku memiliki ciri-ciri rasa sakit yang jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Alan, Anna sudah berpikir banyak hal mengenai penyakit Alan. Bahwa kemungkinan Alan tidaklah menderita pentakit yang sama seperti pasien tersebut.
Anna ingat, dia sempat membujuk Alan untuk menjalani serangkaian pengecekan kondisi tubuh pada Arini sebelum menemui pasien dengan penyakit radang selaput otak. Dan untungnya Alan menyetujuinya. Sekarang, hasil dari pengecekan sudah keluar, Anna tercengang dibuatnya.
Anna segera menyambar seluruh buiti hasil tes dan membawa pergi setelah berterima kasih dan memberikan sejumlah uang pada Dokter Alam. Meski Arini menolak, Anna tetap meninggalkan uang tersebut ke meja.
Oh.. Ini artinya banyak orang terlibat dalam masalah ini. Termasuk dokter Alfian, dokter pribadi bagi Alan.
Di sisi lain, Alan turun dari mobil setelah tadi meminta supir pribadi mengantarkannya sampai ke kantor. Langkahnya lebar menuju ke gedung kantor, memasuki lift. Satu-satunya tujuannya adalah ruangan Reno. Dokumen penting sudah tersiram air dan Alan terpaksa harus meminta data baru. Ia menelepon Reno, memerintah supaya Reno membuat ulang data yang hilang.
Sebentar, mata Alan terpejam. Merasakan denyut di kepala yang kian menyerang. Ia melangkah keluar saat pintu lift terbuka, melewati ruangan Alta. Gadis itu bangkit berdiri kemudian membungkukkan tubuh seraya berkata, "Selamat pagi, Pak Alan."
Tidak terdengar jawaban.
Bruk!
Tubuh Alan sudah terkapar di lantai saat Alta mengangkat kepalanya. Gadis itu terdiam sebentar. Matanya berkaca. Langkahnya pelan menuju ke arah tubuh Alan yang tergeletak. Lututnya jatuh ke lantai. Air matanya menitik, jatuh ke pipi Alan. Tangannya terjulur kemudian menggapai kepala Alan dan meletakkan ke pangkuannya. Telapak tangannya mengelus dahi pria itu berkali-kali. Tidak ada respon dari Alan, pria itu benar-benar sudah tak sadarkan diri. Kepala Alta menunduk, terus menunduk, pandangannya kini hanya berjarak satu senti saja dari wajah Alan. Lalu ia mendaratkan bibirnya ke bibir Alan.
Air matanya terus menetes dan membasahi pipi Alam yang ada di pangkuannya.
"Pak Alan, kau sungguh sempurna menjadi pria. Sangat beruntung istrimu memilikimu, sepenuhnya cintamu hanya untuk istri. Aku mencintaimu, Pak Alan." Elusan tangan Alta di dahi Alan terhenti saat mendengar langkah kaki mendekat. Sepasang sepatu wanita kini sudah ada di depannya.
Tubuh Alan pun tiba-tiba berpindah ke pelukan wanita yang baru saja muncul, Anna.
Pandangan Anna tampak sinis saat bertemu dengan mata Alta. Alta hanya bisa diam terpaku tanpa sepatah kata sampai kemudian terdengar teriakan Anna.
"Beni, Andre, Reno! Cepat bantu, tolong bawa Mas Alan ke rumah sakit!"
Beberapa orang bermunculan sesaat setelah mendengar teriakan Anna.
Bersambung