
Rina yang berdiri di belakang Alan, melangkah maju hendak membantu majikannya menyiduk nasi, namun Anna melarangnya dengan menggelengkan kepala. Anna mengambil alih sendok nasi dari tangan Alan dan membantunya menyiduk nasi, tak lupa ia juga mengambilkan lauk dan sayur ke piring suaminya. Setahun menikah, ia sudah hafal apa saja yang disukai dan tidak disukai suaminya.
Alan memasukkan ponsel ke saku balik jas setelah selesai bicara. Kemudian melahap makanannya setelah mengucap terimakasih pada Anna karena sudah melayaninya. Alan juga sempet menawarkan makan pada Anna, tapi Anna menggeleng mengingat ia sudah makan sejak tadi.
Niat Anna bicara pun urung melihat Alan yang sedang lahap. Waktunya tidak tepat. Pasti ada waktu yang tepat nanti.
Selesai makan, Alan menuju kamar dan Anna mengikuti. Ia merasa seperti ekor yang membuntuti Alan kemanapun pergi.
“Mas Alan!” panggil Anna setelah mereka sudah berada di dalam kamar.
Alan hanya mengangkat alis saja. Anna membantu Alan melepas dasi setelah ia meletakkan koper ke meja.
“Aku mau mandi dulu.” Alan memasuki kamar mandi.
Anna mondar-mandir menunggu Alan keluar. Tidak lupa, ia menyediakan pakaian ganti untuk Alan dan meletakkannya di atas kursi. Sudah lima belas menit berlalu, namun Alan belum juga keluar. Anna akhirnya duduk di lantai, menyandarkan punggung di sisi ranjang. Semakin lama tubuhnya itu semakin menurun dan kini posisinya setengah berbaring. Ia sudah tidak sabar ingin bicara dengan Alan, hingga sebentar-bentar ia menggigit bibirnya sendiri.
Alan keluar dari kamar mandi, pandangannya mengedar ke seisi kamar. Dan mengangkat alis saat menatap Anna yang terlihat berbeda dari biasanya, wanita itu terlihat gugup.
“Ada apa, Anna?”
“Mm….”
Dering ponsel membuyarkan kata-kata yang sudah Anna susun di kepala. Alan meraih ponsel dan menjawab telepon. Ia menepuk kening sesaat mendengar suara seseorang di seberang. Mukanya memerah dan sorot matanya menajam.
“Ya Tuhan, kumohon Cintya, jangan bikin ulah lagi. Kau akan berurusan denganku jika sampai dating lagi ke rumahku. Halo… Halo…” Alan melempar ponsel ke ranjang.
“Cintya kenapa lagi?”
“Bukannya kalian udah menikah, udah beli rumah, udah mengeruk sedikit demi sedikit harta Papa William? Lalu apa lagi yang Cintya tuntut darimu?”
Alan menghentikan gerakannya, melirik Anna lalu memalingkan wajah.
“Aku nggak ngerti dengan jalan pikiran Cintya, semua udah dia dapatkan. Lalu apa lagi?”
“Ah, udahlah nggak perlu pikirkan itu. Aku harus pergi lagi untuk urus masalahku. Selamat malam.” Alan mengecup singkat kening Anna.
Sentuhan dingin di kening Anna membuatnya merasa seperti disengat listrik. Sikap Alan membuat cintanya kian membuncah.
Anna menyambar ponsel Alan di atas kasur lalu mengejar Alan hendak menyerahkan ponsel tersebut. Pria itu melupakan ponselnya. Anna akan kesulitan menghubungi Alan jika dia pergi tanpa ponsel.
Anna berlari menuruni anak tangga.
Deg. Jantung Anna tersentak melihat Alan yang membuka pintu hendak keluar dan tepat saat itu Cintya berdiri di depan pintu.
“Cintya, kenapa kamu kemari?”
“Aku bosan, Alan. Aku bosan. Kamu jarang menemuiku, sibuk terus dengan urusanmu. Kamu juga kelihatan nggak serius dengan hubungan kita. Kapan kamu sempatkan waktumu untukku? Untuk masa depan kita?” Cintya berteriak kesal. Ia ngeloyor masuk ketika pandangannya bertemu dengan Anna.
Anna meneruskan langkahnya hingga sampai ke lantai bawah.
TBC