Holy Marriage

Holy Marriage
Alan Kecil



“Tolong tolong, sebagian keluar. Jengukinnya giliran,” pinta Wiliam pada semua yang ada di kamar.


Perintah itu disetujui oleh semuanya meski diiringi dengan gerutuan yang menimbulkan suara saling sahut hingga seperti segerombolan lebah lewat.


Semuanya keluar kamar, mereka menunggu di depan kamar.


Kini hanya ada Anna yang duduk bersandar ranjang sembari menggendong bayinya, Alan yang merangkul Anna, serta Wiliam dan Laura yang duduk di sisi ranjang.


“Jadi siapa nama bayimu?” tanya Wiliam sembari menatap bayi tampan yang sedang menggeliat dan lidahnya melet-melet. Lucu sekali.


“Azzam Shakeil Wiliam,” jawab Alan menatap gemas bayinya.


“Azzam, artinya tekad yang bulat. Shakeil, artinya tampan.” Wiliam manggut-manggut memikirkan arti dari nama yang disebutkan. “Alhamdulillah…. Semoga menjadi anak yang soleh.”


“Azzam Shakeil Wiliam. Nama yang bagus.” Laura mengambil alih Azzam dari tangan Anna dan menggendongnya sembari memberikan kecupan singkat pada dada Azzam yang tertutup pakaian.


“Sudah cuci tangan belum? Kalau mau pegang Azzam harus steril,” ujar Wiliam tidak mau cucunya kenapa-napa.


“Sudah, Pa.” Laura tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Azzam yang melek. Bayi Azzam sangat menggemaskan, pipinya gembul dan rambutnya lebat.


“Alan!” Wiliam memegang pundak Alan. “Papa bersyukur akhirnya kamu menjadi seorang Ayah. Jadilah ayah yang bertanggung jawab, yang memimpin anak dan istri dengan benar, tauladani Rosulmu.” Wiliam tampak berkaca-kaca saat mengucapkannya. Ia terharu karena akhirnya puteranya sudah menjadi seorang ayah.


Alan mengangguk.


“Anna, terimakasih kamu sudah memberikan kado terindah di tahun ini. Jangan jera, tahun depan semoga nambah lagi.”


Anna melongo. Perjuangan yang satu saja sudah mengerikan, bagaimana jika setiap tahun?


Alan menyenggol lengan Anna hingga Anna tidak melongo lagi.


Kedua mertua Anna keluar, gantian nenek dan kakek yang masuk kamar. Setelah itu Stefi dan Clarita. Begitu seterusnya hingga habis siklus perputaran para penjenguk.


Sepulang keluarga besar Wiliam yang mendatangi rumah Anna bak orang kampanye menggunakan sembilan mobil, kini giliran Herlambang, Angel dan Colin yang datang. Mereka memberikan selamat dan menunjukkan betapa bahagia telah bertambah anggota keluarga yang baru.


“Sekarang bertambah lagi amanah yang harus lo jaga, Alan,” tukas Colin. Seperti biasa, Collin paling jago dalam urusan menceramahi.


Alan memeluk Collin sebentar, sahabat sekaligus kakak iparnya itu memang luar biasa. Yang keluar dari mulutnya selalu persoalan agama.


“Susui anakmu, jangan suruh sapi yang nyusuin, ya!” ucap Angel sambil tertawa, membuat Anna yang diajak bicara ikut tertawa renyah. “Gimana rasanya melahirkan?”


“Alhamdulillah semuanya lancar. Semoga Allah membimbing kalian dalam mendidik Azzam, semoga Allah mempermudah Azzam untuk menjadi anak yang soleh. Amin.”


“Ayah bangga padamu, Nak. Terima kasih atas perjuanganmu.” Herlambang mengelus pucuk kepala Anna, membuat Anna kembali merasa seperti anak kecil. “Rasanya baru kemarin ayah melihatmu bermain boneka, dan sekarang kamu sudah memberikan Ayah cucu.”


Anna dan Alan bertukar pandang dan tersenyum.


Beberapa hari lagi, tepatnya di hari ke tujuh akan diadakan acara aqiqah untuk Azzam. Tentu saja Herlambang dan Angel akan menghadiri acara itu. Kemudian mereka pulang setelah beberapa jam kemudian.


“Azzam Shakeil Wiliam,” lirih Anna sembari mengecup kening anaknya yang sudah tertidur setelah tadi ia menyusuinya. Ia memeluk dengan satu tangan sambil tersenyum manis. Ditatapnya box bayi di samping ranjang, ia biarkan saja kosong. Ia masih ingin memeluk bayinya dengan mesra.


Azzam Shakeil Wiliam, nama yang diharapkan akan menjadi pemimpin yang bijak dan baik. Bukan hanya wajahnya saja yang tampan, tapi hatinya juga. Anak pertama dari pasangan Anna dan Alan sekaligus cucu pertama yang lahir di keluarga Wiliam dan Herlambang.


Alan memeluk Anna dari belakang. “Aku cemburu, perhatianmu ke Azzam terus,” bisik Alan sambil tersenyum dan mengusap kening Azzam hingga bayi itu menggeliat, tidurnya terganggu.


Anna tidak mengomentari. Ia hanya menjawab Alan dengan memegang pipi Alan. hanya dengan sentuhan itu, Alan cukup merasa tenang dan bahagia.


Rasanya kebahagiaan semakin lengkap dengan kehadiran bayi mungil Azzam.


Terima kasih Ya Allah.


THE END


Silahkan kunjungi ceritaku yang lain :


PACARKU DOSEN


I AM A VIRGIN


HY BEBY


*GOOD BYE*


Karya :


Emma Shu