The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 99 : Keberuntungan Arley



    Situasi stadion tampak begitu menggelegar. Seluruh masyarakat bersorak-sorai penuh antusiasme, tapi kali ini bukan hanya mereka yang bersemangat, namun para peserta juga ikut berapi-api karena suatu hal yang tengah terjadi saat ini!


    Ketika itu aku melihat Eadwig, Ruby, dan Aurum. Mereka hanya terdiam menatap langit, lalu setelah teriakan mulai meredup, Michale mulai mengambil alih situasi.


    "Okay! untuk menghemat waktu, mari kita langsung saja acak namanya, LET'S ROL THE DICE!" teriak Michale demi memeriahkan acara.


    Sejenak aku mendengar suara Michale melengking ketika ia ucapkan kalimat terakhirnya, tampaknya Michale mulai kehabisan suaranya.


    Lantas, layar monitor mulai mengeluarkan suara lonceng yang berdenting setiap kali nama kami berganti.


    Kejadian ini cukup lama bergeming, mungkin sekitar 15 sampai 20 detik. Dan sampai akhirnya, tabel akar itu berhenti berdenting.


    Lonceng terakhir pun menggema kuat dan lama, aku sendiri terdiam ketika menatap nama-nama para peserta yang telah berganti dan Teracak.


    "Wah! ini kan!?" teriakku tak sengaja.


    Aku tak menyangka, dan betapa beruntungnya aku! bagaikan mimpi saat siang bolong! lihat! namaku ada di bagian paling akhir tabel akar tersebut!


    Seketika itu juga aku menoleh ke arah Eadwig, dan saat itu juga Eadwig melihat ke arahku.


    Wajah kami berdua tersenyum gembira, lalu dengan gesitnya Eadwig menghampiri aku yang saat ini berada di pinggiran kumpulan para peserta.


    Begitu juga dengan Aurum dan Ruby, mereka berlari ke arahku dengan tergesa-gesa.


    "Selamat Arley! semoga kita berjumpa di babak selanjutnya!" ucap Eadwig dengan semangat.


    "Aku tak menyangka namamu yang bertengger di tabel terakhir itu! sihir apa yang kau gunakan sampai bisa namamu tercantum di sana?" guyon Ruby kepadaku. Namun aku hanya tersenyum lebar terhadap ucapannya itu.


    "Arley, doakan aku agar aku bisa selamat di babak ini! semoga kita bertiga bisa bertemu di babak selanjutnya!"


    Kali ini, semangat Aurum terlihat semakin Membara. Ini kali pertamanya aku bisa melihat Aurum tampak begitu terpacu sampai ia menampakka semangat membaranya sedemikian rupa


    Aurum pun menjulurkan tangannya.  Lalu aku menggenggam tangan Aurum dengan tangan kananku.


    "Tentu saja kak! doaku untuk kalian semua, agar kita bisa bertemu di final!" terucaplah doa yang aku panjatkan setulus hati ini.


    Lalu Ruby dan Eadwig, mereka juga menaruh tangan mereka tepat di atas tangan aku dan Aurum.


    Secara serentak mereka mengucapkan satu kalimat mujarab.


    "Amin!" teriak mereka bertiga dengan lantang, sembari mereka melemparkan tangan kami ini ke atas langit, agar doa yang kami panjatkan ini, dapat di terima oleh Tuhan lebih cepat dari yang kami harapkan!


***


    Pengumuman babak ketiga telah usai.


    Para peserta yang telah terdaftar pada tabel akar, saat ini tengah bertarung untuk memperebutkan kursi, agar mereka bisa masuk ke babak keempat.


    Aku, Eadwig, Aurum dan Ruby. Saat ini tengah asik duduk di pinggir atas loby kaca, yang lokasinya berada di atas arena.


    Akan aku jelaskan sedikit mengenai ruangan lobby ini.


    Ruangan lobby yang kami—para peserta tengah tempati saat ini, adalah sebuah sihir yang Michael rapalkan untuk kami—para peserta, agar bisa dengan nyaman menikmati pertandingan di atas lapangan arena.


    Jaraknya dari atas arena sekitar 40 meter ke langit. Untuk lebarnya, mungkin sekitar 120 meter, tapi lebih tepatnya seluruh atap arena stadion, tertutupi oleh kaca ini.


    Lobby kaca ini mempunya fungsi yang serba guna.


    Mulai dari fungsi awalnya, yaitu tempat lobby atau tempat kami beristirahat dan menunggu, juga kaca ini bisa berubah menjadi monitor yang menampilkan berbagai informasi.


    Serta, kaca ini juga bisa menjadi alat pelindung bagi para penonton yang akan mendapatkan ancaman jika serangan dari para peserta lepas keluar dari dalam arena.


    Aku tak tahu siapa orang yang telah menciptakan Mantra sehebat ini.


    Namun aku sangat tidak yakin jika Michale lah orang yang menciptakannya. Dilihat dari perawakannya Michale yang banyak bicara, hal tersebut sangatlah tidak mungkin.


    Ya ... tak mungkin, - hm? kalian sependapatkan dengan tanggapanku? pokoknya kalian harus yakin!


***


    Ledakan hebat terjadi, lalu peluit tanda selesainya pertandingan sudah berkumandang.


    Kali ini Eadwig dengan senyuman gagahnya mengangkat tangan untuk memeriahkan kemenangannya yang begitu singkat ini.


    Hanya  lima menit saat peluit mulainya pertandingan ditiupkan. Lima menit kemudian, Eadwig kembali naik ke atas lobby kaca.


    "Nah siapa selanjutnya?" tanyaku kepada Ruby.


    "Aku," jawab Ruby sambil menunjuk dirinya sendiri.


    Lalu Aurum bergabung dalam percakapan kami, "Arley, aku ingin menanyakan satu hal kepadamu ...," namun tiba-tiba tensi percakapan menjadi pengap.


    Wajah Aurum menjadi serius dan tatapannya berubah menjadi tajam.


    "Kali ini, aku ingin kau menjawab pertanyaanku dengan jujur," ucap Aurum dengan seriusnya.


    Sejenak aku juga ikut menjadi canggung karenanya.


    "Y-ya, kalau aku bisa menjawabnya, pasti akan aku katakan dengan jujur!" aku berusaha meyakini Aurum.


    "Baiklah, aku percaya padamu. Kalau begitu ... apakah kau sebenarnya mengetahui identitas dari orang bernama Paroki itu?" terlontarlah pertanyaan yang begitu sensitif.


    Karena aku mengetahui jawabannya, maka aku sebisa mungkin menjawab pertanyaan Aurum.


    Namun aku tak tahu jika ia akan puas atau tidak dengan jawabanku ini.


    Sejenak aku terdiam, aku mencoba merangkai kalimat yang pas. Lalu Eadwig datang dan ia ikut bergabung dalam percakapan kami.


    "-Ah, ada apa ini? kok hening sekali?!" tanya Eadwig dengan polosnya.


    Kemudian Aurum menaruh jari telunjukknya ke bibirnya sendiri, dan keluarlah suara berdesis dari mulut Aurum demi menghentikan Eadwig dari sifat cerewetnya itu.


    Maka, setelah kondisi kembali netral, aku pun mengeluarkan kalimat yang telah aku rangkai, "Pertanyaanmu cukup rumit kak Aurum," sejenak aku tertawa untuk mencairkan situasi.


    "Ya, aku mengenali Paroki, namun aku baru mengetahuinya pada saat pertarunganku dengan kak Amy tadi, sedang berkecamuk hebat, sisanya kalian pasti sudah mengetahuinya," kupandang wajah Aurum dengan seirus.


    "Sudah kuduga, kejadian pada saat kau kehilangan nafas kala itu—membuat orang bernama Paroki tersebut menjadi gelisah serta membuat ia menggumakan kalimat yang tak dapat aku dengar. Dan mungkin karena ia tak sanggup menahan dirinya sendiri, berteriaklah orang itu kepadamu, Arley." ucap Aurum sembari memberikan aku sebuah informasi yang sangat luar biasa.


    "-He?! benarkah demikian!?" aku cukup terkejut ketika mengetahui hal ini. Bagaimana bisa, Misa yang begitu dendam terhadap diriku ini, menjadi gelisah ketika aku tengah dalam bahaya?


    "Mungkin ia ingin bertarung denganmu? makanya ia tak rela jika kau kalah di pertandingan itu," ucap Eadwig memotong percakapan.


    Lalu karena alasan yang dilontarkan Eadwig terbilang sangat receh, maka Aurum langsung mengetuk kepala Eadwig dengan pelan agar ia tidak merusak suasana yang sedang Aurum jaga.


    Tak terima dengan perlakuan Aurum, Eadwig memarahinya, "Aw! - hei! aku kan hanya memberikan pendapat!" tegasnya dengan nada sedikit kesal.


    "-Ssstt! jangan berisik! ayo lanjutkan Arley!" ucap Aurum yang berusaha menghindari perdebatan dengan Eadwig.


    Karena perilaku mereka berdua, akhirnya aku tertawa sejenak dan bisa lebih santai dalam memberikan penjelasan kepada mereka.


    "Ya, jadi—"  namun, lagi-lagi perkataanku dipotong oleh pengumuman yang dilontarkan Michale.


    "Peserta selanjutnya! harap bergegas untuk segera pergi ke lapangan arena!"


    Terdengar kalimat tersebut menggema dengan kencang.


    "-Ah! peserta selanjutnya adalah aku!" cakap Ruby sembari ia berdiri dari duduknya, "Aku duluan ya!" ucapnya sembari pergi.


    Lantas, setelah Ruby pamit untuk bergegas pergi menuju ke lapangan arena, Aurum tampak kesal karena selalu saja ada orang yang mengganggu moment tersebut.


    Aku Juga jadi bingung mau memulainya dari mana lagi.


    "-Ugh, semoga saja tidak ada yang mengganggu kita lagi, ayo Arley lanjutkan penjelasannya!" tegas Aurum bercampur dengan kesal.


    Aku pun terkekeh sendiri melihat Aurum menjadi kesal seperti ini.


    "Baiklah aku kan melanjutkannya ...," demikian aku mulai menjelaskan runtutan masalah yang tengah terjadi antara aku dan Misa


    Tepatnya mengenai kejadian 8 tahun yang lalu


    Ya, tentang pertemuan antara aku dan Misa, yang terjadi pertama kali saat kami berada di desa『Durga』. Sampai pertemuan terakhir kami, di ibu kota『Lebia』ini.


***