The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 184 : Gorong-Gorong Kenangan.



Not Edited!


Suara tepikan kaki terdengar begitu harmonis mengikuti cahaya merah di depan mereka.


Eadwig tampak heran dengan kondisi Arley saat ini. apakah dirinya sudah sembuh secara sempurna, atau dalam kondisi yang kritis seperti sebelumnya. Mereka tak dapat melihat situasi yang tengah terjadi, sebab minimnya cahaya di lokasi tersebut.


Ketika itu, tak di sadari mereka telah berjalan lebih dari setengah jam, mengikuti kemana Arley pergi. Lima kilometer telah di tempuh sebelum akhirnya mereka berhenti pada pojok Selatan tembok bunker yang sama sekali tak tampak di mata manusia biasa.


“A-apa yang kita lakukan di sini? Sudahkah kita selamat?” Keriuhan mulai kembali terjadi. Merka salin bertanya-tanya saat langkah kaki mereka terhenti di suatu tempat.


Beberapa saat kemudian, keheningan terjadi kembali. Mereka hanya menunggu komando lanjutan dari sang remaja berambut merah.


Merabalah tangan Arley pada sudut utara bunker tersebut, mencari suatu balok yang lebih menonjol di bandingkan balok tembok lainnya. Berbeda dengan manusia pada umumnya, entah bagaimana, mata Arley mampu melihat di dalam kondisi yang gelap gulita.


Arley mampu melihat sekitarnya dengan kondisi cukup jelas, walaupun agak sedikit lebih buram dibandingkan saat cahaya menyinari sekitarannya.


“Ah ini dia …,” gumam Arley yang telah menemukan balok yang ia cari.


Lantas, ditekanlah balok tersebut, masuk dan tampak rata dengan balok-balok bata lainnya. Kali ini gempa terulang kembali, namun resonansinya berbeda dengan yang terjadi belakangan ini. seperti ada suatu benda yang sedang bergerak sebab proses mekanikal.


Tepat didepan hadapan Arley, terbuka pintu rahasia yang sangat lebar. Arley cukup terkesan ketika dirinya menyaksikan hal tersebut. Tampak ada trangga yang menjorok turun, menuju ke suatu tempat.


Menolehlah Arley melihat ke belakangnya. Tampak jutaan masyarakat berdiri dan menunggu perintah dari sang remaja.


“Ayo ikuti aku …,” cakap Arley sembari ia mulai berjalan menuruni tangga rahasia itu.


Tepat di belakangnya, Eadwig dan Rubius langsung bergerak mengikuti langkah mungil Arley, menuruni tangga yang cukup tua dan berlumut, akibat termakan waktu.


“Hati-hati, tangga yang akan kita turuni cukup licin,” jelas Arley yang mulai memandu mereka semua.


Ketika itu, Rubius menyadari jika ini akan sangat berbahaya jika mereka tak dapat melihat, lantas RUbius memiliki ide untuk menggunakan sihir mereka demi menyinari setiap sisi tangga.


“Eadwig, aku butuh bantuanmu,” ucap Rubius yang menepuk pundak Eadwig.


“Hm? Apa itu …?”


Berbisiklah Rubius kepada Eadwig, memberikan idenya untuk menyinari setiap sisi tangga dengan bantuan regu penyelamat yang lainnya.


“Aku setuju, ayo kita lakukan itu.” Tampak setuju dengan saran sang sahabat, Eadwig langsung memanggil seluruh rekan timnya dan memberikan perintah untuk membantu para masyarakat.


“Siap laksanakan!” ucap mereka semua sembari menyebar mencari kayu yang mampu di bakar.


Ide dari Rubius sangatlah bermanfaat, bagi regu penyelamat yang tak bisa menggunakan sihir, mereka akan memegang obor api sebagai penerang jalan, sedangkan mereka yang bisa menggunakan sihir, mereka wajib menggunakan mantra sihir yang bisa menerangi sekitar mereka.


Kala itu, tangga yang berbentuk spiral dan memutar ke bawah tersebut, setiap tiga kali putarannya terdapat satu orang yang memegang cahaya untuk menyinari sekitarnya.


Sebab ide simpatik Rubius yang cukup mengesankan tersebut, seluruh orang yang melewati tangga, mampu melihat cukup jelas, dan hal ini sangatlah membantu mereka.


***


Beberapa menit kembali terbuang di dalam perjalanan. Kali ini Arley sudah sampai di titik terbawah dari ruangan rahasia tersebut.


Jarak di antara ruangan paling atas, dan ruangan lantai paling bawah saat ini, berkisar delapan puluh meter.


Lantas, pada ruangan yang tak lebih besar dari sepuluh meter persegi itu, Arley mencari sebuah pahatan gambar yang sempat Lenka ceritakan kepada dirinya. Pahatan pada tembok ruangan, yang terukir membentuk pohon raksasa.


Tak berlama-lama, saat Arley tiba di ruangan itu, matanya langsung melihat pahatan yang Lenka sebutkan.


“Jika tidak salah … kata orang itu, aku harus menekannya di sebelah sini,” gumam Arley dalam hati, sembari ia menekan sebuah bola berbentuk telur yang terpahat di bagian dasar pohon sebelum pahatan akar pohon.


Dengan sedikit sentuhan, batu berbentuk telur itu langsung masuk dan secara otomatis membuka sebuah ruangan, yang ternyata tak asing bagi Arley.


Ya, ruangan itu adalah ruangan yang pernah dirinya masuki saat tujuh tahun yang lalu. Sebuah ruangan yang memberikan memori buruk bagi Arley, dimana ia kehilangan tongkat sihir pertamanya di ruangan tersebut.


Ruangan itu adalah pias saat Arley bertarung sengit dengan Trimol, sang bandit yang sering menculik wanita muda. Dan saat ini telah di tahan sebab dirinya di kalahkan oleh Arley muda.


“Ini kan …,” ucap Arley yang tercengang ketika dirinya menyadari jika ruangan itu adalah ruangan ketika dirinya terpingsan selepas menghabisi Trimol.


Bergeraklah kaki Arley, melangkah memasuki ruangan yang saat ini telah kosong, dari tulang-tulang manusia. Padahal, dahulu ruangan itu telah di penuhi dengan batu krikil dan tulang-tulang manusia yang menjadi korban Trimol.


Ketika sol sepatu Arley memijak ruangan itu untuk yang kedua kalinya, Arley langsung mencari satu pintu lagi, yang akan menghantarkan dirinya pada ruangan terakhir, sesuai dengan informasi yang Lenka telah ceritakan.


Kali ini, ruangan yang berada di bawah gorong-gorong ibu kota [Lebia] tersebut, telah di tanamkan [Elemental Orb] Api, yang suasana di dalam ruangan tersebut, kali ini cukup terang tanpa harus menggunakan cahaya tambahan.


Kemudian, dirinya terhenti melangkah ketika Arley memandang tebing yang dahulu dirinya sempat melompat dari atasnya. Mendongaklah ia memandang atap dari tebing tersebut.


“Sudah tujuh tahun ya …,” gumam Arley yang kembali teringat masa-masa saat dirinya lewati berasama Uskup Steven.


Mendengar isak tangis Arley yang tiba-tiba menderik, Misa memandang Arley dari kejauhan dengan perasaan bimbang.


Ingin dirinya mendekati Arley dan segera memeluknya sebab rasa pedih yang sedang Arley derita, tetapi … Misa mengingat semua hal yang telah ia lakukan selama tujuh tahun belakangan ini. Dengan sendirinya tubuh Misa melangkah mundur, dan memendamkan perasaan kasihnya terhadap Arley.


Tangannya menggeram takut, sebab pemikiran sang wanita berambut hitam kebiruan itu hanyut dalam opininya sendiri.


“Bagaimana jika nantinya dia malah akan memberikanku pandangan dingin? Lalu dia akan membenciku? Dan meninggalkanku serta pergi menjauh dariku?” Pola pikir itu terus berkecamuk di benak Misa, tanpa ada filter yang menghalanginya.


Terdiamlah Misa dengan opininya sendiri.


Sedangkan Arley, ia kembali berjalan mendekati tebing yang ada di hadapannya kala ltu. Merasa terganggu dengan air matanya sendiri, mengusaplah punggung tangan kiri Arley, menghapus pancaran kesedihan dari wajahnya.


Ketika dirinya sampai di depan tebing tersebut, lagi-lagi Arley meraba tembok yang ada di hadapannya. Akan tetapi, sesampai seluruh masyarakat telah tiba pada ruangan ratusan meter itu, Arley masih belum menemukan pintu yang Lenka maksud.


“Ah … itukah orang yang membimbing kita sampai di sini?” tanya seorang pria kepada Misa, yang selama ini selalu berada di samping Arley.


Tidak menjawab pertanyaan sang pria secara lagsung, Misa hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab kalimat itu tanpaharus bersuara.


“Hee … bukankah dia Arley … benedict?” Lagi, sebuah pertanyaan kembali muncul dari seorang wanita yang berada di samping pria penanya pertama.


“Ah, kamu benar … dia kan yang menjadi finalis di touranamen persahabatan!”


Kala itu … setelah seluruh masyarakat tahu identitas dari orang yang menyelamatkan nyawa mereka, keriuhan kembali terjadi, walaupun kali ini dalam kasus yang baik.


Misa tersenyum tulus ketika dirinya mendengarkan pujian demi pujian yang para masyarakat lontarkan untuk Arley.


Setelah seluruh regu penyelamat yang Eadwig bentuk, telah berhasil turun dari tangga spiral dan kembali berkumpul bersama seluruh masyarakat, saat itu juglah ARley menemukan sebuah pintu di samping tebing yang menjulang tinggi kelangit.


Ternyata pintu itu bukan di sisi depan tebing, melainkan di pasang di sisi sebelah kiri tebing yang menjorok jauh dari tembok di sampingnya. Jika kita bayangkan tebing ini seabagai lemari kayu, maka pintu yang Arley cari berada pada sisi samping sebelah kiri dari lemari tersebut.


Lantas, Arley langsung membuka pintu kayu berdaun dua itu dengan mudahnya. Tidak ada trik tambahan ataupun permainan puzzle lainnya. Hanya pintu biasa yang terbuka dengan cara di tarik keluar.


Ketika pintu itu terbuka lebar, sang remaja melihat sebuah jalan lebar, yang mengarah ke sisi selatan, dari ibu kota [Lebia].


Sontak, ketika Arley baru saja ingin memasuki ruangan yang memiliki lebar lima meter tersebut, tiba-tiba suara teriakan terdengar dari sisi utara.


“Semuanya! Berlari menjauh dari pintu masuk!” pekik Rahul dari tim Green Gorgon. “monster yang mengejar kita saat di ruangan bunker! Sekarang sudah berada di tangga spiral!”


Kala itu, kepanikan mulai terjadi kembali. Seluruh masyarakat langsung berlari menuju tempat di mana Arley berdiri!


Dalam hitungan detik, berbagai macam monster telah sampai di ruangan bawah gorong-gorong. Tampak Zorman berdiri di depan para monster itu, untuk memberikan komando.


Apakah yang akan terjadi dengan Arley dan seluruh masyarakat ibu kota [Lebia?]


Bersabung ! ~


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -