The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 244 : Pengejaran Kereta Kuda!



Arley beserta paman Radits telah membereskan segala barang bawaan mereka, tujuannya untuk segera kembali pulang ke kediaman keluarga polka, juga untuk langsung mengumpulkan bahan ramuan, demi memproduksi masal ramuan yang telah mereka uji coba tadi.


Akan tetapi ... secara tiba-tiba, perasaan kedua pria ini langsung bereaksi, kepada apa yang tengah terjadi terhadap Jasmine beserta keluarganya.


"Arley ... kita harus cepat kembali!" ujar sang paman, yang tiba-tiba langsung berdiri dari duduknya.


Namun, sebelum si paman mendengar jawaban langsung dari sang anak angkat, Arley malah bertindak duluan dan berlari sangat kencang menuju rumah tempat mereka tinggal saat itu.


Paman Radits cukup terkejut ketika ia melihat Arley bergerak cepat di dalam kondisi ini.


"Apakah anak ini juga memiliki intuisi yang sensitif, sama seperti diriku?" gumam sang paman, yang ketika itu juga langsung berlari, mengejar Arley dari belakang.


Kedua pria ini berlari sekuat tenaga mereka, untuk berlekas diri agar sampai ke ujung bukit—tempat perbatasan, dimana mereka bisa melihat lokasi rumah, yang berdiri tegak sendiri di tengah hamparan rumput peternakan.


Arley telah tiba terlebih dahulu pada ujung bukit tersebut, sedangkan sang paman menyusul dirinya beberapa menit kemudian. Mereka berdua tampak berhenti berlari, tepat di atap bukit hijau itu.


Sambil mengamati situasi, mereka berdua terus menatap tajam, ke arah rumah kayu milik keluarga Polka, yang jaraknya sekitar dua kilo meter dari tempat mereka berada saat ini.


Tiba-tiba, keluarlah lima orang pria dengan penampilan yang cukup bringas, terlihat seperti orang yang ingin melakukan tindak kejahatan, terhadap target yang di tuju.


"Paman, ini tidak baik! Tampaknya keluarga kak Melliana akan diserang kembali, oleh orang-orangnya pria hidung belang itu! " ucap Arley, yang memberitahu kepada pamannya, jika ia tak suka dengan kejadian ini.


Sang paman pun berpikiran mengenai hal yang serupa. Tapi ia sadar diri, jika mereka pergi bersamaan, mereka akan terlambat ke lokasi perkara.


"Lari Arley! Hambat pergerakan mereka! Jangan biarkan mereka lolos apa pun yang terjadi!"


Sontak, selepas sang paman berteriak memberikan komandonya, sektika itu juga Arley melesat kencang, bagaikan anak panah yang terlepas kuat dari batang busurnya, menuju para pria yang ingin menculik Melliana tersebut.


Di saat Arley berlari kencang menuju lokasi perkara, kelima orang itu pun langsung bergegas menyiapkan kereta kuda mereka.


Dan setelah orang keenam keluar membawa tubuh Melliana yang telah terikat kencang. Demikian pula mereka langsung berangkat pergi, meninggalkan rumah tersebut dalam kondisi setengah hancur.


Arley langsung menyadari, jika ia masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi Varra beserta Emaly, maka Melliana tidak akan bisa ia selamatkan.


Dalam kecepatan tinggi, Arley merubah haluan berlarinya, demi mengejar kereta kuda tersebut, dan kembali mengambil Melliana dari tangan-tangan jahil mereka.


Dari kejauhan, paman Radits terus memantau hal tersebut tanpa putus. Saat itu, sang paman sedang berlari menuju ke dalam rumah kayu milik keluaraga Polka, akan tetapi, ia juga tak bisa melepas fokus pengelihatannya pada apa yang akan Arley lakukan, terhadap orang suruhan pria yang ingin menghancurkan keluarga ini.


“Tampaknya … kemampuannya berlari semakin cepat, dibandingkan tiga bulan yang lalu,” gumam sang paman, sambil menilai kemampuan Arley, dan membandingkannya dengan kejadian saat mereka baru bertemu dulu.


Tersenyumlah sang paman, saat ia melihat perkembangan yang cukup pesat dari anak Angkatnya.


“Baru saja aku tinggal satu bulan, sudah sejauh ini, kah, perkembangan yang engkau raih?” ucap sang paman, sambil dirinya tak berhenti berlari. “tampaknya aku tak boleh salah mendidikmu, Arley. Jika aku salah mendidikmu, nasib dataran ini bisa lenyap di tanganmu,” cetusnya, dengan wajah serius.


Setelah itu, sang paman akhirnya sampai di rumah yang sudah dalam kondisi setengah hancur ini. Sejenak, sang paman melirik ke tempat Arley berlari, lalu berkata. “Aku serahkan Melliana kepada dirimu, Arley.”


Lantas, sang paman langsung masuk ke dalam rumah, dan mengcek kondisi Emaly, beserta yang lainnya.


***


“Ahahah! Misi kita kali ini, ternyata sangat mudah sekali. Ini semua berkat bantuanmu, Kak Fruga!” ucap salah seorang pria, yang kala itu tengah duduk di dalam kereta kuda, bersama kelima orang lainnya.


Sedangkan satu orang yang terlihat paling muda di antara mereka, tengah mengendarai kereta kuda itu, dengan sagat ugal-ugalan.


“Tidak-tidak, jika bukan karena strategi dari, Alan, kita tak mungkin bisa menculik, nona, yang satu ini dengan lancar.” Lalu, pria bertubuh paling kekar, bernama Fruga itu, lantas menginjak perut Melliana, layaknya sapah yang tak terpakai.


“Gaaah!” Melliana pun berteriak kencang, dirinya berusaha menahan rasa sakit itu dengan teriakan dan air mata.


“Hey-hey~ Percuma saja jika kau menangis sekarang. Saat dirimu sampai di Kasino milik tuan, Verko, semua orang yang ada di kota [Rapysta] akan bisa menikmati tubuh cantikmu ini!” ucap seorang pria, dengan rambut yang di-cat hijau dan terlihat begitu mencolok.


Mendengar ucapan sang pria memiliki rambut hijau tersebut, keempat pria lainnya pun tertawa terbahak-bahak, kecuali seorang pria yang hanya berdiam diri, menatap laju depan jalan dengan begitu tenang.


Ia terlihat seperti orang yang sangat pendiam, dan tak ingin ikut-ikutan menyakiti wanita yang mereka culik saat itu.


“Hey, Alan. Kenapa kau hanya diam saja dari tadi?” tanya Fruga, sambil menginjak keras perut Melliana dan menyebabkan sang wanita berteriak kencang untuk yang ke sekian kalinya.


Mendengar suara teriakan Melliana, alis mata Alan pun mengkerut tajam. Ia terlihat sangat berat hati, untuk mendengar suara seorang wanita yang tersakiti seperti ini.


“Fruga …” jawab Alan, sambil memejam kedua matanya. “hentikan perlakuanmu itu terhadap wanita ini. Ia adalah barang dagangan kita, jika ada cacat pada tubuhnya, tuan Verko Jianno, mungkin tidak akan membayar kita.”


“Ooo~ Apakah kau jatuh cinta dengan wanita ini, Alan?” tanya si pria berambut hijau tadi.


“Jangan bercanda, Biko. Aku tidak sebodoh itu, untuk jatuh cinta dengan seorang calon pekerja malam,” jelas Alan kepada pria berambut hijau, yang diketahui namanya adalah Biko.


Lalu Biko tertawa lepas, dan ia masih saja menyikut Alan sambil membercandainya dengan sangat tidak sopan.


“Alan, sudahlah jangan hipokrit. Nah, jika kau mau … kau boleh menidurinya duluan, lalu kami akan menyusulmu nanti~” Kali ini, Biko benar-benar menaruh garam di atas luka yang masih terbuka lebar.


Saat itu juga, Emosi Alan langsung memuncak dan ia langsung menaruh senjata pisaunya, tepat di batang leher Biko.


Biko pun langsung terkejut ketakutan, keringat dingin langsung bercucuran lebat dari pori-porinya. Sedangkan ketiga rekannya yang lain, mereka hanya terdiam membisu, tak ada yang berani melawan sang pria berambut panjang tersebut.


“Jika kau ucapkan kalimat itu sekali lagi, aku akan benar-benar potong batang lehermu iini,” ujar Alan dengan begitu garangnya.


Lalu … kondisi menjadi sunyi senyap, mereka berempat tak ada yang berani melawan si pria berponi panjang dan menutupi mata sebelah kirinya tersebut. Melliana pun melihat hal ini sebagai sebuah keberuntungan, berkat Alan, penyiksaan terhadap dirinya berhasil terhentikan.


“Jika kalian menyentuh wanita ini lagi … aku tidak segan-segan memotong anggota tubuh kalian,” jelasnya, sambil menatap batang pisau yang ia angkat tinggi ke langit tersebut.


Akan tetapi, tiba-tiba Alan merasakan ada sesuatu yang mengikuti mereka dari belakang. Ya, Arley yang berlari cukup kencang untuk mengejar kereta bertenaga empat kuda tersebut, saat ini sudah sangat dekat posisinya dengan kereta kuda itu.


“Kalian semua! Persiapan pertempuran!” Sontak, Alan langsung berdiri dari kursinya, dan memberikan peringatan kepada keempat rekannya yang lain.


Kuda pun secara tiba-tiba berhenti berlari. Alan beserta keempat temannya yang lain, langsung tersungkur di dalam kereta kuda mereka, dan menindih satu sama yang lainnya.


Kondisi cukup gelagapan saat itu, mereka berlima masih berusaha bangkit dari posisi saling menimpa. Dan ketika Alan sudah mendapatkan keseimbangannya kembali, saat itu juga dirinya segera melompat ke depan kereta kuda.


Lantas, pada saat Alan sudah berada di luar kereta kudanya, berdirilah seorang anak berambut merah, dan tampak menghadang kereta mereka untuk berjalan lebih jauh dari posinya saat itu.