The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 223 : Legenda & Penyesalan (Part 2).



Not Edited !


Segalanya tiba-tiba berubah menjadi gelap. Langkah kaki menjadi kaku, dan napas menjadi sesak. Kebingugnan langsung melanda kedua belas orang yang hadir di ruangan hampa itu, namun mereka masih berusaha berpikir jernih untuk mencari solusi.


“A-apa yang terjadi?” tanya sang penyihir cahaya. Saat situasi berbuah sangat cepat, dirinya menjadi sedikit panik, dan ia langsung berusaha melepaskan genggaman tangannya terhadap kunci yang ia genggam itu. Akan tetapi, entah mengapa, kunci itu tak dapat di lepaskan dari tangannya. Tertempel erat, layaknya bagia dari tubuh sang pemiliknya sendiri. “Eh?! EH?! Mengapa tidak bisa di lepas!?” teriak sang penyihir cahaya, dengan suara cukup lantang.


Tentu saja hal itu membuat kesebelas orang lainnya menjadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini. Kejadian itu sangatlah cepat terjadi, menyadari jika ada sesuatu yang tak beres, seorang penyihir wanita yang bernama, Rena Pilumar, yang merupakan ketua Guild dari kerajaan [Atargatis], langsung merapalkan mantra airnya, yang mampu menghidupkan sedikit cahaya, untuk menyinari sekiarannya.


Mantra itu sangat efektif. Seketika itu juga seluruh orang bisa kembali melihat, walaupun jarak jangkaunya tidak terlalu jauh.


Lalu, ketika ruangan dapat kembali terlihat, tiba-tiba Radits Tomtom berteriak hebat saat melihat kondisi sang penyihir cahaya. “Holsom!” pekiknya dengan panik.


Seluruh orang langsung menatap ke arah sang penyihir cahaya, yang ternyata adalah Holsom. Seorang pria, yang nantinya akan menjadi perdana menteri negeri [Palanita].


Tubuh sang pria tampak begitu kurus, badanya terkulai di lantai dengan tatapan memohon bantuan.


Tak mempedulikan sekitarnya lagi, tiba-tiba seseorang pria lainnya langsung berlari, dan dengan begitu cepatnya ia mendorong sang pria, agar dirinya terlepas dari kunci hitam tersebut, tetapi pedang itu tak terlepas dari tangan Holsom. Demikian sang pria memiliki fiasat, jika harus ada orang lain yang menggantikan sang penyihir cahaya untuk menjadi tumbal dari pedang terkutuk itu.


Pria itu memiliki rambut berwarna hitam, dan retina berwarna ungu. Dengan cepat ia menggenggam pedang hitam itu, menggunakan tangan kanannya. Dan dugaan sang pria tepat sasaran, dengan gagah beraninya ia menggantikan sang penyihir cahaya, untuk menerima kutukan dari pedang hitam tersebut.


Terjatuhlah sang penyihir cahaya di atas lantai ruangan, dalam kondisi terpingsan.


Kontan, terdengar pekikan yang sangat keras dari sang pria yang menggantikan Holsom. “Gyaaaa!” Pekik sang pria sejadi-jadinya. Tubuhnya kejang seperti tersengat listrik, rambutnya mulai berubah warna, dan retinanya perlahan menunjukkan gradasi yang aneh.


Lagi-lagi, kejadian ini berlangsung dengan sangat cepat, kesepuluh orang lainnya hanya terpaku menatap apa yang sang pria lakukan. Namun, muncul seorang wanita yang menyadari jika kondisi sang pria sedang dalam masa bahaya.


“Hexa!” pekik si wanita berambut putih, sembari ia memeluk tubuh sang pria, dan mencoba menarik tubuhnya agar terlepas dari pedang hitam itu. Tetapi tak ada perubahan, yang ada malah tubuh sang pria merasakan sakit yang semakin jadi.


Kemudian, muncul lagi seorang wanita dengan perangai yang sangat cantik dan jelita. Dirinya dengan cepat langsung menggenggam pedang terkutuk itu, dan saat itu juga dirinya menerima penderitaan yang terbagi, dari apa yang sang pria terima.


“Aaaaaa! Euggh!—” teriaknya sejenak, lalu sang wanita berusaha menahan sakit yang di derita.


Melihat hal itu, sang wanita berambut putih langsung tah bisa berbuat apa-apa, dirinya hanya terjatuh duduk di lantai, sembari ia melihat keduanya menderita menahan sakit. “Sh-Sharile …?” gumam si wanita berambut putih, yang kala itu menyadari identitas dari sang wanita.


Si wanita sekilas melihat ke arah sang wanita berambut putih, lalu ia sedikit tersenyum tulus dan berbisik sedikit kepadanya. “A-aku tak apa-apa … Allyzabeth,” gumamnya, sambil menahan perih yang tiada duanya.


Kondisi sudah terbaca jelas oleh kesembilan anggota lainnya. Mereka semua langsung bersiap-siap melompat ke pintu itu, untuk membantu Hexa, dan Sharlie. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat kencang, untuk menghentikan penyelamatan itu.


“Berhenti! Kalian semu, cepat lari dari depan pintu itu!” pekik sang ketua kelompok yang menyadari sesuatu hal.


Seketika itu juga, langkah kedelapan orang lainnya langsung tertahan, mereka sejenak melihat ke wajah sang ketua kelompok, lalu mereka kembali menatap menuju pintu raksasa itu.


Betapa terperanganya mereka, ketika sebuah asap hitam pekat keluar dari dalam sela-sela pintu, yang tampak secara perlahan terbuka secara otomatis.


Kondisi semakin kalut, tada empat orang yang berdiri di depan pintu, satu orang tengah dalam kondisi pingsan, dan dua lainnya menderita perih yang tiada tara, sebab kutukan kunci yang menyerang diri keduanya.


“A-Allyzabeth!” panggil sang pria yang perlahan warna rambutnya berubah merah itu. Sang wanita pun terkejut saat dirinya di panggil oleh orang yang ia cintai. Lalu masuk sebuah perintah yang tak dirinya duga. “B-Bawa Holsom pergi dari temapt ini!” ucapnya dengan suara yang kesusahan. Sejenak, sang wanita ingin menolak, air mata pun mengalir dari kedua kelopak matanya. tetapi sebuah kata-kata yang di ucapkan oleh sang pria, langsung membuat dirinya harus menjalankan perintah itu. “Aku … mohon!” Pertegasnya dengan senyumah tulus.


Seketika itu juga, sang wanita lagsung menggendong Holsom, dan melarikan diri menuju pinggir ruangan.


Kondisinya sangat terdesak, dalam waktu yang singkat, sebauh ledakan langsung terjadi dari depan pintu itu. Kontan, kesepuluh orang yang berhasil melarikan diri, langsung melompat menuju ruangan bawah tanah untuk menghindari ledakan yang begitu menggelegar.


Kabut hitam langsung menutupi ruangan yang memang sudah gulita, asap yang tercium begitu busuk langsung menghinggapi di paru-paru orang yang berada di sana. Kondisi sudah kembali tenang, kesepuluh orang yang berhasil melarikan diri kedalam pintu bawah tanah, tampak selamat dengan luka yang tidak terlalu parah, kecuali sang penyihir cahaya.


Namun, mereka bersepuluh masih belum mengetahui kondisi pasti dari, Hexa dan Sharlie. Setelah suara ledakan hilang, mereka bersepuluh langsung keluar dari ruang bawah tanah, dan berlari menuju ketempat perkara. Walaupun saat itu mereka sudah menggunakan sihir penerang yang di rapalkan oleh, si penyihir wanita dari negeri [Atargatis], tetapi mereka masih belum bisa melihat dengan jelas, sebab tebalnya kabut.


Kabut pun perlahan memudar, pandangan mereka secara serentak mulai membaik. Tepat di hadapan mereka, kesepuluh orang itu tak sengaja melihat ke arah pintu yang tadinya tertutup rapat, namun kali ini sudah terbuka lebar dan menampakkan cahaya yang begitu terang.


Mereka bersepuluh secara bersamaan langsung menghentikan langkahnya, mereka hanya menatap kagum ke sisi dalam ruangan itu, walaupun mereka tak tahu apa isi di dalamnya. Mereka hanya terkagum, sebab sebuah cahaya kuning yang terlihat begitu benderang keluar dari dalam ruangan itu.


Sejenak, Radits Tomtom menyadari jika ruangan sudah mulai kembali normal. Pandangan mereka sudah kembali netral dan kesepuluh orang itu dapat melihat dengan baik. Dan saat kesepuluh orang itu melihat ke arah depan ruangan bercahaya tersebut, mereka mendapati dua orang sedang berada di depannya.


Salah satunya tampak sedang terbaring kaku, dan satunya sedang terduduk lemas—memegaing dada dari orang yang terkapar itu.


Kesepuluh orang itu kembali berlari menuju ketempat dua orang tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka, saat menyadari, jika tangan kiri dari sang pria, telah terpisah dari tubuhnya.


“Hexa …?!” secara serempak, kesembilan orang yang melihat kejadian itu langsung memanggil nama dari sang pria yang terkapar. Sedangkan sang penyihir cahay hanya bisa menatap kusut orang yang terbaring di hadapannya. Ya, Holsom sudah kembali tersadar beberapa waktu yang lalu.


Bersusah payah Sharlie merapalkan mantra sihirnya, ia berusaha keras menyambung bagian tubuh sang pria. Beruntungnya, Sharlie adalah orang yang sangat bertalenta dalam sihir penyembuhan. Berkat dirinya, bagian tangan kiri Hexa mampu kembali tersambung.


Akan tetapi, sebuah perubahan yang sangat ganjil, terjadi pada tubuh mereka berdua. Ketika itu, saat tangan Hexa telah terhubung kembali, dirinya pun langsung tersadar, dan ia langsung bangkit dari pingsannya. Sharlie berusaha menghentikan sang pria, karena dirinya masih belum benar-benar pulih dari sembuhnya.


Namun, tiba-tiba wajah Sharlie langsung terperanga, saat dirinya melihat mata Hexa, beserta rambutnya. Sharlie baru menyadari, jika rambut Hexa telah berubah warna menjadi merah, dan retina matanya menjadi hijau.


Begitu juga denga Hexa, dia langsung terperanga ketika melihat kondisi Sharlie, Rambut panjangnya berubah menjadi ungu, dan matanya berubah warna menjadi hijau.


Apa yang terjadi di antara keduanya?! Dan apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Juga, apa isi di dalam ruangan itu?


Bersambung !


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------