The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 186 : Gerbang Ketujuh!



Not Edited!


Tangan Arley berusaha untuk menggapai batu raksasa itu … tetapi Sophie dan Aurum menahan tubuh sang remaja, agar dirinya tidak bertindak ceroboh lagi.


“Hentikan! Jangan paksakan dirimu lagi! Aku mohon, Arley!” cakap Sophie yang sudah tak tahan melihat kondisi Arley.


“Arley, aku mohon, hentikan segala hal yang ingin kau lakukan. Jika kau memaksakan diri lebih dari ini … aku mohon, Arley …!” ujar Aurum yang membantu Sophie untuk meyakinkan Arley.


Walaupun kedua gadis ini telah memberikan rasa kasih mereka kepada Arley … dengan sendirinya tubuh Arley ingin bergerak ke tempat batu itu berdiam teguh.


Pikirannya semakin kebas, begitu juga dengan seluruh tubuhnya. Arley sudah tak merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Hanya satu hal saja yang ingin ia capai, yaitu menyentuh batu raksasa tersebut.


Bangkitlah ia berdiri dengan kedua kakinya. Setiap tarikan napas yang Arley ambil di dalam ruangan itu, dirinya merasakan jika ada aliran [Mana] yang sangat murni, merasuk dalam tubuhnya, menjadikan energi tambahan yang Arley sendiri tak ketahui hal apa itu.


Misterius … seluruh hal yang terjadi di ruangan ini sangatlah misterius ….


“A-Arley?!” tak mampu menaha tubuh Arley yang bangkit dari duduknya, pelukan hangat Aurum dan Sophie kepada Arley, langsung terbuka akibat tak kuasa menahan pergerakan sang remaja.


Dengan langkah yang terbata-bata, kaki Arley menepik secara perlahan, melangkah menuju batu raksasa yang terpahat di tengah ruangan.


Pada moment itu … seluruh warga yang telah tiba di ruangan misterius ini, mereka langsung menatap fokus ke tengah ruangan.


“O-oi … apa yang anak itu akan lakukan …? Mengapa di bawah kota [Lebia] terdapat ruangan rahasia seperti ini?! Ah, tidak hanya itu! Lihat, ruangan apa ini?! mengapa ada batu raksasa di tengah ruangan?!” cakap seorang warga yang cukup penasaran dengan seluruh kejadian ini.


Masyarakat yang berasal dari barisan paling belakang pun, langsung masuk dan memenuhi ruangan misterius ini dalam hitungan menit.


Bisa di perkirakan jika ruangan ini memiliki lebar lima ratus meter persegi, atau bahkan lebih dari itu. Masyarakat tidak perlu bersempit-sempitan lagi seperti ruangan sebelumya. Dengan leluasa mereka menjelajahi ruangan misterius sembari menyentuh segala hal sesuka hati mereka.


Amylia, Aurum, Sophie, dan Helena … mereka berempat tak mampu membendung rasa penasaran masyarakat. Maka dari itu, mereka berempat memilih membiarkan warga kota untuk melakukan hal sesuka mereka, asalkan seluruh warga tetap dalam kondisi tenang.


Setelah puas melihat seluruh lokasi pada ruangan ini. Pandangan warga kota, saat itu secara bersamaan memandang ke tengah ruangan.


Mereka menatap batu putih yang ukurannya sekitar lima meter, dan lebih condong ke bentuk telur di bandingkan bundar.


Masyarakat tidak hanya fokus melihat ke tengah ruangan sebab batu itu saja. Akan tetapi, mereka semua menatap Arley yang tengah menempelkan dahi kepalanya pada batu putih tersebut, sembari kedua tangannya memeluk batu itu dengan hangat—dalam kondisi terdiam dan tak berbicara sama sekali.


“H-hey … anak itu baik-baik saja kan …?” cemas karena Arley tak bergerak sedit pun, seorang warga mencoba mencari tahu kondisi dari remaja yang beridam diri di tengah ruangan. Lalu, dalam beberapa saat kemudian, dirinya langsung terdiam secara total.


Ketika itu … tiba-tiba seluruh mata masyarakat memandang fokus pada satu titik. Mata mereka memandang lurus ke tengah batu putih tersebut, yang ketika itu, tampak memancarkan cahaya hijau dari dalamnya.


Tak sepatah kata pun keluar dari mulut jutaan warga kota. Mereka hanya tercengang dengan mulut sedikit terbuka. Tidak terkecuali Aurum, Amylia, Helena dan seluruh regu tim penyelamat.


Tiba-tiba … di dalam kesunyian yang hampa … terdengar bisikan seorang remaja dengan notasi nada yang ganda.


“Wahai Pemilik Semesata … Saya telah datang ke tempat ini, sesuai dengan coretan takdir yang telah Engkau catatkan. Datang untuk membuka pintu ketujuh, dari keenam pintu yang telah engkau singkapkan. Pintu terakhir, sebelum segala kebohongan terbongkar dari akarnya. Pintu paling pungkasa, sebelum keburukan dunia lebur, sebab ke Agungan-Mu,” gumam Arley, tanpa ia sadari.


Pada momen ini … saat matahari baru saja muncul dari ufuk timur. Tiba-tiba, sebuah cahaya lain masuk ke dataran bumi [Soros].


Cahaya yang memecah langit, dan menggetarkan bumi, bahkan sampai menusuk tanah, menembus segala hal demi menyinari peninggalan terakhir dari sebuah peradaban.


“Apakah bocah itu berhasil melakukannya?!” ucap Lenka, yang ketika itu tengah menahan gigitan monster, dengan menggunakan sebatang kayu. Sedangka dirinya menatap langit, dengan senyuman kemenangan.


Di saat seluruh warga terlihat ketakutan kala bumi bergetar, Arley dengan sangat bersungguh-sungguh telah hanyut dalam doanya.


Teriakan orang di sekitarnya sudah tak dapat ia dengar. Walaupun ketika itu atap di atasnya telah terbuka lebar akibat gempa bumi yang terjadi beberapa waktu yang lepas, diri Arley masih tak tergoyah dari syahdunya pujian.


Masuklah sinar emas itu menyinari Arley, beserta batu yang ada di depannya. Cahaya hijau yang berkedip di tengah batu itu pun, semakin gemerlap memancarkan cahaya intinya.


“Maafkan aku, Aurum … Sophie …,” ujar Amylia yang sebenarnya tak tega menarik mereka berdua dari orang yang mereka kasihi. “Jika kalian bersama Arley! kalian bisa tertimpa batu! Aku tidak akan membiarkan itu!”


“Apakah kau tidak peduli dengan Arley?! Bagaimana jika dirinya yang terhantam batu …?! Aku kecewa denganmu, Amyliaa!” teriak Aurum yang marah besar saat dirinya di tahan mendekati Arley.


Tetapi, Amylia malah semakin mendekap kuat Aurum, tak akan membebaskan sang wanita berambut coklat untuk mendekatkan dirinya ke tempat Arley berada.


Di lain pihak, Helena yang menyadari akan suatu hal. Dirinya terbang dengan sangat perlahan, mendekat ke pundak Arley, lalu duduk padanya, sembari ia ikut berdoa, dengan menggenggam kedua tangannya.


Arley yang menyadari kehadiran Helena, tampak sedikit melirik ke bahunya sembari tersenyum kecil. Lalu, setelah ia mengetahui siapa orang yang duduk di pundaknya kala itu, Arley kembali memejamkan matanya.


Posisi Arley pun ikut berubah, ia mundur satu langkah ke belakang, lalu ia duduk pada satu kakinya, sedangkan kaki kanannya, menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.


Segala hal yang Arley lakukan saat ini, dirinya tidak mengetahui mengapa ia melakukan hal itu, hanya saja, tubuhnya bergerak dengan sendirinya.


Terpejamlah mata Arley, untuk membuat dirinya lebih khusyu pada ritual terakhir. Kemudian, kedua telapak tangannya saling menggenggam untuk memulai doa penutup.


“Wahai Pemilik Semesta … Aku serahkan raga ini hanya untuk mengabdi kepada-Mu. Jiwaku, Akalku, juga Hartaku … semuanya hanya untuk menjunjung tinggi ke Agungan-Mu …,” tutur Arley dengan lembut.


Gempa semakin menjadi. Namun, doa yang Arley panjatkan bisa didengar oleh seluruh orang yang berada di ruangan tersebut. seluruh warga yang menyaksikan kejadian itu, langsung duduk pada kedua kakinya, dan mereka langsung ikut memanjatkan doa bersama dengan Arley. Begitu juga dengan Amylia, Aurum, dan Sophie.


Anehnya, bahkan Lenka yang berada di luar sekalipun, bisa mendengarkan doa yang Arley panjatkan. Juga dengan Misa, Rubius dan Eadwig yang berada di ruangan sebelah, mekera bertiga juga bisa mendengarkan doa Arley.


Tiba-tiba kesenyapan terjadi. Gempa langsung berhenti, dan segalanya menjadi tenang.


Ya … ketenangan yang tejadi, sebelum catatan sejarah kembali tercipta, di depan mata seluruh warga ibu kota [Lebia].


Bersambung! ~


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -