
not Edited !
Ketika itu … dirinya tak tersadar jika air matanya kembali terjatuh dari kantung pengelihatannya. Sejenak, Arley mengusap wajah pucatnya itu, yang tampak basah akibat linangan butiran perasaan.
“Ah …?” cakap Arley, yang dirinya sendiri tak tahu, jika ternyata ia sedang menangis.
“A-Arleyy?!” Paman Radits yang melihat reaksi Arley, langsung panik dan tak tahu harus berbuat apa.
“Aa! Ayah membuat kakak Arley menangis! Boo boo! Ayah gak kereen! Boo boo!” ucap Emaly, yang menggoda sang ayah.
“Arley …! jika kalimatku ada yang salah! Aku memohon maaf!”
“Tidak paman … hanya saja … aku tak tahu harus berkata apa. Aku tak tahu perasaan apa yang tengah aku rasakan saat ini …,” utas Arley, sembari ia menatap telapak tangannya yang tergenang air mata, sembar ia tersenyum melihat air tersebut.
Menyadari jika Arley menangis karena bahagia, Paman Radits merasa bersyukur, Arley menangis bukan karena tak mau menjadi bagian dari keluarganya.
“Bukankah senyumanmu itu sudah membuktikan apa maksud hatimu?” jawab si paman, sembari ia merogoh sesuatu dari kantung bajunya, dan ia menampilkan benda itu kepada Arley.
Tampak sebuah cermin, yang memantulkan wajah Arley padanya. Terlihat senyuman pada pipi Arley, wajahnya merah merona seperti lambang sebuah kebahagiaan.
“Apakah aku bisa menganggap ini sebagai jawaban positif?” tanya sang paman kepada sang remaja berambut merah.
Lantas, Arley menganggukkan kepalanya sembari ia mengusap air matanya.
“Yaaay! Emaly punya kakak laki-laki!” teriak Emaly sembari ia langsung memeluk kaki Arley yang panjang.
“Ohh! tapi sayang ayah kepada Emaly akan tetap sama loh!” Ketika itu, Paman Radits langsung memeluk hangat Emaly dalam dekapannya. “Oh ya! kalau begitu … mulai saat ini, namamu adalah, Arley Tomtom.”
“Tomtom …?” tanya Arley.
“Ya! Margaku adalah Tomtom,” jelas Paman Radits. “Emaly Tomtom, dan Arley Tomtom. Aku harap kalian berdua bisa saling akur dan saling melindungi ya.” Bergeraklah kedua telapak tangan Paman Radits, mengarah ke kepala Arley dan Emaly.
Arley kembali tersenyum saat kepalanya di elus oleh sang paman.
“Kalau begitu … mulai saat ini, aku harus memanggilmu dengan panggilan apa …?” tanya Arley dengan wajah polosnya.
“Hmm … Ayah?” jawab sang Paman.
“Eeee …,” Ejek Arley yang terlihat enggan memanggil sang pedangang dengan panggilan yang ia sarankan.
“Hahaha … kalau begitu, kau ingin memanggil aku apa?” tanya sang paman kepada Arley.
Arley pun terdiam sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan si paman.
“Paman … Radits?” ucap Arle yang ternyata tak mengubah panggilan dari si paman.
“Ahh … sepertinya panggilan itu adalah yang paling cocok. Baiklah, mulai saat ini panggil aku sesukamu!”
Setelah segalanya tersusun dengan baik. Perjalanan merekapun kembali berlangsung. Perjalanan yang cukup panjang untuk bisa mencapai tujuan yang amat jauh.
Ketika malam … mereka tinggal di satu tenda, memakan makanan yang sama, dan meminum minuman yang bisa menghangatkan diri.
Saat Pagi tiba … Mereka memburu buruan yang tampak di depan mata mereka, Mau itu King Boar, atau pun Massive Bear, juga TriHorned Deer … segalanya mereka lawan, berkat kekuatan super gila Arley.
Perjalanan yang penuh dengan kasih dan tawa. Tak tampak kesedihan di antara mereka selama perjalanan ini berlangsung.
.
.
.
***
.
.
.
Saat ini … dua minggu, dan empat hari telah berlalu, semenjak pertama kali Arley ditemukan oleh Paman Radits dan Emaly, di pinggir lembah yang tak bernama.
“Akhirnya kita saampaaaai!” teriak Paman Radits yang kala itu berhasil melihat sisi selatan dari tembok kota [Dorstom].
Jarak mereka masih cukup jauh dari lokasi kota [Dorstom], sekitar setengah hari lagi barulah bisa mereka sampai padanya.
“Itukah Kota [Dostrom] yang paman maksudkan …?” tanya Arley sembar ia mengeluarkan kepalanya dari sela-sela tirai pengemudi.
“Benar, Arley! dalam waktu setengah hari lagi kita bisa sampai di sana. Tapi … aku rasa jika kita paksakan untuk bergegas ke sana sekarang juga, yang ada kita kehabisan waktu untuk memasukinya. Jam malam bukanlah waktu yang bijak untuk memasuki kota itu.”
“Apakah kita tidak boleh masuk ke dalam kota itu, jika waktu malam sudah tiba?”
“Mereka punya regulasi yang ketat, jika pedagang kecil seperti kita ingin masuk di waktu malam hari, biaya yang akan kita keluarkan akan sangat besar.”
Puas dengan jawaban yang ia inginkan, Arley kemudian menganggukkan kepalanya sembari ia kembali masuk ke dalam kereta kuda.
Saat itu, Emaly tampak tertidur di tengah-tengah ruangan kereta, yang pinggirannya tersusun kotak-kotak barang dagangan. Sejenak Arley melihat wajah tidur Emaly, sebelum akhirnya ia melangkah keluar untuk mempersiapkan tenda penginapan.
“Kita menginap di sini kan, Paman Radits?” tanya Arley kepada sang paman.
“Iya! Tolong siapkan tenda penginapan ya, Arley!” Dari posisi depan, sang paman mulai menggeserkan kereta kuda mereka agar tidak menghalangi jalan.
Bergegas Arley mengeluarkan kotak perkakas yang biasa sang paman gunakan untuk menyimpan perlengkapan berkemah.
Setelah Paman Radits selesai memarkirkan kudanya di pinggir jalan, saat itu juga sang paman membantu Arley menyusun tenda dan membuat api unggun.
Dalam waktu sepuluh menit, mereka berdua berhasil menyusun segalanya seperti hal ini adalah suatu pekerjaan yang sudah bertahun-tahun mereka lakukan.
“Tampaknya kau sudah terbiasa dengan kebiasaan ini ya, Arley?” puji sang paman kepada Arley.
“Aku senang membuat api paman … berkat korek ini, segala hal menjadi mudah.” Jawab Arley yang hanya fokus dengan api.
“Tapi bangunan tenda yang kamu buat juga sama rapinya kok, aku salut kepadamu Arley, kau orang yang cepat mengerti segala hal.”
Mendengar pujian dari Paman Radits, Arley hanya tersenyum sembari menyodok-nyodok api unggun untuk memperbesar kobarannya.
“Selamat malam Emaly,” sapa Arley kepada sang adik.
Latas, Emaly menatap wajah Arley dengan penuh tanda tanya.
“Aa- … kenapa Aku bisa berada di dalam tenda, bukankah aku tadi tidur di dalam kereta?” tanya Eamaly kepada Arly.
“Paman Radits yang mengangkatmu kedalam tenda,” jawab Arley sembari ia menunjuk tempat di mana Paman Radits tengah memasak.
Melihatlah Emaly ke sebelah kiri tenda, sekitar lima meter dari tempat tenda tebangung, di sana terdapat batu yang tersusun khusus untuk memasak.
Mencium aroma nikmat dari tempat masak, perut Emaly lagsung berbunyi, dan lurnya mulai keluar.
“Emaly larap …,” gumamnya sambil merangkak keluar dari dalam tenda.
Ketika itu, duduklah Emaly di sebelah Arley. tubuhnya yang mungil kelihatan sedikit kedinginan sebab udara malam yang tak bagus untuk tubuh mudanya.
“Apakah kau kedinginan?” cakap Arley sembari ia mengelus kepala Emaly.
“Umm … entah mengapa dari tadi pagi … suasananya sangat dingin …,” jawab Emaly yang wajahnya tampak memerah.
Ketika itu, saat Arley tengah mengelus kepala Emaly yang tampak lemas … tak sengaja Arley merasakan hangat dari tubuh Emaly. Sontak Arley langsung terkejut ketika dirinya menyadari jika suhu tubuh Emaly sangatlah tinggi. Seketika itu juga ia mengangkat Emaly dan mendekapnya di dalam jubah putih yang ia kenakan.
“Paman! Ini gawat!” teriak Arley yang saat itu juga dirinya bangkit sembari menggendong Emaly yang tampak sakit.
Saat Paman Radits melihat wajah Emaly yang memerah dan napasnya yang tersedak-sedak. Ketika itu juga sang paman mengetahui jika Emaly sedang mengidap demam tinggi.
“Emaly!” teriak sang paman sembari ia berlari ketempat Arley, dan meninggalkan masakannya.
Apakah yang akan terjadi dengan Emaly? Dan akankah dia baik-baik saja?!
Bersambung!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -