The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 130 : Wafatnya Amylia?



    Kondisi berubah menjadi hening. Embusan angin bercampur debu membubung tinggi naik ke atas langit. Saat itu, tubuh Misa telah tergeletak kaku di alun-alun Arena Stadion, bagian Utara.


    Masyarakat yang tadinya melarikan diri ke luar Arena, berkumpul mengerubungi tubuh seorang wanita, demi menyaksikan diri Misa yang terlihat tidak berdaya—tak mampu menggerakkan sebiji sendi pun.


    Bagaimana dengan kondisi Arley? Ia terdiam membisu dari dalam lapangan pertandingan, tongkat sihirnya masih mengarah ke lubang raksasa, yang dari sihir petirnya tadilah lubang besar itu tercipta.


    Tepat di samping kanan bawah lubang raksasa itu, terdapat lubang kecil seukuran tubuh manusia. Lubang itu terbentuk akibat hempasan tubuh Misa—setelah menabrak dinding bangunan tersebut.


    Perlahan tangan Arley terjatuh, napasnya mendesau kelelahan. Alhasil tubuh Arley terbaring ke depan sembari warna bajunya kembali menjadi putih.


    Rambutnya yang berwarna merah terpampang jelas di hadapan masyarakat. Mereka mengintip masuk ke dalam lobang kecil untuk mengetahui sebab mengapa Misa bisa terbujur kaku seperti itu.


    Namun yang mereka dapatkan adalah tubuh Arley yang terbaring kaku di tengah lapangan Arena.


    “Arley!” lantas, Eadwig dan Rubius langsung berlari menuju lokasi dimana sahabatnya tengah terkulai lemas.


    Mereka perlahan membangkitkan tubuh Arley yang tengah dalam kondisi babak belur. Darah mengucur dari setiap goresan luka, ini tidak baik—jika tidak segera ditindak Arley akan kehilangan nyawanya.


    Beranjaklah mereka berdua langsung menuju lokasi dimana Amylia berada. Rubius menggendong Arley, sedangkan Eawdig memikul Amylia. Kemudian, selepas mereka berdua berhasil mengambil angkutan, berlarilah mereka berdua dengan kecepatan tinggi menuju Tim Medis.


    “Cepat bawa mereka ke sini!” salah seorang Tim Medis yang sebelumnya sempat merawat Arley, langsung menyiapkan peralatan medisnya; demi merawat Arley kembali.


    Ketiga Tim Medis itu langsung mengubrak-abrik isi tas mereka dan mencari peralatan yang ingin digunakan.


    Selepas Rubius dan Eawdig menggeletakkan Arley dan Amylia di lantai, Tim Medis langsung memeriksa kondisi tubuh mereka berdua.


    “Bagaimana detak jantung mereka?” ucap salah seorang Tim Medis yang terlihat paling tua. Ia adalah Ketua dari Tim Medis tersebut.


    “Untuk Arley masih berdetak normal,” ucap salah seorang dari mereka yang parasnya paling muda.


    Namun temannya yang satu lagi masih terdiam membisu menatap kejur tubuh Amylia—yang terdiam pejal.


    “Lody!? Bagaimana keadaannya?!” teriak sang Ketua Tim Medis.


    Dengan tatapan tegang, sang perawat bernama Lody itu pun—menatap bingung ke arah sang Ketua Tim.


    “I-ini gawat ketua … j-jantungnya berhenti berdetak!”


    Sontak seluruh orang yang sadar dan berada di tempat tersebut langsung berdiri tertegun sembari melompat langsung ke tempat Amylia berada.


    “Tidak mungkin! Kau pasti pemula!” bentak Eadwig dengan kepanikan yang memuncak, “hey kakek tua! Coba kau yang periksa!”


    Bergegaslah sang Ketua Tim Medis, memeriksa kondisi Amylia dengan Stetoskopnya. Terkejut, ia juga tak mendengarkan detak jantung Amylia.


    Seketika itu juga ia langsung melakukan pertolongan pertama untuk mengembalikan detak jantung Amylia.


    Terus dan terus, sang Pria Tua itu memompa dada Amylia dengan begitu kencang, bahkan jika ia menekannya lebih kencang sedikit lagi—tulang dada Amylia pasti akan patah.


    Setelah berpuluh kali ia melakukan hal tersebut, sang Pria Tua kembali menempelkan Stetoskopnya ke arah jantung sang Wanita. Namun ia langsung menggelengkan kepalanya.


    “Adakah orang yang dekat dengan wanita ini!?” teriak sang dokter untuk meminta pertolongan.


    Majulah Eadwig ke hadapan sang dokter.


    “Aku minta tolong untuk dirimu meniupkan sedikit udara, dan sebanyak mungkin energi『Mana』, pada tubuh wanita ini!” perintah sang ketua Tim Medis dengan penuh ketegangan.


    Tak berlama-lama, Eadwig lagsung melakukan apa yang sang dokter perintahkan.


    Mengecuplah kedua bibir sang kekasih dengan begitu pilu. Eadwig tak menyangka jika ciuman pertama mereka harus dalam kondisi seperti ini. Tubuhnya bergetar, Eadwig terus berdoa dalam hati demi keselamatan sang kekasih, "Ya Tuhan! Tolong jangan engkau ambil dulu nyawa wanita ini!," doanya dengan penuh kekhusyukan.


    Kembalilah sang dokter memompa tulang dada Amylia dengan kencangnya, lalu ia beberapa kali mendengarkan detak jantung Amylia yang tak kunjung berdetak.


    “Lagi! Tiup lagi!” teriak sang dokter yang tapak mulai panik.


    Mereka melakukan itu sebanyak lima kali. Sampai Akhirya sang dokter mengambil kesimpulan; bahwa Putri dari Kerajaan『Atargatis』ini telah tiada.


    Napasnya terlepas lelah. Kemudian sang Pria Tua mencoba mengatur napasnya dengan menelan ludah, “Maafkan aku … aku sudah melakukan hal yang terbaik, tapi ….” Semuanya tampak hening.


    Mereka tak menyadari jika jasad Amylia yang di sana—sudah tak memiliki rohnya lagi.


    “A-apa yang kau kataka-“ tampak Eadwig ingin meneriakkan kesedihannya. Namun hal itu tertahan oleh bangkitnya Arley dari pingsan.


    “Kau terlalu prematur dalam mengambil kesimpulan … Pak Dokter,” ucap Arley sambil ia memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


    Seketika itu juga—Arley bangkit dan berjalan menuju ketempat Amylia terbaring, “Hey Rubius, tolong pinjamkan tongkat sihir hadiahmu yang tadi,” pinta Arley terhadap Rubius.


    Saat itu Arley hampir terjatuh, lantas Rubius langsung menangkap Arley dan memikulnya sampai ke dekat tubuh Amylia. Setibanya di sana, Rubius memberikan Arley tongkat sihir yang tak sempat ia gunakan tadi.


    Belum sempat Rubius memberikannya secara baik-baik kepada Arley—kala itu Arley langsung merampas tongkat sihir tersebut untuk menghemat waktu.


    Sejenak Arley mencoba merasakan suhu tubuh Amylia, ia memegang leher Amylia untuk mengetahui sampai tahap mana kondisi Amylia saat ini.


    “Bagus, kau melakukan hal yang benar Pak Tua,” ucap Arley sembari ia merangkak menuju ke bagian perut Amylia.


    Tercengang, sang dokter tampak tertarik dengan apa yang Arley akan lakukan, “Apakah kau benar-benar bisa mengembalikan nyawanya?!” ucap sang dokter dengan penuh rasa keingintahuan.


    “Ya, tentu saja. Lagipula—nyawa Putri cerewet ini belumlah lepas. Lihat suhu tubuhnya, jika tubuhnya masih hangat—itu berarti sang induk raga masih mengandung nyawa” ucap Arley bersambut geliat yang cukup aneh.


    Langsung Ia melepas jubah putihnya tersebut sembari berusaha naik ke atas tubuh Amylia. Kala itu, Arley belum sanggup banyak bergerak—tetapi karena kondisi sangat genting, Arley harus memaksakan dirinya.


    Seketika itu juga Eadwig meniupkan napasnya pada mulut Amylia, sesekali ia mencoba untuk mengalirkan energi『Mana』, seperti yang sang Dokter Tua tadi sempat ucapkan.


    Namun Arley menyadari satu hal. Ya—ia sadar jika Eadwig tidak memiliki cukup energi『Mana』untuk mengembalikan kestabilan pada tubuh Amylia, yang notabenenya, Amylia adalah penyihir dengan kualitas『Mana』 yang sangat besar.


    Sontak, Arley mengarahkan tongkat sihirnya ke arah jantung Amylia. Lalu—perlahan ia menusukkan ujung tongkat sihir tersebut, sampai menyentuh ke lapisan paling luar dari jantung sang wanita.


    “Apa yang kau lakukan!?” teriak Perry dengan penuh kepanikan. Lantas Ketua Tim Medis langsung menjulurkan tangannya untuk mencegat Perry.


    “Diam, dia lebih paham dari kita semua!” ucap sang Pak Tua dengan penuh penghayatan.


    Setelah Eadwig meniupkan seluruh napasnya ke paru-paru Amylia, saat itu juga Arley mentransfer energi『Mana』 yang ada pada diri sang remaja, menuju ketubuh sang Putri kerajaan『Atargatis』tersebut.


    Menyala! Tampak sekeliling tubuh Arley dan Amylia berkilap layaknya lampu lentera pada malam hari. Ketujuh orang yang menyaksikan hal tersebut—tampak begitu terkejut ketika menyaksikan kejadian unik itu.


    Tiba-tiba—tongkat sihir Arley berdetak layaknya; dentuman Metronome*\,* yang mengikuti ritme suara utama.


    Seketika itu juga Amylia langsung memuntahkan darah dari mulutnya, dan beberapakali ia terbatuk seperti napas sang wanita kembali merasuk dalam raganya.


    “Ah, syukurlah …,” Arley kemudian mencabut tongkat sihir berwarna cokelat tersebut dari dalam dada Amylia. Namun belum selesai, Arley kemudian merapalkan sebuah mantra yang sangat ia hafal.


    “Lux Sanator~”


    Lantunnya dengan suara pelan. Lalu ujung tongkat sihir yang mengeluarkan cahaya putih tersebut—langung Arley sentuhkan pada bekas luka yang ia buat saat mencoba menyelamantkan nyawa Amylia barusan.


    “Huwa!” serentak seluruh orang yang menyaksikan hal tersebut tertegun bingung dengan keajaiban yang mereka lihat.


    Tubuh Amylia yang sebelumnya berjejal dengan lebam dan luka, saat itu juga ia beranjak sembuh layaknya Amylia baru saja dilahirkan kembali seperti sedia kala.


    Resonansi cahaya yang menyinari tubuh Amylia perlahan memudar. Dengan begitu lembut, mata Amylia lambat laun terbuka dengan penuh kebingungan.


    “A-aku … apa yang terjadi …?” ucap Amylia yang tak menyadari apapun pada sekitarnya. Sekilas ia melihat tubuh Arley tengah berada di atas perutnya “A-arley …?” sebutnya dengan suara parau.


    Namun tiba-tiba badannya terbanting ke sebelah kiri Amylia. Sebelum raga Arley menghantam dinginnya lantai, sang Dokter Tua langsung menangkap tubuh si remaja dengan penuh rasa hormat.


    “T-terimakasih …,” ucap Arley yang hampir kehilangan kesadaran.


    Mata sang dokter berkaca-kaca. Tak mampu menahan rasa sedih pada dirinya, mengalirlah air mata itu dengan deras.


    “Apa yang kau katakan. Setelah aku melihat semua keajaiban itu, seharunya aku yang mengatakan hal tersebut ... Dokter Arley Beneditc,” ucap sang dokter sembari ia mendekap tubuh ramping sang remaja.


    Begitu juga dengan Eadwig. Dengan perasaan cemasnya ia langsung mendekap Amylia dengan emosi campur aduk.


    “H-hey, kau membuatku malu …!” Amylia berbisik di kuping Eadwig dengan wajahnya yang memerah layaknya udang rebus.


    Namun Eadwig tak mempedulikan ucapan sang wanita pujaan hati, ia hanya menyembunyikan wajah sedihnya sembari mendekap Amylia dengan rasa syukur yang tak terhentikan.


    “Syukurlah! Syukurlah …!” gumamnya dengan pelan, namun Amylia dapat mendengarkan ucapan Eadwig. Lantas Amylia ikut kembali memeluk Eawdig dengan penuh rasa kasih sayang.


    “Terimakasih Eawdig, sayang,” ucap Amylia yang bangga akan sang kekasih hati.


    Orang-orang yang memperhatikan kejadian tersebut—demikian ikut meneteskan Air mata dengan kelapangan dada pada jiwa mereka. Tidak itu Rubius, Aurum, Perry, ataupun ketiga Tim Medis lainnya.


    Mereka semua ikut merasakan kebahagiaan yang Eadwig dan Amylia telah capai.


    Tetapi semua kebahagiaan ini, adalah ketenangan sebelum gelombang badai tiba.


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!