
Ramai, lain dari hari-hari biasanya. Entah apa yang telah terjadi, tetapi keramaian ini bukanlah hal yang baik menurut Arley, pasti ada suatu hal yang sedang terjadi.
"Ibunda Terra!?" kata-kata itu tanpa sadar terucap dari mulut Arley, karena beliau lah orang yang paling Arley khawatirkan saat ini.
Ia pun berlari menuju pintu masuk, tetapi warga desa tidak mau memberikan Arley jalan.
"Minggir! aku mau masuk," saat sedang berdesak-desakan, seseorang tanpa disengaja menyiku kepala Arley hingga tubuh mungilnya tersungkur ke tanah.
Sambil menahan rasa sakit, Arley dengan cepat berpikir untuk mencari jalan lain. Tak lama kemudian ia teringat bahwa Gereja ini memiliki pintu depan dan belakang. Bergegaslah dirinya langsung pergi menuju pintu belakang!
Arley gunakan otot kakinya yang mungil itu untuk berlari sekencang-kencangnya, pasir dan tanah mengepul naik ke atas akibat jejakan kaki Arley yang menepik beigtu cepat.
Tak berapa lama kemudian, Arley sampai di lokasi tujuan. Untungnya tak ada satu orangpun yang tahu keberadaan pintu belakang ini. Karena mereka tidak menyadari adanya lokasi ini, Arley langsung saja bergegas masuk dan mencari ibundanya.
Pintu belakang adalah pintu untuk masuk ke dalam dapur, ruangan ini berada tepat di sebelah ruang makan. Jika ingin ke ruang makan, kita harus membuka satu pintu lagi untuk bisa masuk ke dalamnya.
Tentu saja dengan tergesa-gesah Arley langsung masuk dan membuka pintu ruang makan.
Dari ruangan makan, lokasi ini bisa terhubung langsung ke lantai dua yang merupakan kamar istirahat Arley dan Ibunda Terra berada, dan juga di lantai dua ini, ada pintu yang terhubung ke perpustakaan Gereja.
Sedangkan, kalau kita tidak naik ke lantai dua, tepat di depan pintu ruang makan, ada sebuah pintu yang saling berhubungan antara ruangan makan dengan aula Gereja.
Kala itu, Arley merasa jikalau Ibunda Terra sedang berada di aula Gereja. Karena hal tersebutlah, Arley langsung bergegas masuk ke dalam ruang aula.
Tanpa pikir panjang, ia melabrak pintu dengan paksa hingga pintu aula terbuka lebar. Kemudian, dirinya melirik dengan lincah untuk mencari dimana ibundanya saat ini berada.
"Ibunda!?" teriak Arley dengan kondisi jantung yang berdebar, keringat bercucuran, dan nafas tak beraturan.
"-Ahh! Arley! dari mana saja kamu!?" tampak Ibunda Terra tengah dalam kondisi terkejut dan marah.
"-Eh ...?!" Arley terheran-heran, sepertinya ia sedang dalam kondisi yang tak menguntungkan di sini.
Lalu, saat itu juga—Ibunda Terra langsung berlari ke arah Arley dengan emosi yang tidak terkontrol, sampai-sampai dia tidak mempedulikan sekitarnya.
"Malam tadi aku mendapatkan pesan dari Paman Ordley kalau kamu menginap di rumahnya. Aku kira kamu kenapa-kenapa! sudah sangat malam kok tidak pulang-pulang!"
"E-eemm, a-anu bu ...."
"Untungnya Paman Ordley mengirimkan surat, aku sangat bersyukur ternyata kamu tidak kenapa-kenapa! -eeh tapi dari pagi sampai siang aku menunggumu—malah kamu tidak pulang-pulang! kamu dari mana saja Arleyyyy!"
Tegas Ibunda Terra dengan matanya yang berkaca-kaca sambil menaruh tangan kanan dan kirinya di pinggul—serta dengan ekspresi wajahnya yang kesal, tengah menatap Arley yang baru saja menghadap dirinya.
Ditambah lagi suara ibunda menggema di dalam Gereja, suasana menjadi hening seketika, walaupun jika di lihat dengan saksama—banyak anak-anak dan orang dewasa sedang berkumpul di aula ini.
"Ehkem!"
Dari depan podium ada seseorang yang menegur mereka berdua.
"A-ah?!" Ibunda Terra tampak terkejut dengan situasinya saat ini. Sekilas—jika diperhatikan, sepertinya orang-orang yang berada di dalam Aula Gereja ini—sedang melakukan sebuah ritual yang sangat penting.
"Apakah sebenarnya aku sedang membuat kerusuhan? jika iya maka aku sudah melakukan sebuah tindakan yang fatal!" gumam Arley dalam hatinya—dengan penuh kepanikan.
"M-maafkan kami yang mulia Uskup Agung," ibunda meminta maaf sambil merunduk beberapa kali.
"Hahaha tidak apa-apa, silahkan kembali ke tempat masing-masing," seorang Uskup yang terlihat sangat tua tersenyum melihat ke arah Arley dan Ibunda Terra. Lalu ia mempersilahkan mereka berdua—kembali ke tempat yang seharusnya.
"Ibu apa yang terjadi-" Arley mencoba bertanya, namun belum selesai kalimat yang ia rangkai terucap, kalimat tersebut langsung dipotong oleh Ibunda Terra.
"Cepat berkumpul dengan anak-anak yang lain, nanti selepas ini akan Ibunda ceritakan," dengan nada tegas Ibunda Terra menegur Arley.
Ibunda Terra lalu menyeret Arley berdiri di barisan anak-anak, kemudian ia kembali berdiri di antara pendeta yang kemungkinan besar mereka semua berasal dari luar desa.
Sang Uskup pun kembali berceramah di atas mimbarnya. Arley benar-benar dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
***
Pria yang tengah berceramah di atas mimbar tersebut—tampaknya adalah pria yang sangat penting dan salah satu orang yang berpengaruh di negeri ini.
Terlihat dari perawakan beliau yang tampak sudah sangat tua. Juga hal itu bisa dilihat dari penampilannya yang ringkih, jenggotnya yang panjang menutupi baju, bahkan pria ini sangat cocok jika dipanggil kakek buyut.
Sang Uskup mengenakan baju putih dengan lengan bajunya yang sangat panjang—jika tidak dilipat, kedua tangannya akan tertutup oleh bajunya sendiri.
Lalu kakinya terselimuti dengan kain bajunya yang menjuntai sangat panjang ke belakang, kurang lebih sebenarnya sang kakek ini mengenakan baju penyihir yang dihiasi dengan ornamen ke Uskupan.
Ditambah, ia memakai topi kuncup seperti para penyihir.
Sang Uskup memegang tongkat yang lumayan besar, mungkin sekitar dua meter lebih. Tongkat itu sangat mencolok, warnanya yang keemasan menjadikan orang yang memegangnya terlihat sangat berwibawa.
Sesaat Arley berpikir bahwa tongkat itu adalah tongkat sihir, tetapi ia ragu akan hal tersebut, ia berfikir, "Mungkin itu hanya tongkat penopang biasa," gumamnya untuk melepas rasa penasarannya.
"Baikalah, saya akan mengulanginya sekali lagi—tentang tujuan saya mengumpulkan saudara-saudara sekalian di rumah Tuhan yang mulia ini."
Sang Uskup berpidato di mimbar yang tampak berbeda dari biasanya, mimbar Gereja menjadi sangat bersih, sepertinya Ibunda Terra membersihkan semua ini sebelum sang Uskup datang.
"Saat ini, telah diperintahkan kepada kami semua—para pendeta, kesatria dan juga penyihir kerajaan—untuk menyampaikan pesan yang akan kami sampaikan beberapa saat lagi," jelas sang Uskup dengan lugasnya
Ketika sang Uskup sedang berbicara—tak sengaja Arley mendengar celotehan dari anak-anak yang berada di sekitarnya.
Mereka semua merasa risih dengan keberadaan Arley di sini, ada yang menghina—bahkan meminta Arley untuk segera mati.
Tetapi Arley tidak mempedulikan semua hal itu, iua hanya berusaha untuk mendengar ceramah dari sang Uskup.
Untungnya, tak berapa lama kemudian—mereka kembali diam dan fokus pada apa yang sang Uskup sedang terangkan.
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!